Pesta di Rumah Duka dan Puisi Lainnya

Resi Tanam

Tanah itu kasir yang amat jujur, Tuan.
Ia tak butuh saksi mata atau kamera pengintai.
Apa yang kau selipkan ke dalam saku tanah,
entah itu biji apel atau bangkai tikus,
akan ia simpan baik-baik dalam brankasnya yang gelap.

Jika yang kau tanam adalah angin yang sopan,
jangan kaget kalau nanti rumahmu diketuk oleh teduh.
Waktu itu petani yang sabar,
ia akan memerami niatmu diam-diam
sampai matang dan siap dihidangkan di mejamu.

Tapi ingat satu hal:
jangan iseng menebar paku di jalan orang.
Nasib itu bulat dan licin seperti kelereng;
apa yang kau sentil dengan amarah,
bisa memantul dan menghantam jidatmu sendiri.

Lebih baik sibukkan tanganmu menanam doa.
Agar nanti saat musim panen tiba,
yang kau petik adalah buah yang manis,
bukan sesal pahit yang bikin meringis.

Yogyakarta, Januari 2026

***

Ritual Minum Teh

Setiap pagi kau menyeduh teh di dadamu.
Tapi aneh,
kau mengaduknya bukan dengan gula, melainkan dengan cuka.
Kau meminumnya sendiri dengan rakus sampai kembung,
sambil berharap tetangga sebelah yang sakit perut.

Matamu sudah rabun oleh asap dapurmu sendiri.
Orang lain senyum kau kira mengejek,
orang lain napas kau kira menantang.
Kau sibuk mengukur baju orang lain dengan meteran rusak,
lalu marah-marah sendiri karena bajumu terasa sesak.

Kau ini sedang menyiksa diri atau hobi?
Menjadi karat yang sibuk memakan pagar rumahmu sendiri.
Kau lupa, nyawamu sedang hangus pelan-pelan.
Bukan dibakar api neraka,
tapi oleh kompor di kepalamu yang lupa kau matikan.

Lalu karena kesepian itu tidak enak,
kau mulai mengetuk pintu orang lain.
Membagikan brosur kebencian,
mengajak orang ikut memadamkan lampu
padahal matahari sedang bersinar terang-terangnya.

Sudahlah.
Bunga di kebun orang tetap mekar meski kau cemberut.
Sedangkan kau?
Kau layu di potmu sendiri,
mati lemas disiram air keras yang kau racik sepenuh hati.

Yogyakarta, Januari 2026

***

Peliharaan di Bawah Lidah

Di bawah lidahmu yang lunak itu,
ada kandang harimau yang sering lupa kau kunci.
Kau lepas kata-kata ke udara dengan gagah,
merasa langit itu tuli
dan angin cuma tukang sapu
yang akan membersihkan sampah suaramu.

Padahal semesta itu pencatat yang rajin.
Ia cukup duduk di pojok ruangan sambil ngopi,
mencatat setiap makian yang kau ledakkan.
Disimpan rapi dalam arsip awan,
menunggu tanggal mainnya untuk dikembalikan.

Lalu suatu pagi saat kau sedang santai,
suaramu sendiri datang mengetuk pintu.
“Permisi,” kata takdir sambil tersenyum tipis.
Dan kau kaget setengah mati,
melihat harimau yang dulu kau beri makan amarah
kini siap menerkam tuannya sampai habis.

Semesta tidak sedang jahat, kawan.
Dia cuma guru fisika yang mengajarkan hukum pantulan.
Apa yang kau teriakkan ke dinding nasib,
itulah gema yang akan pulang
untuk memecahkan gendang telingamu sendiri.

Mulai sekarang,
ajari mulutmu mengunyah melati, bukan belati.
Sebab kata-kata adalah benih yang punya kaki;
ia akan lari, tumbuh,
lalu pulang minta dipanen oleh pemiliknya sendiri.

Yogyakarta, Januari 2026

***

Pesta di Rumah Duka

Jangan menggelar pesta dangdut
di atas genteng tetangga yang baru saja roboh.
Tawamu mungkin nyaring hari ini,
tapi ingat,
kakimu sedang berjoget di atas lumpur air mata
yang belum kering betul.

Apa yang kau sebut kemenangan itu
cuma api unggun dari kayu basah.
Kau mencuri selimut
dari orang yang sedang menggigil kedinginan.
Kau merasa kenyang,
padahal sedang menelan doa-doa buruk
yang nanti akan jadi batu di ginjalmu.

Tuhan itu tidak tidur, Dia cuma sedang hening.
Dia melihat dengan jelas:
siapa yang tepuk tangan saat lampu mati,
dan siapa yang menari-nari
saat yang lain sedang sibuk menggali kubur mimpi.

Tawamu itu sumbang, kawan.
Seperti lonceng retak yang dipukul pakai palu.
Semakin keras bunyinya,
semakin orang tahu ada yang pecah di dalam dadamu.

Carilah bahagiamu di kebun sendiri.
Jangan maling kepunyaan tetangga.
Sebab senyum yang paling awet
tidak dibuat dari tangisan orang lain.

Yogyakarta, Januari 2026

***

Orang yang Kau Anggap Kalah

Kau duduk di kursi tinggi sambil memegang teropong,
sibuk mencari kutu di kepala orang yang diam.
Kau tertawa renyah,
merasa cacat mereka adalah sirkus terlucu sedunia.
Kau merasa besar seperti raksasa,
padahal itu cuma bayanganmu sendiri
yang melar kena matahari sore.

Kau lupa,
orang yang kau tunjuk-tunjuk jidatnya itu
tidak membalasmu dengan teriakan atau status di WA.
Dia memilih jalan sunyi.
Menunduk.
Bukan karena takut, tapi sedang menelepon Tuhan.
Mengirim pesan singkat langsung ke langit,
mengadukan perih hatinya tanpa pulsa, tanpa perantara.

Di sinilah kalkulatormu rusak.
Kau kira dia sendirian dan lemah,
padahal di belakang punggungnya yang ringkih,
berdiri “Bekkingan” Pusat yang Maha Melihat.
Yang tak butuh CCTV untuk tahu siapa yang curang.

Simpan saja sombongmu di laci.
Di pertandingan ini, kau sudah kalah telak (WO).
Lawanmu bukan lagi lidahnya yang kelu,
tapi Tuhannya yang tersinggung karena hamba-Nya kau ganggu.

Yogyakarta, Januari 2026

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top