Wanto Tirta dan Geguritan Mencari Ruang

Akhir tahun 2024, di laman Facebook-nya, Timur Sinar Suprabana mengunggah sebuah foto media cetak WHUUUSZH! Namun saat itu saya belum bisa memegangnya secara langsung. Selang beberapa bulan kemudian, teman saya – Neo Amroni – memesan media cetak tersebut, dari Edisi 1/Tahun 1/Oktober 2024 hingga empat edisi setelahnya. Meskipun itu “lucu-lucuan” Mas Timur dan Mas Gunawan Budi Santoso dkk. di Semarang sana, bagi saya itu adalah “lucu-lucuan” yang perlu kita ikut tertawa dan membacanya – membelinya.

Dalam Edisi 1 WHUUUSZH! salah satunya memuat esai Halim HD – seorang budayawan dan terkenal sebagai kritikus sastra. Esainya berjudul “Sastra Mencari Ruang”. Dalam bacaannya, Halim HD melihat perubahan ruang sastra, khususnya puisi, sejak Majalah Horison, kolom sastra di koran-koran, hingga era siber. Sastra memiliki eranya masing-masing seiring perkembangan zaman.

Melalui esai itulah akhirnya saya memberanikan diri untuk bertemu dengan sastrawan daerah Banyumas. Ia adalah Wanto Tirta. Sebenarnya sudah sejak awal bilfest.id mengudara, saya mengajukan untuk berjumpa dengan Wanto Tirta. Namun seperti biasa, Bung Neo harus melakukan brainstorming dulu kepada saya. Tidak hanya itu, ia mendukung dengan bacaan-bacaan sebelum saya ke sana.

Alasan saya sebenarnya sederhana, karena dalam sebuah lagu yang Wanto Tirta tulis liriknya, ia mengombinasikan Bahasa Indonesia dan Bahasa Ngapak, meskipun hanya beberapa larik saja. Namun Bahasa Ngapak yang ia sisipkan menjadikan sebuah penanda penting tentang eksistensi bahasa lokal, sekaligus memperkuat lirik lainnya yang berbahasa Indonesia.

Pertanyaan saya sama seperti yang Halim HD tuliskan: “Mampu bersaing?” Dalam hal ini, saat bertemu dengan Wanto Tirta – Presiden Geguritan Banyumas – di antara obrolan kami adalah “Geguritan Mencari Ruang” dan mampukah geguritan bersaing? Namun bersaing yang saya maksud bukan sebuah kompetisi menang-kalah, tetapi bagaimana geguritan bertahan, lestari, dan menemukan penikmatnya.

Kracak Setelah Magrib

Dalam jagat seni, budaya, dan sastra di Banyumas, nama Wanto Tirta tidaklah asing lagi. Dari para senior hingga junior, dari akademisi, pejabat, ulama, guru, bakul sega goreng, hingga ibu saya – yang pernah diajari beliau untuk menulis puisi saat sekolah dulu.

Saya membuat janji temu dengan beliau untuk sowan. Akhirnya suatu sore menjelang magrib saya menuju rumahnya. Dalam perjalanan yang hampir masuk desanya – Kracak, Ajibarang – ekor mata kiri saya melihat barisan pegunungan yang hijau, namun tengahnya sudah tampak kulit buminya. Eh!

Setelah menunaikan ibadah salat magrib sebagaimana umat Islam pada umumnya, saya bisa melihat langsung senyum pria yang memiliki rambut panjang nan sudah putih itu. Meskipun sudah pensiun sebagai guru SD dengan posisi beberapa kali sebagai kepala sekolah sejak tahun 2006–2018, ia tetap bugar. Setelah memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan, akhirnya obrolan kami mengalir selayaknya guru dan murid.

Sebenarnya saya berbekal lima pertanyaan yang nanti jawabannya akan saya tuliskan sebagaimana format penulisan ulasan rubrik “Sosok” sebelumnya. Namun obrolan mengalir begitu saja, meskipun ada beberapa pertanyaan bekal yang belum mendapatkan jawaban karena pertanyaan itu belum sempat saya tanyakan secara langsung.

Wanto Tirta dan Sastra Jawa

Menurut Wanto Tirta, geguritan adalah sastra Jawa. Dan geguritan Banyumasan memiliki bahasa (diksi) tersendiri, berbeda dengan Jawa Yogya ataupun Solo karena geguritan Banyumasan menggunakan Bahasa Ngapak dan dialek Panginyongan. Dalam bentuk sederhananya, geguritan yang alamiah tumbuh di masyarakat Banyumas dalam bentuk parikan. Sejak menjadi penyiar radio (Satria Ajibarang) di masa mudanya tahun 1990-an, ia sudah memopulerkan parikan untuk menyapa pendengarnya.

