Sayat dari Sang Pisau dan Puisi Lainnya

Janji Mimpi

Semalam ia menemukanku
Bukan… bukan ketika aku terlelap
Tetapi ketika mataku terbuka
Ketika menatap angkasa kelam yang bisu

Aku tak melantur
Ia yang berjanji akan datang dan menetap suatu ketika
Ia berjanji akan menjadi alasanku tetap hidup
Ahh… itukah alasan mengapa rasanya drum di dadaku bergetar lebih cepat

Bukan… dia bukan seorang pangeran
Dia adalah lamunan yang mengembalikan jiwa
Yang lagi-lagi membuatku percaya
Bahwa sinar bintangku akan kembali bercahaya

***

Tradisi yang Baka

Tapi musim telah berganti ribuan kali
Ruh bersilih mendatangi bumi, dan pergi lagi
Aksara yang menari di atas tal, kini hidup dengan digitalisasi
Dari riuhnya telapak kuda, ditukarnya menjadi materi berbesi
Ideologi yang kerap ubah, tetap menyumbang merah pada langit bumi pertiwi, dan
Sehebat apapun awan membungkam, sebesar apapun air menutupi
Ia tetap tak mampu menghapus ratap generasi

Ya, segalanya masih berputar dengan cara yang sama
Asa hidup menjadi boneka-boneka yang dicipta, dipahat masyarakat
Naluri bertahan bersama peran budak dari mata yang memandangnya
Gemar, bahkan ketika bumi menggemakan pengakuan langit dan pekik samudra

Bentangan jejak sejarah terus abadi dalam angin sebagai hembusan jiwa
Andai “penindas” tak disematkan pada pelaut yang datang, akankah nama sang pendekar abadi?
Kenyataannya, pendekar itu hanya mengulang sejarah dengan bodohnya
Akhir yang sama pula, lara lampau itu tak pernah benar-benar hilang dari rakyatnya

***

Secuil Nasi Di Bulan Ramadhan

Tersimpan semangkuk kaldu sisa sahur
‎Tanpa isian, tanpa hiasan, tanpa adanya tambahan
‎Tak lama lagi, seruan tuk mengakhiri shiyam segera dikumandangkan
‎Sedang meja masih kosong tanpa kudapan sedikitpun
‎Entahlah,
Bagaimana cara meredakan gemuruh perut ini
‎Pilu kian mencekik kerongkongan

‎Sementara, dalam batin seorang pengasih
‎Mempersilahkan kesucian murni
‎Menyodorkan meski hanya sejumput rejeki
‎Sepotong nasi, yang kemudian dibelahnya menjadi dua
‎Diberikannya bagian yang satu
‎Satu yang lain tetap menjadi milik tuannya

‎Angin menjadi saksi ketika itu
‎Atas cahaya lembut berkelebat penuh gelisah
Melewati lorong-lorong
‎Menyusuri sudut terkecil sekalipun
‎Di manakah tuannya bersemayam?

Sampai sepotong nasi yang telah menunaikan darmanya
Menenangkan lapar,
Suara surau pun menggema, menuntun,
Menunjukkan jalan pada cahaya lembut
Sampai, berjumpalah ia pada sang tuan

***

Sayat dari Sang Pisau

Tes … tes … tes …
‎Cairan kental merah itu berbondong-bondong keluar
‎Mungkinkah selama ini mereka terperangkap di dalam sana
‎Berteriak
‎Menggedor
‎Mengadu pada kepala

‎Ah, lagi-lagi aku tak bisa menahan jeritan mereka
‎Mereka terlalu memenuhi seluruh tubuh
‎Ragu,
‎akankah aku berterima kasih pada tuan pisau
‎atau meminta maaf pada tubuhku
‎Lagi-lagi aku kalah

‎Jadi seperti inikah
‎Padahal ucapan yang kudengar di kala kecil,
‎selalu bisa menenangkan luka
‎Kini mereka bertukar peran
‎Luka itu menjadi kiat terbaik,
‎untuk meredam suara yang secara terus-menerus menggema

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top