
Dalam Mata Air Mata
Dalam tidurku yang kelam
Dongeng membisikkanku dengan indah
Dengan lagu yang memekarkan segenggam harapan
Walau satu, dari ribuan cerita yang pernah ada dalam halaman
Dalam mataku yang temaram
Mencium aroma kolam yang dangkal
Secuil jari yang mengecup pangkalnya
Di balik selembar alis mata air mataku
Tersusun sudah, sekumpulan ikan-ikan menggenang dalam air kolam mataku
Dalam…
Mataku yang keruh, mataku yang jenuh, mataku yang luruh tumbuh rapuh yang kian berlabuh
***
Tanpa Ibu, Hidupku Babibu
Ucap siapa saja yang sudah ditinggalkan ibu
Dalam belainya
Dalam rengkuhnya
Atau dalam kasih yang katanya sepanjang masanya…
Jadi, sekarang aku butuh siapa?
Hanya engkau,
Kau aksara dalam setiap lintinan ceritaku
Tinta warna dari polosnya ragaku
Mengapa kehadiranmu tak lagi membubuhiku lagi?
Jika saja,
Aku bersahabat dengan waktu
Sudah aku potretkan suara tangisanku dalam perutmu
Dan akan aku lukiskan tawaku yang mengendus air pipimu
Bahwa aku anakmu yang satu…
***
Menerjang Malam Pualam
Hatiku bukan pualam
Katanya, kata siapa saja yang sedang jatuh cinta
Hatiku bukan sekumpulan rindu
Diamnya, dalam radio yang menyuarakan kisah antara kita
***
Kuah Kaporit
Tangan yang berjalan pada seujung panci hitam mengepul
Ada warna warni di dalamnya; plastik, lumut, dan habitat yang mati
Pestisida, asap rokok, dan sepotong jagung menguning
Aku sendok setengah…
Gigi besi yang menggigit, mengunyah, dan menelannya
Menelannya, tergelincir pada lambung, dan melupakannya
Membusuk ratus-ratusan
Mengotori semangkuk hidangan penutup
Yang tertinggal hanya sebuah kemalangan akibat alibi kejadian yang tidak diinginkan
***
Aku Tidak Punya Kopi
Sajakku bukan persoalan kopi yang mengepul di ujung hari
Ditemani kehangatan sembari bercengkrama dalam semi yang membumi
Aku hanya ingin duduk…
Dirayu seorang teh manis yang memeluk dari belakang
Menuntun hari nan kelabu dalam lagu pagi hari
Juga kembali melamun, besok akan menulis apa lagi?
***
Hujan Turun Ketika Aku Mandi
Aku menurunkan gayungku dalam sepi
Ruangan sepetak ini seperti ingin merenggutku
Telingaku bergetar mengikuti obrolan maut dalam bak mandiku yang berlumut
Dindingnya rapuh seperti jiwa manusia sabun ini
Rambutnya berdiri menggumpal busa dalam tangis jejak mata
Kaki yang semula loncat-loncat basah seperti katak dalam perahu
Terdiam reda bagai cicak yang mengintip dalam plafon
Aku… ingat…
Masih mencerna bisikan dalam angan-anganku
Hujan atau air mata?
Cucianku masih terjaga
***
Muhammad Abduh Yunus, lahir di Cilacap pada bulan Desember 2003. Kini Ia tinggal di Jalan Kyai Nurchakim, Purwokerto Barat. Ia merupakan mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, dengan minat pada dunia menulis dan menari. Saat ini ia aktif di Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia (HIMASASI) sebagai Koordinator Divisi Advokasi dan Humas. Meskipun belum memiliki karya tulis yang dipublikasikan, Abduh terus mengembangkan kemampuan dan pengalamannya melalui kegiatan organisasi. Ia dapat dihubungi melalui Instagram @abduhyun.




