Petualangan Kita dan Puisi Lainnya

Atlas Suara: Trilapis Tumbuh Balik (Kembali, Kembali, Kembali)

Inilah [sungai memanggilmu] {jam menolak detik} peta pertama yang kutarik dari
sunyi. Nama-nama kupancing dari sungai-sungai bekas hujan [yang tak punya
nama] {menit menguap}—mereka bergetar seperti benih.

Ia jatuh di tanganku dan enggan ditulis, [kembalikan namaku] {tunggu adalah
tangguh} bisiknya. Lalu pasar membuka lapaknya: ada yang menawar Cinta, ada
yang menimbang angin; [sebelum batu-batu jadi huruf] {waktu berdiri miring} di
timbangan.

Aku melawat sudut-sudut hutan dengan garis fajar [aku bukan parit] {pukul
kembali nol}. Hari bertanya padaku siapa yang hilang; [suara mata air] {hari
memutar wajah} jawaban datang dari bawah kening.

Bibirku mengikat seribu zikir pada satu nama, agar tak jatuh lagi; [jatuh jadi
benih] {kalender tercabut} dari dinding. Engkau—yang tak kukenal—menarik tali
dari langit, [jangan lupakan nyeri bantaran] {mulai sebelum selesai}, maka aku
ikut terangkat.

Napasku menjadi jembatan, [jembatan lahir dari air] {detik berjalan mundur};
pejalan-pejalan menyeberanginya sambil menyebutmu. Tanpa peta, kupahami
kota dari cara ia melupakan; [setiap lupa punya muara] {jam berkedip tanpa
angka}.

Barat kehabisan magnet; burung-burung pulang pada bau kampung basah,
[namamu bukan itu] {waktu menolak garis} kukubur sebuah kompas di halaman
yang dulu adalah kebun, [kembalilah ke lengkung] {hari datang tanpa urutan} dan
menunggu tumbuhnya arah.

[aku mengingatkan, tidak menagih] {hari tak jadi Jumat} di genggamanku. Aku
meraba bibir sungai yang kering dan menemukan huruf terakhir, [sebut aku:
Sungai Yang Belum Diberi Nama] {tahun berdiri di ambang} lalu kupasang
sebagai daun.

Rimbun pun terjadi: kata-kata berbuah peta, [dan kita mengalir lagi] {waktu
kembali alir} dan kota belajar mengingat. Untuk siapa semua ini? Untukmu yang
membaca berlapis: [dengarlah, asalmu bergerak] {sekarang saat membuka
jendela}—kembali, kembali, kembali.

***

Petualangan Kita

Dulu kita orang kota yang tersedak asap
dipagut dan dikejar waktu berdegap

terkurung dan linglung dalam kotak-kotak sempit
ikuti detak jam sampai syaraf pun sendi terjepit

tapi kini kita orangnya lega mengembang
langkah dan tawa terus sampai kubawa pulang

dari puncak bukit tempat segala hijau menggigit
sampai senja mengelap muka dan menganak sungai di pipi

Berkelitdanmendakidanmenerjangdanmembabi.

tapi kini kita orangnya dimabuk rumput sepi
berdiri dan bisa berderai menangis sendiri

kau dan aku binatang lepas terbuang dari kumpulannya
terkutuk dari hiruk kehidupan

Terasingmenujubeningpegunungan.

***

Cinta

sepuluh purnama kuberpaling muka
mengira cinta sudah sirna

menjelang ajal
mengira api sirna jadi abu

Kau memanggil, dari lipatan
waktu, tanah seberang gemilang

Kau datang seperti jari pengantin
lembut menunjuk jalan ke depan

dua sosok di kanvasmu menari
itukah kita kelak?

aku tak tahu
ajarkan aku cara jatuh cinta

aku cemas, aku cemas
dengan caraku mencintai

aku menyerah
Ambil aku. Miliki aku.

sebelum aku jadi pengecut lagi

malam ini, aku akan jatuh
Tangkap aku.

atau jangan?
Terserah, aku sudah melompat

***

Pacaran

Tegak seorang–mata menahan gemuruh,
Di sisinya teduh sejuk sehelai kerudung,
Lengan bertaut, sopan santun sungguh.

Tuhanku Engkau dekat dalam napas muda,
Jejak kami kau hamparkan di batu-batu nisan,
Selangkah getir, selangkah gembira,
Cinta kami layar–mengembang setia.

***

Boeng, ajo boeng!

Kehidupan, barangkali.
selalu sebuah perlintasan:
antara cinta yang patah
dan bilah yang tetap menajamkan waktu.

Dalam rak-rak kutemukan kawan
dalam senyum dara kutemukan jalan.
Buku-buku sebagai senjata,
kata-kata bagai peluru,
semua mengarah lurus pada masa depan.

Hei!
jangan cuma jadi penonton
api tidak diwariskan dalam bingkai,
api mesti dicuri,
disulut lagi.

Boeng. ajo boeng!

***

Nostalgia

Sebermula dari Pati,
Jawa Tengah berkabut.

Dari gang ke alun-alun,
Berita merambat seperti api,
Kota-kota meletus.

Korban-korban berjatuhan,
Sirine menggarami malam,
Jam-jam pecah seperti kaca.

Spanduk menjadi bahu,
Doa menjadi tandu,
Nama-nama mengangkat kami.

Langkah menyalin langkah,
Megafon berpindah napas;
Pagi meminjam matahari kedua kalinya

Sejarah bangkit, berputar seperti gasing
–revolusi mengendus bau solar dan peluh.

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top