Ketidakmungkinan yang Kusemogakan dan Puisi Lainnya

Jejak Waktu

Jejak waktu menyimpan tanda pada langkah,
Tawa yang bergema lalu larut dalam sepi,
Meninggalkan luka yang berubah jadi kisah,
Merekam pertemuan yang menghangatkan dada,
Serta perpisahan yang menjatuhkan sunyi.

Dari putaran detik yang tak pernah berhenti,
Aku belajar membaca bahasa yang ia titipkan
Bahwa perjalanan bukan hanya sampai di ujung,
Melainkan merangkai arti dari segala yang singgah,
Mengajari hati untuk tabah, untuk ikhlas,
Dan percaya bahwa setiap jejak
Adalah makna yang tak pernah hilang.

***

Sisa Cahaya

Di balik sunyi,
aku belajar mendengar yang tak terucap.
Bahwa diam bisa berkata,
tentang rindu, tentang luka, tentang yang belum sempat.

Langkah kecilku menembus sepi,
menyusuri jejak yang pernah pergi.
Tak semua kehilangan harus dicari,
kadang cukup diterima agar hati kembali.

Dan di ujung sunyi yang panjang itu,
aku menemukan diriku sendiri.
Bukan seperti dulu,
lebih tenang dan akhirnya mengerti.

***

Ketidakmungkinan yang Kusemogakan

Bentengmu terlampau menjulang,
dan aku tak selalu menemukan cara untuk mencapainya.
Perbedaan iman berdiri di antara kita
sebagai sesuatu yang tak bisa disangkal.

Tuhan tetap satu,
tetapi jalan yang kita tempuh bukan jalan yang sama.
Lalu harus bagaimana aku melangkah
ketika cinta tak pernah benar-benar ikut pergi?

Kita seamin namun tak seiman,
berbeda tapi berujar pada kata akhir yang sama.
Di setiap langkah, aku bertanya pelan
apakah kita salah,
atau hanya ditakdirkan bertemu, tanpa pernah menyatu?

Jika ada kehidupan lain,
lahirlah seagama denganku
datanglah tanpa takut,
dan cintai aku, sekali lagi.

***

Jejak yang Tak Tersalin

Ada langkah yang tak pernah sempat kurekam,
menghilang begitu saja di antara hiruk pikuk hari.
Namun dari jejaknya, aku tahu
ada hal-hal yang sengaja dititipkan dunia
untuk kita temukan tanpa sengaja.

Di tengah perjalanan yang tergesa,
aku belajar bahwa diam pun bisa menjadi rumah.
Bahwa diri sendiri kadang lebih setia
daripada apa pun yang pernah kupegang
dengan kedua tangan yang gemetar.

Dan ketika senja menutup langit,
aku mengerti sesuatu yang sederhana
bahwa waktu hanya berjalan,
tanpa benar-benar menyembuhkan.

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top