
Ketika mendengar kata takdir, lumrahnya kita akan beranggapan sebagai sesuatu yang final. Sesuatu yang tidak bisa kita utak-atik. Yang telah berlalu? Ya berlalu. Yang telah terjadi? Ya terjadi.
Takdir seakan menjadi tembok yang angkuh: statis, dan tak berubah. Namun, di balik keangkuhannya, Semesta masih menyisihkan satu celah kecil kepada kita semua: ruang untuk berimprovisasi. Lewat apa? Jawabannya: Hari ini.
Kemarin? Tak bisa kita ulang kembali. Besok? Terbatas hanya pada merencanakannya. Memang kita seakan-akan bisa merencanakan semuanya, bahkan untuk 20 tahun mendatang. Itu pun jika kita masih hidup sampai besok. Jika tidak?
Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhir kita? Bagaimana jika kopi susu yang kita nikmati kali ini, adalah yang terakhir? Bagaimana jika tulisan ini, yang terakhir juga bagi saya? Who knows. Nampaknya kita memang terbatas, bahkan hanya untuk sekadar mengetahui umur kita sendiri.
Jon Snow
Ia bukan sekadar karakter dalam cerita fiksi belaka, melainkan personifikasi dari mencintai takdir itu sendiri. Seorang pria yang terus melangkah maju—melawan kerapuhan dan kekacauan dalam dirinya.
Bertahun-tahun ia percaya bahwasannya merupakan anak haram. Cemoohan berupa panggilan “Bastard Boy” menghiasi kehidupannya bahkan sejak kecil. Meski hidup dalam sebuah keluarga kerajaan yang utuh, lagi-lagi ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia hanyalah anak angkat.
Anak Haram
Hal itu menjadi dilema besar baginya: berada di tempat yang penuh kehormatan, namun tetap merasa terpinggirkan. Dicintai, namun tetap merasakan kekosongan. Hidup seolah tragedi, dan tanggungan beban yang berat.
Rasa terpinggirkan dan rendah diri membawanya kepada perjalanan yang berbeda dibanding saudara-saudaranya. Ia lebih memilih rasa tanggung jawab, ketimbang ambisi kekuasaan. Jalanan yang sepi ia lalui sendirian. Semua itu sama sekali tak menghentikan langkah kakinya, ia seakan mengatakan kepada kita semua: “Aku mencintai takdir ini, meski menyakitkan.”
Transformasi
Jon Snow bergabung pada pasukan Night Watch, sekumpulan orang-orang buangan yang tak punya masa depan. Tempat itu berada di ujung dunia, wadah bagi seorang pria untuk mati secara simbolis—bersumpah meninggalkan keluarga, harta, gelar, takhta, bahkan ambisi itu sendiri.
Ia berbaur dengan orang-orang yang paling kotor—pria tanpa kehormatan, kriminal, penjahat, hingga pria yang merasa gagal tapi enggan untuk mati. Tak ada moralitas di dalamnya. Tak ada kehormatan. Sebuah tempat yang seakan selalu malam, gelap, dan dingin.
Kelahiran
“Ironisnya, di tempat paling gelap, setitik cahaya terlihat semakin terang.” Ia tumbuh menjadi seorang ksatria tangguh—penuh empati, martabat, dan integritas. Jon Snow membawa pasukan Night Watch ke garda terdepan untuk melindungi dunia kala itu.
Ia menggenggam pedang dengan keteguhan di hadapan para monster biadab—bukan karena berani, tetapi karena rasa tanggung jawab yang ada pada dirinya.
Kebebasan
Jon Snow menjadi seorang pemimpin Night Watch tanpa sedikit pun ambisi kekuasaan—melainkan, seorang pemimpin yang dipaksa keadaan. Meski pada akhirnya ia mengetahui bahwa selama ini hidup dalam kebohongan—bukan anak haram dan pewaris sah Iron Throne—sama sekali tak merubah jati dirinya. Ia tak menduduki tahta kerajaan, ia memilih menjadi seorang pria yang bebas.
Pelajaran
Pada akhirnya, kita sebagai manusia sama sekali tak mengetahui alur hidup seperti apa yang akan kita lalui. Kita selalu saja hanya terbatas pada merencanakan dan memperkirakan apa-apa yang akan datang. Jika kita tak mencintai takdir yang ada, bagaimana bisa kita hidup pada setiap momen? Jika kita tidak hidup dalam setiap momen, bagaimana kita bisa merencanakan kehidupan itu?
Hari ini bagaikan panggung orkestra, yang semesta ingin saksikan performa terbaik kita sebagai manusia—meski rapuh, kita adalah seniman yang selalu mampu berimprovisasi dengan indah.
Mencintai takdir bukan semata-mata menolak kesedihan—tetapi menjalaninya dengan penuh kehadiran—setiap momen, setiap rasa, dan tiap-tiap warnanya. Jon Snow mengajarkan satu hal: pelaut yang tangguh bukan ia yang nekat menerjang badai, tetapi ia yang tahu kapasitas kapalnya—dan bersedia untuk berhenti sesaat. Pada akhirnya, takdir bukan untuk dimenangkan atau dikalahkan—melainkan dihidupi tiap-tiap momennya, dengan begitu, cinta akan bersemi.
“My formula for greatness in a human being is amor fati: that one wants nothing to be different, not forward, not backward, not in all eternity.” ~Friedrich Nietzsche, Ecce Homo
Referensi Penulisan:
Tema besar tulisan ini mengambil referensi dari konsep Amor Fati yang dipopulerkan oleh Fredrich Nietzsche dalam karya-karyanya. Saya menggunakan karakter fiksi bernama Jon Snow—merupakan salah satu tokoh dari serial terkenal: Game of Thrones.





Pingback: SMA di Purwokerto Lagi Jadi Sorotan, Ini Fakta yang Perlu Kamu Tahu - nribun.com