
Supaya lebih tandas membacanya, bacalah terlebih dulu:
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 1)
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 2)
Perjalanan dalam Bisu
Langit belum membuka suaranya
hanya angin kecil
menyisir daun-daun kenangan
di jendela yang tak jadi kubuka.
Jalan itu seperti doa
yang pelan-pelan kutinggalkan
tanpa sempat mengucapkan “amin.”
Tak ada suara selain detak
yang kupacu sendiri,
seperti bisu yang tumbuh di dalam dada
tempat dzikir kehilangan kata
dan rindu menggigil
dalam tubuh waktu.
Aku berjalan tanpa alamat,
hanya arah pulang
yang samar
dalam kilau lampu jalan.
Lalu kuingat wajah-wajah
yang dulu memanggil namaku
dengan cahaya,
dan tiba-tiba malam terasa lapang
seperti dada
yang rela tidak dimengerti,
asalkan tidak dilupakan.
2023, 2025
***
Bayang-bayang Kekasih
di Pelabuhan Tua
Aku datang kepadamu
dengan langkah yang tertinggal
di antara debur ombak
dan perahu-perahu yang kehilangan tujuan.
Kau tahu,
dermaga ini telah menyimpan
ratusan bayang yang menolak dilupakan,
dan satu di antaranya adalah wajahmu
yang tak pernah rampung aku mengerti.
Setiap tali tambat
adalah doa yang putus di tengah laut,
dan burung camar
adalah kabar yang tak sempat kau kirimkan.
Aku berdiri di ujung dermaga
seperti lelaki yang kehilangan peta:
tangan terbuka,
dada terbakar,
namun laut tak memberi isyarat selain sunyi.
Kekasih,
kalau pun kau tak kembali
setidaknya ajarkan aku
cara mencintai tanpa menggenggam,
cara menunggu tanpa berharap,
cara mengikhlaskanmu
tanpa harus menghapus namamu
dari dinding dadaku
yang lembap oleh kenangan.
2023, 2025
***
Balada yang Tak Pernah Usai
Di pelataran malam
bulan menggantung di dahi langit
seperti rahasia yang lupa dilafalkan.
Seekor kuda putih menunggu
dengan mata berkabut dzikir,
dan di punggungnya,
bayangmu duduk membatu.
Aku mendengar angin menyulam namamu
di sela daun yang gugur tak rela,
dan pohon-pohon menyembunyikan desir
seperti doa yang ditelan tanah.
Jalan pulang
tak lagi berbentuk lorong,
tapi nyeri yang mengeram
di dada jam yang berhenti berdetak.
Kau pergi
bukan karena waktu
tetapi karena jarak tak lagi punya tubuh
untuk kita saling kembali.
Dan aku,
menuliskan rindu
dengan darah bintang
yang jatuh sebelum sempat bersinar.
Malam tak pernah genap.
Cinta tak pernah utuh.
Dan aku,
masih mengintipmu
dari bayang sujud terakhir
yang tak sempat kusempurnakan.
2023, 2025
***
Mawar yang Gugur sebelum Mekar
Di halaman malam
angin mengendap-endap membawa kabar
tentang kelopak merah
yang tak sempat mencium matahari.
Ia jatuh,
sebelum kumbang sempat berbisik,
sebelum cahaya sempat menamainya
sebagai cinta yang tumbuh dari debu surga.
Ibunya menjerit dalam sunyi
suara patah itu mengendap
di pelataran mimpi,
mengguncang gorden yang lupa ditutup doa.
Ayahnya menyalakan pelita
di sisi jendela,
sementara bulan,
diam-diam menyimpan tangisnya
di balik kelir kabut.
Mawar itu gugur,
bukan karena waktu,
melainkan karena rahasia
yang hanya dimengerti oleh langit.
2023, 2025
***
Langit Tak Menyapa Hari ini
Langit tak menyapa hari ini,
mungkin karena ia cemburu
pada matamu
yang lebih terang dari mentari pagi.
Awan menggulung rindu
seperti kau menggulung jarak
di ujung kerudung yang tak sempat kau pakai.
Dan angin,
angin pun kehilangan arah,
mencium sisa parfum
yang tertinggal di jemariku semalam.
Aku menulis namamu
di jendela berembun,
tapi embun lebih pandai lupa
daripada aku yang tak tahu
bagaimana cara melupakanmu.
Langit tak menyapa hari ini,
barangkali karena ia tahu:
di dadaku telah tumbuh semesta
yang tak membutuhkan matahari
selain suaramu
yang mengalir seperti doa
di sela senyummu yang patah.
2023, 2025
***
Abdul Wachid B.S. penyair yang lahir 7 Oktober 1966 di Lamongan Jawa Timur. Ia mendapatkan penghargaan tertinggi Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) pada 7 Oktober 2021 untuk buku esainya, Sastra Pencerahan (Penerbit Basabasi, 2020). Selain sastrawan, ia menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.




