
Dermaga Kayu Manis
Pena: Idez Adhie Aksarra
dalam rimbun lenganmu
tubuhku lahir kembali
tersusun ulang dari angin bukit Barisan
setelah pecah oleh badai lautan
dalam hijau rambutku
helai pembuluh darahmu
memeta ulang mata angin putaran waktu
lalu kayuh melampaui badai Laut Jawa
layar kita berkembang
semesta mengembang di dada kita
yang dermaga
yang kayu manis
yang derapnya lagu-lagu mantra
Kebumen, Mei 2026
Seringkali kesederhanaan bentuk tidak berbanding lurus dengan kesederhanaan makna. Sebagai salah satu cabang ilmu linguistik yang mempelajari gaya bahasa, khususnya bagaimana seorang penulis menggunakan dan menugaskan unsur-unsur bahasa dalam karyanya untuk menciptakan makna dan efek estetis (keindahan) tertentu. Di sana stilistika berperan membawa pembaca melihat bagaimana setiap pilihan bahasa, bunyi, struktur, dan citraan bekerjasama untuk membangun satu tubuh yang utuh dari sebuah tulisan.
Stilistika menghormati karya sastra sebagai peristiwa bahasa. Artinya, makna tidak hanya terletak pada “apa yang dikatakan”, akan tetapi juga “bagaimana ia dikatakan”. Dalam puisi “Dermaga Kayu Manis” yang kebetulan ditakdirkan menjadi puisi terbaik bertema Arus dalam sebuah agenda mingguan yang diadakan oleh penerbit Langgam Pustaka (Instagram, 19 Mei 2026). Penulis tidak sekadar menulis tentang cinta. Ia menulis tentang arus kelahiran kembali, tentang geografi alam sebagai tubuh, dan tentang rempah sebagai ujung berlabuh.
Sesuatu yang tidak bisa ditawar ketika menggunakan perspektif stilistika maka harus membicarakan diksi, sebab salah satu tugas diksi atau pilihan kata adalah sebagai pintu awal untuk masuk ke gaya tulis seorang penulis. Pada puisi berjudul “Dermaga Kayu Manis” kita langsung dihadapkan pada dua kutub diksi yang saling tarik-menarik: diksi ilmiah dan diksi mistik.
Mari kita renungkan baik-baik setiap kalimat ini: tersusun ulang, memeta ulang, pembuluh darah, mata angin, putaran waktu. Di situ kita akan menemukan sebuah tindakan, bukan hanya sekadar teori, tindakan dalam bentuk rekonstruksi, pemetaan, bahkan istilah anatomi sebagai perwujudan dari sesuatu yang fisikal.
Pada umumnya penyair cinta akan memilih kata seperti “merangkul”, “memeluk”, “menghangatkan”. Namun kita tidak menemukan dalam puisi ini, penulis memilih kata yang dingin, presisi, dan teknis. Tentu bukan ketidaksengajaan. Diksi seperti ini menciptakan efek distansi. Seolah yang berbicara bukan orang yang sedang mabuk cinta, melainkan seorang ahli bedah atau kartografer yang sedang bekerja pada tubuh dan waktu. Sehingga pilihan itu menumbuhan efek rasa yang dewasa. Cinta di sini bukan letupan remaja. Penulis memandang cinta yang dewasa adalah cinta yang bisa dilihat dari tindakannya, bagaimana cinta bekerja melahirkan ulang sesuatu dari sebuah reruntuhan. Diksi-diksi klinis dan kartografis di atas hampir semua berperan membentuk tubuh puisi menjadi selayaknya tubuh yang dirangkai dari kedalaman.
Hal itu sangat kontras dengan apa yang kita temukan dalam judulnya: Dermaga Kayu Manis. Dari sekian banyak nama dermaga, mengapa harus kayu manis? Dalam tradisi nusantara kayu manis lebih dari sekadar rempah. Ia adalah obat, penghangat, penolak bala, dan pengikat memori. Wanginya menyuguhkan aroma ketenangan, aroma yang dirindukan batin.
Dengan memerankan “kayu manis” sebagai dermaga, di sini penulis melakukan dua pekerjaan sekaligus, iya itu alegori dan sakralisasi. Dermaga tidak lagi dari beton dan paku. Namun dermaga dibangun dari sesuatu yang wangi, hangat, dan menyembuhkan. Dua kontras ini bertemu di baris penutup: yang derapnya lagu-lagu mantra.
