Setan-setan Berdatangan dan Puisi Lainnya

Sebelum Segalanya Berakhir

sebelum segalanya berakhir
aku ingin pegang kau punya tangan
yang di perempatan itu
tak sengaja kulepaskan
—atau kaulepaskan?

malam ini berderai sayang
dingin menjelang di luar
dan sesuatu pun menghilang:
terpejam dalam lampu
satu per satu
hingga padam seisi kota

dan kita dipaksanya menyerah
pada kehampaan yang membentang
sepanjang kelahiran

sebelum segalanya berakhir
aku ingin menyelami kau punya mata
yang dahulu ingin aku percaya
pada hari-hari matahari

Kebumen, Februari 2025

***

Pagi Itu Hujan Turun

pagi itu hujan turun
dari langit yang ranum
dan sepasang matamu
yang lupa akan tidur

selokan yang meluap
adalah semacam ingatan cinta
katamu, yang menyumbat
deras peradaban,
dan jalanan yang banjir
adalah semacam rasa getir
yang berdoa dalam lidah kita
ketika pemakaman negara

pagi itu hujan turun
dari langit yang ranum
dan sepasang mata bunga
yang tekun melamun

‘kan waktu yang mencair
dari suatu zaman es:
sungai-sungai mengalirkan
embun yang menetes
dari pucuk-pucuk daun pagi,
dan tiap rumah kembali
menyeduh segelas kopi

dan pagi itu hujan turun
dari langit yang ranum
dan sepasang matamu
bunga yang muda dan basah

Kebumen, Februari 2025

***

Ketika Kita Berpisah

ini hari cinta t’lah lari
ke utara sedang aku ke selatan
ke sebuah jembatan yang mempertemukan
kelok kenangan kita

barangkali darinya akan kutahu
kata pertama yang melahirkan
dunia, atau mungkin satu teriakan
yang kebetulan memerdekakan negara

tetapi, andai pun tak kutahu
setidaknya aku berjumpa waktu
yang fosil lagi meringkuk; memeluk
ci(n)ta yang bening dan purba

ini hari rindu t’lah pergi
ke timur sedang aku ke barat
ke suatu rumah yang merawat
senyum di wajah kita

barangkali akan kutemukan lagi
wajah yang kini jadi asing,
yang merah di bibirnya itu
mengantarku pada jawaban
mengapa tak juga aku melupakanmu?
—ketika negara begitu pelupa!

tetapi, andai pun tak kutemukan
setidaknya aku dapat kembali membaca
tawamu yang basah di sofa biru
depan televisi yang terakhir kali
menayangkan reformasi!

Kebumen, Februari 2025

***

Setan-setan Berdatangan

malam itu belum berakhir
ketika kau memilih enggan
berbincang denganku lagi
sebab katamu dari matakulah
setan-setan bermunculan;
merangsek pelukan; memecah
cinta kita yang suci dan merah!

bukan maksudku mengundang, sayang
melainkan tak lagi aku sendiri berdaya
menahan mereka punya serangan
ke ponsel-ponsel kita
yang penuh sesak akan kata-kata

dan mereka terus berdatangan
bagai angin yang badai
menghempaskan lilin kecil kita
ke tempat bulan padam

tetapi mereka yang muda itu
lagi berani memilih nyala terang
sebagai kawan, meski terbuang;
terlempar begitu jauh
dari hangat peluk seorang ibu

mari tambahkan sedikit lagi cinta, sayang
biar nyala ini berumur panjang
hingga dengan lantang kita kepalkan
tangan ke langit berbintang!

Kebumen, Februari 2025

***

Seandainya Aku Pulang

seandainya lewat tengah malam aku pulang
dan kudapati rumahku telah jatuh tenggelam
maukah kau membuka pintu rumahmu sayang
dan memberiku lebih dari cukup pelukan?

bakal kuceritakan nanti padamu hari-hari itu:
pagi yang membeku di sepucuk daun merah
juga jalanan yang tetiba saja menjadi abu
ketika senja dan kota mulai berdarah!

lalu sambil kuteguk segelas musim panas
yang susah payah kauseduh di dapur itu
barangkali di luar sedang hujan deras
dari langit kita yang biru selalu

namun, akankah aku benar akan pulang sayang?
sedang jalannya dari mataku menghilang…

Kebumen, Maret 2025

***

Setelah Kepergianmu

semula segalanya berjalan sebagaimana biasanya;
kau menulis kisah-kisah cinta yang khusyuk aku baca
di taman depan, sebelum akhirnya datang badai
yang menerbangkanmu ke puncak kata-kata;
meninggalkanku yang bahkan belum selesai
mengeja kalimat pertama.

kemudian, suatu hari, tiba-tiba para polisi menjemputku
sebab katanya aku terlalu gagu membalas cinta
yang diucapkan negara. gagu? bagaimana mungkin aku
tak gagu jika lidahku yang memutih bibirnya kau bawa
pergi ke meja pengadilan yang berdarah

hingga harus kujalani hari-hariku yang sisa sepi
dalam penjara, tanpamu yang sibuk menari bersama
para menteri, sedang aku, di sini, tenggelam
dalam ingatan mimpi kita yang bergairah

ya, suatu hari, kau ingat? kita pernah bermimpi
meski sesaat pada malam penghabisan
suatu mimpi tentang pagi yang lebih berani!

Kebumen, Maret 2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top