65 KM dan Puisi Lainnya

Terpaku dalam Diam

Ragaku mati oleh api
ini bara kuciptakan sendiri
terbakar tanpa henti
hanya abu yang jadi saksi

Bumi pertiwi menangis
luka menganga
perih tak habis-habis

Darahku panas tak berdenyut
tapi api hanya ingin aku lebur
kepulan dosa bau derita
tak ada yang sudi menemani
aku jatuh ke tanah tak berpenghuni.

***

Badai Yang Akan Merasuk

Kita terperangkap
mereka tertawa
dalam lingkaran yang terus-terusan
menebar kesengsaraan

Kami melawan meski tanpa senjata
mata-mata tajam dibutakan
kursi emas berpesta gila
yang kecil merangkak hampa

Di atas meja suara-suara lantang bergema
kertas penuh angka dan tanda tanya
yang kecil tak diberi nada
kita tahu, dan tidak diam.

***

Semoga Baik

Membebaskan pikat kalimat sederhana
secarik larik perihal kau baca saksama
seumpama pejalan dalam diam pohon cemara
aku bersumpah atas nama sengsara

Perihal isyarat mengkabung duka
tak bersuara terasa terkurung tanpa kata
hanya doa yang tertinggal berharap diterima
lepaskan aku dari belenggu makna.

***

Senja dan Hujan

Jika sampai tak kulihat wajahmu
bunga-bunga itu memupuk perasaanku

Kaudatang tak berkepastian
bola matamu menjadi rapalan
sukar meminta segera didoakan
agar senja dan hujan masih bisa cengengesan

Rintik-rintik hujan di jamak mata
mungkin nanti terbalas kering tiba-tiba
dan sisanya kuselipkan pada senja.

***

65 KM

Aku berdiri di atas debu
dirampas kegetiran
di atas tanah yang hilang
dihempas kesedihan

Di mana surga kecil yang dulu diperjuangkan
September hitam ditikam harapan
prihatin, orang-orang itu tak peduli
tampak lapuk gigih pun sedih.

Bukankah kita sama-sama dijarah
lantang yang pecah menganga
batu-batu jadi peluru dilumat nyawa.

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top