
Senandung Wajahmu
Kepada malam-malam
yang gelapnya menelan relung jiwa
Aku bersimpuh bersama seluruh kelembutan bintang
Hendak menyapa senyummu yang semanis cinta kasih
Namun aku tak sanggup menyapa kelembutanmu
Membuatku tampak mengambang
Di tengah lautan berbintang
Dan langit yang berombak
Aku ditelan kedinginan alam
yang mewujud ke dalam rupa tubuhmu
Memaksaku untuk bertanya
Dapatkah kau mencium aroma cinta kasih
yang bersumber dari kedirianku?
Di hadapan lautan tanya yang menuntut angin jawab
Aku hanya ingin memadu cakap
Beradu tatap dengan wajahmu
yang mengungguli keindahan abadi
Keabadian telah mengubah wujudmu menjadi perempuan
yang menjinakkan nyanyian alam
Denting bulan yang selalu hadir di tengah kegelapan malam
Memperdengarkan musiknya kepada seluruh kelembutan di wajahmu
Senyummu yang manis merangsang bulan menyinarkan cahayanya
Pada lautan kasih dalam ceruk jiwaku
Denting itu menggandeng seruling angin
yang menyapa pepohonan yang menumbuhan dedaunan suci
Demi membelai tubuhmu yang diberkahi langit
Sementara aku, di sini
Meratapi kepedihan jiwa yang mengirisku perlahan
Menyayat serbuk-serbuk jiwa yang sudah mengubahnya
Menjadi keping-keping air mata yang jatuh
Ke pangkuan lagu-lagu kasih yang nadanya
Perlahan menghilang
***
Tarian Alam
Embun pagi menari di atas dedaunan hijau
yang permukaannya mengkilap
Tanda rindunya kepada bayanganmu
yang lazim hinggap dalam jiwaku
Bulan sisa semalam sudah membersihkan dirinya
Demi menghadirkan senyummu
Dan nanar matamu
yang mengalir lembut menggurat sendu
Di atas wajahmu
Mentari siang ini menyapa pepohonan
Di samping tempat tidur
yang biasa kupakai
Membayangkan kehadiranmu
Yang aku tak tahu
Nasib bulan di malam nanti
Apakah sudi menggores cahayanya
Di antara malam-malam berbintang
Demi mengusap-dalam ombak rambutmu
Laksana ukiran kembang kenanga
***
Sambutan Taman Surga
Taman surga menumbuhkan bunga-bunga
Kuning, putih, hitam
Semua bersolek diri menyambut tubuh ayumu
Merayakan kedatangan wangi-wangian
yang terpancar dari bibir sendumu
Kulihat duri mawar menguncup
Malu dengan tubuh ayumu
yang melambai-lambai
Bagai bunga anggrek yang dibelai angin
Dan bunga padma yang dikecup cahaya mentari
***
Teratai
Sore menjelang malam
Aku dicekam wewayangmu
Mencuri dengar berisik kepalaku
Kau tampaknya ingin melongok sebentar
Ke balik bilik kesadaranku
Aku mencoba menjangkaumu
Sekadar menatap kedirianmu
Dan mendengar alunan senyum
yang menyanyikan lagu keindahan alam
Tapi kau laksana bunga teratai yang tampak bebas di permukaan
Tak disangka akarmu terjerambab ke dalam dasar air
Enggan menarik diri menjamah kasihku
***
Galih Ernowo Widianto lahir di Purwokerto, Banyumas pada 2004. Penulis mulai kepo dengan penulisan sastra. Saat ini ia tinggal satu kelurahan dengan kampus jenderal di kota tempat lahirnya. Ia dapat disapa melalui Instagram @galih.ernowo.




