Katanya, Demi Kebaikan Bersama

Balada Slip Gaji

Tiap bulan slip gajiku seperti surat cinta
penuh dengan daftar potongan mesra.
Negara mengambil iurannya lebih dulu
sebelum sempat bertanya untuk apa dan mau ke mana.

Katanya, semua demi fasilitas bersama
jalan raya mulus serta taman kota ceria.
Tapi di sini jalan ke rumahku masih tersebar kubangan
dan satu-satunya taman adalah pot bunga di depan kontrakan.

Mungkin suatu hari nanti mimpi juga dikenakan pajak
dihitung per bunga tidur, dibayar saat mata terbuka.
Hanya helaan nafas yang barangkali masih gratis
itu pun mungkin hanya promo untuk hari ini.

Yogyakarta, 05 Agustus 2025

***

Sulap Uang Terselip

Aku menabung di bank dengan riang gembira
menitipkan masa depanku di rumah yang megah.
Setiap bulan kusambangi dengan setia
agar celenganku bertambah gagah.

Celaka, sepertinya di dalam tabunganku
ada tikus kecil yang tak pernah bisa kutangkap.
Namanya “Biaya Admin”, kerjanya menggerogoti saldo
katanya itu upah karena ia sudah menjaga dari siluman babi.

Aku membayar untuk menyimpan uangku sendiri
logika yang aneh, tapi semua orang melakoninya.
Bank ibarat tukang sulap paling hebat di negeri ini
bisa membuat uangmu berkurang, tanpa kau sadari telah dicuri.

Yogyakarta, 05 Agustus 2025

***

Timbangan Nakal

Di ruang sidang, timbangan itu katanya buta
tapi sepertinya ia bisa membaca tebalnya dompet.
Palu hakim yang diketuk bunyinya bisa berbeda
tergantung siapa yang duduk di kursi pesakitan pengap.

Pasal-pasal kini terbuat dari karet gelang terbaik
bisa ditarik ulur sesuai kebutuhan kolega.
Menjerat leher lalat dan nyamuk dengan apik
tapi selalu longgar saat dipakai oleh para tuan naga.

Hukum adalah labirin yang mewah
pintu masuknya untuk semua orang.
Sayang, pintu keluar hanya bagi mereka
yang sanggup membayar pemandu wisatanya.

Yogyakarta, 05 Agustus 2025

***

Putusan Akhir Bagi Gunung Lestari

Gunung-gunung di kampung diundang rapat
oleh para tuan berjas berdasi rapi dari ibukota.
Katanya, “Terima kasih atas pengabdianmu selama ini
waktunya kau pensiun dini demi devisa negeri.”

Pohon-pohon diberi surat PHK tanpa pesangon
sungai-sungai diberi tugas baru jadi tempat limbah.
Burung-burung diminta segera pindah alamat
mencari cabang lain untuk berkeluh kesah.

Katanya, nanti akan dibangun taman kecil sebagai gantinya
di halaman depan pabrik besar yang gagah perkasa.
Paru-paru kami ditukar dengan cerobong asap
agar di kota sana AC mobil mewah bisa tetap menyala.

Yogyakarta, 05 Agustus 2025

***

Katalog Mimpi di Gerbang Kampus

Kampus kini adalah toko yang menjual masa depan
dipajang rapi di etalase bernama “akreditasi”.
Setiap jurusan punya label harganya sendiri
Diskon khusus bagi yang berprestasi,
juga cicilan untuk mereka yang berani.

Setiap ganti menteri, kurikulum ikut ganti busana
buku paket seperti koleksi musiman yang wajib dibeli.
Mahasiswa bingung, kemarin belajar A besok belajar Z
bagaikan kelinci percobaan di laboratorium biologi.

Setelah lulus kami diberi selembar ijazah
yang lebih mirip struk belanja barang mahal.
Kami memegangnya di depan gerbang kampus yang indah
lalu bertanya pada satpam, “Pak, loket penukaran kerjanya
di sebelah mana, ya?”

Yogyakarta, 05 Agustus 2025

1 komentar untuk “Katanya, Demi Kebaikan Bersama”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top