Surat untuk Gadis Mandailing II

Hei gadisku, dari rimbun rambutmu surat ini kurakit, demi merambati jernih langit Indonesia yang menyengat. Yang menguningkan lahan para petani sepanjang jalan Daendels, jalan kita nanti menghabiskan sore bersama angin aroma garam. Gadisku, melalui surat ini aku ingin memberi hangat pelukku, sehangat maaf yang akan banyak keluar dari retakan, dari banyak robekan dada.

Read More »

Sebuah Kisah tentang Senja di Dada Jakarta

Seperti halnya senja di banyak daratan Khatulistiwa. Senja di dada Jakarta juga berperan sebagai gradasi peralihan waktu dari siang yang perak menuju legam malam sehitam aspal. Senja yang tak hanya menghamparkan warna sore dari langit urban yang ngindie. Kilap warna-warnanya kemerahan, menawarkan nuansa plegmatis sekaligus melankolia dari sebuah kota dari dunia ke tiga.

Read More »

Surat untuk Gadis Mandailing

Hei gadisku, malam ini manis dalam cangkir kopiku tak mampu melarutkan segala resah yang meresap di keningku. Tentu kamu tahu dari layar gawaimu, banyak berita tentang hal-hal baru yang lahir dari balik gedung di Senayan.

Read More »
Scroll to Top