Mozaik Kanon: Ingatan, Wejangan, dan Senyuman

Pagi cerah, terbit mentari
Sekuntum bunga berwarna biru
Salam bahagia dari Tim Redaksi
Senyum manismu mekarlah selalu

Salam bahagia untuk teman-teman bilfest.id yang budiman. Sekuntum syukur senantiasa kita hirup agar semangat tak mudah redup. Dalam mozaik kanon kali ini, kita dipertemukan dengan cerpen dari Luthfiana Izzaturrohmah yang berjudul “Satu Hari di Caridea”, kemudian puisi-puisi dari penyair Yogyakarta, Maria Utami yang terbingkis dalam “Pesta di Rumah Duka dan Puisi Lainnya”, serta segelas puisi sajian Abdul Wachid BS yang dapat diseruput dalam “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 9)”. Ketiga karya tersebut ngelayab di bilfest.id sejak 4 dan 5 April 2026.

Ketiga karya tersebut semacam permen rasa-rasa yang biasa dipakai sebagai alat kembalian (jujulan) ketika uang lima ratus perak sedang kosong. Sebagaimana permen, ketiga karya fiksi ini membawa nilai dan temanya masing-masing. Keberagaman rasa inilah yang membuat kami semakin tertarik, terpacu, dan terpicu untuk menayangkan karya-karya dari teman-teman. Sengaja tidak adanya pembatasan tema maupun gaya kepenulisan secara spesifik dari kami, supaya penulis lebih leluasa untuk bereksperimen mengolah kata.

Ingatan dalam Satu Hari di Caridea

Membaca cerpen Satu Hari di Caridea sebenarnya bisa kita dapati banyak insight mendorong (sudah biasa menarik, sesekali mendorong) untuk kita ambil pelajaran. Namun jika dibingkis secara minimalis dalam satu kata, cerpen ini menyoal tentang “ingatan”. Menggambarkan ingatan tentang sesuatu yang sifatnya fluktuatif, mudah untuk timbul tenggelam. Seumpama styrofoam dalam kecamuk ombak lautan. Penulis menampilkan cara kerja ingatan yang walau kejadian sudah terlampau lama, namun kenangannya bisa tinggal lebih lama dalam ingatan.

Cerpen ini dibungkus dengan tema roman. Tentang kisah cinta seorang penulis (Clarida) dengan kekasihnya (Billes). Ditulis melalui sudut pandang lelakinya, Billes. Diawali dengan perjumpaan di dunia maya yang kemudian pertemuan di dunia nyata. Pada akhir tahun, Clarida mengunjungi Billes yang berada di Caridea. Dijemputnya oleh Billes di Stasiun Caridea. Hanya tujuh jam saja mereka bersama di Kota Caridea. Menunaikan ritual temu kangen dan sejenisnya. Bagi Billes, meski hanya tujuh jam saja bersama di dunia nyata, tapi ingatan tentang Clarida bercokol lebih lama dari sekadar tujuh jam, sampai ia memiliki kesimpulan Pertemuan mungkin selesai di dunia nyata, tapi tetap hidup di ingatan kita.

Di sisi lain, cerpen ini juga menyiratkan bahwa dalam sebuah hubungan, dia yang memutuskan atau meninggalkan juga sebenarnya merasakan kesakitan. Yang merasakan sakit atas putusnya suatu hubungan, bukan hanya yang ditinggalkan tapi juga yang meninggalkan. Hal ini terjadi pada Billes. Ia yang meninggalkan Clarida, ia pula yang pertama-tama merasakan sakitnya. Sakit ketika kenangan indah tentang Clarida menghantam seumpama rudal dan peluru yang membombardir dirinya.

Wejangan dalam Pesta di Rumah Duka dan Puisi Lainnya

Menelan butir-butir puisi dalam Pesta di Rumah Duka dan Puisi Lainnya karya Maria Utami, kita seperti sedang menikmati sebuah wejangan (ajaran). Terdiri dari lima puisi: Resi Tanam, Ritual Minum Teh, Peliharaan di bawah Lidah, Pesta di Rumah Duka, dan Orang yang Kau Anggap Kalah. Masing-masing puisi tersebut dalam kandungannya terdapat sebuah wejangan yang bisa diambil oleh siapa saja yang membacanya. Dalam hal ini, penulis sedang menunaikan praktik mauidhoh hasanah bil puisi.

 Ada salah seorang penyair Yogyakarta punya Segelas Teh Tanpa Gula, sedang Maria Utami punya Ritual Minum Teh. Dalam puisi berjudul Ritual Minum Teh, kita diajak menyeruput sebuah wejangan tentang muhasabah diri. // Setiap pagi kau menyeduh teh di dadamu. / Tapi aneh, / kau mengaduknya bukan dengan gula, melainkan dengan cuka. / Kau meminumnya sendiri dengan rakus sampai kembung, / sambil berharap tetangga sebelah yang sakit perut //. Kita sering melihat orang lain dengan kacamata negatif. Hal ini yang membuat kita mudah untuk berlaku iri, dengki, dan bahkan benci.

// Sudahlah. / Bunga di kebun orang tetap mekar meski kau cemberut. / Sedangkan kau? / Kau layu di potmu sendiri, / mati lemas disiram air keras yang kau racik sepenuh hati. //. Sebagai manusia kita mesti khawatir jika hidup kita hanya fokus melihat pencapaian orang lain, kesuksesan orang lain, membandingkan diri dengan orang lain, dan malah tidak fokus terhadap diri kita sendiri serta potensi kita. Rumput sendiri juga bisa hijau dan asik kok. Sedang rumput tetangga, meski kelihatan hijau ataupun lebih, belum tentu asik juga.

Senyuman dalam Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 9)

Masih dalam series puisi Abdul Wachid BS, kali ini kita sampai pada episode Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 9). Rupanya sudah sembilan pekan kita ditemani puisi-puisi beliau dalam setiap minggu pagi. Bagi penikmat dan pemerhati rubrik puisi di bilfest.id semoga kalian senantiasa dalam lindungan-Nya dan diberkati ketabahan dalam menanti sajian series puisi dari beliau, Abdul Wachid BS.

Menuju Cahaya yang Tak Terlihat, Tersenyum Pada Hari Esok, Peluk yang Terlambat Tapi Nyata, Waktu yang Kini Bersahabat, dan Sakit Adalah Lembayung yang Membuka Gerbang merupakan puisi-puisi yang berperan dalam episode Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 9). Puisi-puisi ini hadir kepada pembaca untuk dinikmati dengan saksama dan dalam tempo secukupnya. 

// Sayang, / esok bukan hanya waktu, / ia adalah gaun baru / yang ingin kau kenakan / dengan hati yang wangi //. Senyuman dalam puisi Tersenyum Pada Hari Esok bisa diartikan sebagai sebuah harapan. Hati yang wangi adalah hati yang tersenyum-penuh harapan. Ada ujar-ujar yang berbunyi, “Lebih baik hidup sehari dengan penuh harapan daripada seratus hari penuh dengan keputusasaan.” Hari ini kita boleh jatuh, gagal, pahit, namun harapan untuk hari esok senantiasa kita seduh. // Jangan takut, / bibir hari ini boleh pahit, / tapi matahari esok / mungkin belajar mencintaimu lebih dalam / dari malam yang selalu lupa mendoakanmu //. Semoga kita senantiasa full senyum dan full syukur.

Tabik,
Tim Redaksi 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top