Langkah Tak Pasti dan Puisi Lainnya

Benang Tak Terputus

Katanya,
tidak ada yang lebih tajam daripada belati.

Katanya,
tidak ada yang lebih rapuh daripada sehelai rambut dibagi tujuh.

Lantas aku seorang diri,
menyapa kepada kata
Aku bertanya kepada dinding rumah yang lembap,
kepada suara piring dari dapur,
kepada malam yang terlalu panjang.
Tak seorang pun tahu.

Tidak ada yang lebih berantakan
daripada kasih sayang
yang tumbuh tanpa cara untuk tenang.
Berdiri di anak tangga ketiga,
melihat semesta tercerai
dari suara-suara kecil
yang tak pernah benar-benar selesai.

Hanya aku dan ibu,
dengan amarah yang sama-sama diwarisi waktu.
Kadang kami saling melukai
melalui kalimat yang tak utuh,
melalui diam yang lebih nyaring
daripada pertengkaran itu sendiri.

Jakarta, 3 Maret 2025

***

Suara Bisu tentang Kamu

Kamu pilu,
di bawah langit abu-abu
tetap berdiri di dunia yang tak membantu,
meski doa-doa tak kunjung bertemu.
Ah, lagi-lagi begitu.

Tanganmu kasar bukan karena usia,
melainkan arang yang terus menyala.
Sedang mereka duduk tanpa rasa,
di atas rumah yang bukan miliknya.
Ah, terjadi lagi rupanya.

Pukul satu,
mata bengkakmu ditutup bedak murah.
Pukul dua,
riasan di wajahmu mulai punah.
Pukul tiga,
mereka berpura-pura buta dan pasrah.
Pukul empat,
tubuhmu kembali diperas seperti sapi perah.

Tentang rahim yang lebih dahulu dipenuhi sumpah,
Kamu berdarah namun tak pernah memilih menyerah.
Kamu meminta berjalan beriringan meski dunia gemar memecah barisan.
Kamu bukan pelengkap sunyi ruang tamu,
melainkan suara yang tak akan pernah bisu.

Purwokerto, 6 Agustus 2025

***

Selepas Tengadah

Saat pertama langkahku jatuh di kota asing yang cerah
Engkau hadir hingga aku tak kenal gundah
Lalu aku jatuh padamu sedalam-dalamnya tanpa celah
Enggan aku curiga pada rasa yang tumbuh merekah
Pada bait “Tengadahlah” yang kau buat dengan indah
Akankah namaku pernah kau sebut dalam tangan yang kautadah
Sementara bayang lama itu tak pernah musnah

Tempat kau singgah tanpa pernah berniat menghuni
Erat-erat kupegang percaya pada bayang sendiri
Namun hari ini langkahku gemetar menahan pergi
Gelisah tumbuh ketika sakit tak lagi bisa kusembunyi
Aku berdiri di simpang yang tak lagi kumengerti
Di antara berhenti atau terus menanti
Ada raga yang telanjur kau kuasai
Hingga kusadar semakin kucari makna semakin hilang arti

Purwokerto, 28 Februari 2026

***

Balada Pitung, Jago Betawi

Syahdan di Betawi yang riuh dan gerah
Di lorong kampung bertanah basah
Tumbuh seorang pemuda dari tanah gelisah
langkahnya tegak meski hidup tak ramah.

Bukan ia bangsawan bermahkota megah
Bukan pula tuan yang hidupnya limpah mewah
Ia anak rakyat yang dadanya sering gelisah
Melihat kaum lemah dipijak kuasa yang parah

Di bawah langit kota yang semburat merah
Orang kecil menanggung hidup dengan pasrah
Tangan tuan tanah menekan tanpa arah
Rakyat diperas hingga napas pun terasa payah

Namanya menjalar dari mulut ke mulut,
menyusup bersama angin malam yang kusut.
Bagi penguasa ia bara yang takut dipungut,
bagi rakyat kecil ia harap yang lama hanyut.

Meski tubuhnya jatuh ditembus malam,
kisahnya tinggal di kota yang muram.
Di pasar, gang, hingga warung yang temaram,
Ia tetap hidup dalam ingatan yang berdiam.

Purwokerto, 14 Maret 2026

***

Langkah Tak Pasti

Aku membangunmu dari sunyi,
Dari desir yang tak selesai di dada sendiri.
Menegakkan ruang-ruang sepi,
Lalu menamai seluruh gemanya dengan namamu berkali-kali.

Sedang kau,
Masih sibuk memungut cahaya dari langit yang lampau.
Masih memeluk riwayat itu erat-erat,
Seolah waktu tak pernah benar-benar lewat.

Aku hanya bunga yang tumbuh terlambat,
Di halaman yang telah lebih dulu kaurawat.
Yang datang setelah musim panjang,
Saat segala kelopak lain masih kautimang.

Di ambang pintu yang tak pernah utuh,
Aku memanggul rindu seperti tubuh.
Menahan gemetar yang tak selesai disebut,
Menjadi asing di antara kenangan yang kauturut.

Bagaimana mungkin aku bersanding,
Dengan nama yang kautaruh setinggi langit paling bening.
Sedang aku hanya catatan pinggir,
Yang tintanya pudar sebelum sempat ditafsir.

Ketakutanku bukan pada kehilangan,
Melainkan menjadi bayang-bayang dari kenangan.
Menjadi gema kecil yang tak pernah menang,
Di bawah cahaya yang terus kautuangkan.

Maka biarkan aku tinggal sebagai kabut,
Yang lewat perlahan tanpa perlu disambut.
Cukup menjadi luka yang kautahu pernah tumbuh,
Lalu luruh diam-diam di bawah singgasana hatimu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top