“Derap” adalah kata yang mewakili gerak fisik sedang “mantra” adalah sesuatu yang sakral dari rahim spiritual. Bisa kita tarik satu benang rasa dalam puisi ini adanya gerak bersama antara proses kerja fisik dan kerja batin yang sakral. Satu hal kecil yang tak bisa kita anggap remeh juga bisa ditilik dalam kata lahir kembali. Ini bukan “sembuh”. Ini “lahir” yang artinya proses secara total. Semacam matinya diri yang lama kemudian lahir diri yang baru.
Selain sebagai instrumen dalam bercerita, bahasa juga punya kemampuan membentuk imaji atau citraan yang berperan guna melahirkan gambaran dalam benak pembaca. Seperti tugasnya dalam puisi “Dermaga Kayu Manis”, penulis menolak imaji kamar tidur atau bunga mawar, atau hal klise lainnya. Ia memilih imaji geografis berskala besar. Kita bisa lihat dari angin bukit Barisan, penulis menggunakan realitas topografi yang seakan-akan ingin membangun gambaran dalam benak pembaca sebuah asal kekuatan lintas peradaban. Yang disimbolkan melalui ketinggiannya serta keteguhan yang berdiri di punggung Sumatra. Dengan menggunakan badai lautan pembaca diajak merasakan samudra nan luas tanpa batas, sekaligus trauma atau luka yang memecah. Dari bait pertama penulis mencoba bercerita tentang kehancuran dan proses tumbuh kembali sebuah tubuh lirik “pecah oleh badai lautan” lalu “tersusun ulang dari angin bukit Barisan”.
Masuk ke dalam frasa hijau rambutku, helai pembuluh darahmu, laut jawa, dan kayuh melampaui badai dari frasa-frasa tersebut pembaca bisa merasakan arah penulis merubah fungsi tubuh seorang manusia menjadi sesuatu yang lebih luas dan kosmos. Tubuh manusia diproyeksikan menjadi lanskap. Teknik ini bisa disebut geografi tubuh. Penulis memetakan nusantara ke dalam tubuh lirik. Maka ketika ia berkata memeta ulang mata angin putaran waktu, ia sebenarnya sedang mengatakan: bersamamu aku menentukan kembali arah hidupku.
Klimaks imajinatifnya terjadi dalam frasa semesta mengembang di dada kita, dari bukit Barisan ke Jawa lalu melebar ke semesta. Ia melebar ke kosmik yang luas, menembus batas tubuh juga batas geografis. Imaji audial muncul di ujung puisi: derapnya lagu-lagu mantra. Setelah pembaca diajak merasakan, kini diajak mendengar. Melalui “derap” yang bunyi ombak memukul dermaga, juga “mantra” yang bunyi sakral. Penulis ingin melagukan nyanyian kehidupan penuh keintiman lagi mistis. Sehingga imaji audial yang terbangun adalah kemesraan nan khusyuk yang bergetar dari detak dan irama diksi.
Stilistika melihat bentuk luar puisi sama pentingnya dengan isi, hal itu melingkupi antara lain struktur sintaksis, tipografi, dan musikalitas. Stilistika memperhatikan bagaimana penulis menata baris dan bunyi dari setiap diksi yang dipilih. Dalam puisi di atas hampir semua bait dimulai dengan pola yang sama, implementasi dari pararelisme sebagai ayunan ombak: dalam rimbun lenganmu, dalam hijau rambutku lalu di puncaknya muncul repetisi yang dermaga, yang kayu manis, yang derapnya.
Dalam retorika pengulangan kata “yang” tiga kali disebut tricolon. Seakan-akan penulis ingin menyampaikan dengan kuat tiga aspek penting dalam puisi tersebut. Repetisi tersebut juga bisa dilihat menggunakan perspektif filsafat matematika yang memandang bahwa segitiga sebagai objek abstrak yang objektif dan kekal (Plato dalam Republik). Dengan struktur tersebut penulis seolah-olah sedang melakukan penobatan bahwa tubuh lirik dalam puisi tersebut berperan sebagai tiga hal sekaligus: tujuan, aroma, dan bunyi. Jika diperhatikan tidak adanya titik di tengah puisi, hanya terdapat koma. Hal itu memaksa pembaca melakukan satu tarikan nafas panjang yang seolah berperan sebagai sebuah perahu yang tidak boleh berhenti di tengah laut.
Dominasi bunyi sangau terdapat dalam kata seperti rimbun, angin, berkembang, mengembang, mantra. Penekanan tertuju pada bunyi-bunyi /ng/, /m/, /n/: itu adalah bentuk bunyi sangau yang yang keluar dari hidung dan terasa hangat di dada. Bunyi tersebut menciptakan efek meditatif sekaligus menenangkan, sangat kontras dengan kata “badai” yang penuh letupan /b/ dan /d/. Naiknya ritme puisi juga dapat ditemui dari bait 1 yang lambat karena banyak kata berjumlah 4-5 suku kata: tersusun, Barisan, lautan. Sedang dalam bait 3 menjadi cepat dan melebar: layar kita berkembang, semesta mengembang. Ini mencerminkan proses tumbuh yang baik dari keterpurukan menuju kebebasan.