Plesir maring Solo sangu jaburan
Ngrungokna radio kanggo hiburan

Kue lopis sing dodol pacare
Salam manis kanggo penyiare

Numpak prau gelaran klasa
Sugeng dalu para pamiarsa

Mlumpati jaro sikile mbenthang
Nyetel radio sinambi medang

Parikan lebih singkat daripada geguritan, seperti pantun dalam Bahasa Indonesia. Namun menurut bapak lima anak ini, hal itu bisa melatih seseorang yang ingin belajar menulis geguritan Banyumasan.

Wanto Tirta memiliki harapan supaya geguritan Banyumasan memiliki posisi yang sama di sastra Jawa di antara sastra Jawa Jogjanan dan juga Solo. Karena hal itulah, sampai sekarang ia masih memopulerkan geguritan di kalangan pelajar dan anak muda menggunakan berbagai macam media, termasuk media sosial dan ke sekolah-sekolah.

Ruang untuk Geguritan

Obrolan kami berlanjut setelah kumandang azan Isya. Di samping tempat saya duduk, berjajar rapi di rak buku-buku puisi dan geguritan koleksinya. Lalu saya lanjutkan tentang esai yang saya baca sebelum sowan, tentang “Sastra Mencari Ruang” dengan bertanya, “Bagaimana ruang untuk geguritan sekarang ini?”

Setelah melalui berbagai zaman, sebagaimana karya sastra lainnya, geguritan terus ditularkan kepada generasi muda. Medianya pun berubah, dari media cetak ke media siber. Wanto Tirta adalah Presiden Geguritan yang tidak hanya menjadi penggurit saja – menulis geguritan lalu menepi bagai pertapa. Ia masih masuk ke sekolah-sekolah, berbagai macam komunitas, lembaga, dan organisasi untuk mengajar tentang geguritan dan membacakannya. Wanto Tirta tidak hanya membacakan geguritan di panggung-panggung kota yang mengundangnya, bahkan di panggung tujuhbelasan tingkat RT. Baginya, geguritan bisa di mana saja.

Menurut Wanto Tirta, Festival Tunas Bahasa Ibu yang digagas oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah yang kini telah menjadikan Bahasa Ngapak bagian dari bahasa ibu menjadi peluang bagus bagi geguritan, sehingga geguritan semakin banyak ruang untuk dilestarikan.

Menurutnya lagi, sastra adalah ruang berekspresi dan respons terhadap dinamika kehidupan; maka geguritan adalah ruang itu sendiri. Dengan memaknai ruang dalam makna luas maka geguritan tidak “kebingungan” mencari ruang. Geguritan adalah ruang itu sendiri untuk melestarikan bahasa daerah. Dalam hal ini adalah geguritan Banyumasan yang menjaga kelestarian Bahasa Ngapak.

Masih Adakah Penikmat Geguritan?

“Di tengah masifnya budaya pop, tentu masih ada – dan bisa saya katakan banyak,” ucap Wanto Tirta optimistis. Lalu saya bertanya kembali, kalangan apa saja yang masih menjadi penikmat? Karena kadangkala, sastra hanyalah untuk kalangan terbatas.

Saya mengutip apa yang ditulis oleh Halim HD bahwa perbincangan dunia sastra juga bisa didekati dengan perspektif komunalisme: sastra hanya dibutuhkan oleh orang sastra, dan itu pun oleh teman-temannya sendiri.

Perspektif itu sebenarnya tidak salah juga. Namun apa yang dilakukan oleh Wanto Tirta adalah memunggungi perspektif di atas. Ia memopulerkan geguritan secara masif di kalangan generasi muda. Sastrawan – atau boleh saya katakan penggurit – ini telah menerbitkan 4 buku secara tunggal, dan bersama (antologi) sebanyak 164 judul sejak tahun 1995. Buku geguritannya, Nonton Ronggeng (2004), dinobatkan sebagai Guritan Favorit dalam Lomba Menulis Guritan PGRI Kabupaten Banyumas.

Bisa dikatakan, penikmat geguritan berasal dari siswa sekolah, guru, mahasiswa, dan kalangan umum. Banyak juga penelitian akademik tentang sastra Jawa ini, menurut Wanto Tirta sambil menunjukkan beberapa buku antologinya, serta buku kumpulan puisinya yang sangat tebal, Antologi Puisi Catatan 1000 Hujan yang terbit tahun 2021.

Wanto Tirta yang mendapatkan nominasi Penghargaan Prasidatama Pegiat Bahasa dan Sastra Daerah Balai Bahasa Jawa Tengah tahun 2017 memilih jalan sederhana. Ia merawat apa yang selama ini tumbuh di masyarakat yang telah melahirkannya – geguritan. Memang benar, seiring berkembangnya kehidupan, budaya juga semakin berkembang dan itu tidak bisa kita hindari. Namun, geguritan adalah ruang yang adaptif, dan saya melihat optimisme itu.

1 komentar untuk “Wanto Tirta dan Geguritan Mencari Ruang”

  1. Pingback: Ketika Puisi dan Doa Bersua, Tadarus Sastra 2026 Mendekatkan Sastra ke Desa - Temenan BIL Fest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top