Kebebasan yang dimaksud juga tergambar dari tipografi puisinya, tidak terikat oleh pola bait, jumlah larik, maupun rima tertentu. Sebuah ciri yang lazim ditemukan dalam puisi-puisi kontemporer. Penggambaran jelas dari jiwa modern yang hidup di tengah dunia yang menuntut kedinamisan dan fleksibilitas. Lariknya dirangkai dengan kependekan-kependekan yang efisien, menciptakan jeda organik yang membantu pembaca merasakan ritme sekaligus menghayati setiap rasa yang terbentuk dari tiap jeda dan lariknya. Kebebasan tipografi tersebut juga memberi ruang bagi makna untuk berkembang lebih mengalir, serupa alunan ombak dalam pembuluh darah. Hingga selaras dengan aliran emosional yang diusung puisi tersebut.
Ada semacam antitesis keterasingan dari diksi “dermaga” yang berperan sebagai kata kunci. Dermaga di sini bukan rumah, rumah adalah tujuan akhir dari perjalanan. Dermaga bisa dilihat sebagai pijakan awal setelah melakukan pelayaran, pijakan awal menuju sesuatu yang lebih dalam. Tempat mendarat dari lautan lalu melangkah di atas dataran tanah menuju yang sebenar-benarnya rumah: sesuatu yang lebih dalam dari tubuh lirik dalam puisi di atas.
Lalu mengapa “Kayu Manis”? ada semacam konstanta (sesuatu yang tetap) dari sifat kayu manis. Di nusantara dari ribuan tahun yang lalu hingga hari ini kayu manis tetap kayu manis dan tak mudah usang digerus waktu, wanginya adalah aroma terapi di tengah dunia yang terus inkonsisten karena teknologi, politik, dan waktu, “kayu manis” adalah satu dari sepinya sesuatu yang bisa dipercaya. Satir sangat halus terhadap kondisi nusantara hari ini.
Jika mengupas frasa lahir kembali dan tersusun ulang ada semacam trauma yang diakui melalui kalimat pecah oleh badai lautan. Ini tentang luka akan tetapi puisi ini bukan puisi ratapan. Ia adalah puisi rekonstruksi. Cinta dalam puisi ini berperan untuk merekonstruksi arah hidup dan menyembuhkan luka waktu, hal itu bisa dilihat dari baris paling filosofis memeta ulang mata angin putaran waktu, “mata angin” adalah arah, “putaran waktu” adalah sejarah sekaligus harapan baru.
Sebuah pernyataan cinta yang tidak menyempitkan akan tetapi meluaskan dan menumbuhkan, terwakilkan melalui larik paling klimaks semesta mengembang di dada kita, sebuah pernyataan bahwa ketika dua entitas saling menjadi dermaga maka dada mereka cukup luas untuk menampung semesta.
Melalui mata stilistika dapat ditarik satu benang halus dari puisi “Dermaga Kayu Manis” bahwa aliran perlawanan ternyata hidup dari balik sesuatu yang tak bisa terlihat dari permukaan. Perlawanan terhadap klise tersusun ulang dari angin bukit Barisan, penulis tidak menulis “dirimu adalah obat Lukaku”. Perlawanan terhadap kebisingan di tengah dunia yang gaduh, ia memilih bunyi lagu-lagu mantra yang pelan namun dalam. “Dermaga Kayu Manis” pada akhirnya menawarkan satu hal: bahasa bisa menjadi ruang pulang di waktu dunia luar terus menciptakan badai, maka satu dari banyak tanggung jawab moral seorang penulis adalah menawarkan alternatif pilihan hidup, entah berupa dermaga, rumah dalam rupa ruang bertumbuh. Ruang yang hangat, wangi, dan cukup kuat untuk menahan kapal agar tidak hancur di tengah badai arus kehidupan.
Idez Adhie Aksarra, lahir di Kebumen, 24 Februari. Aktif di Perpustakaan Jalanan Kebumen dan menulis dengan semangat “Mengakar merindanglah”. Karyanya antara lain Keffiyeh Menjala Air Mata, Di Bawah Selimut Demokrasi (Elorazine, 2024), serta Pulang ke Jampang Kulon, Bandung Sore Hari (Apajake Media, 2024).




