
Pada Oktober 2012, dalam perjalanan pulang sekolah, seorang pria Taliban bersenjata dan memakai topeng menaiki bus sekolah dan bertanya, “Siapa Malala?”. Lalu pria itu menembak di sisi kiri kepala seorang perempuan berusia 15 tahun. Perempuan itu adalah Malala Yousafzai. Seorang perempuan yang sejak usia 11 tahun sudah berani berbicara di depan publik untuk memperjuangkan hak perempuan atas pendidikan.
Malala Yousafzai. Dia adalah perempuan penerima Nobel Perdamaian termuda. Saat itu usianya masih 17 tahun. Namun Malala melakukan itu semua bukan karena ingin mendapatkan penghargaan. Malala adalah aktivis perempuan asal Pakistan, yang menyuarakan hak pendidikan untuk kaum perempuan di negaranya. Dia menentang dan kritis terhadap kebijakan Taliban, yang dianggapnya telah merampas hak perempuan sebagai manusia.
Setelah kejadian penembakan, Malala diterbangkan ke Birmingham untuk menjalani operasi di Queen Elizabeth Hostpital Birmingham (QEHB). Sebanyak 6 kali operasi yang dijalani Malala. Tembakan itu menggores mata kiri, tengkorak, otaknya, merobek saraf wajah, menghancurkan gendang telinga dan mematahkan sendi rahangnya. Dia sempat koma saat diterbangkan ke Birmingham.
Kasus penembakan terhadap Malala menjadi sorotan dunia. Ternyata Taliban lebih takut dengan isi kepala seorang gadis Pakistan berusia 15 tahun daripada isi selongsong senjata. Meskipun pemimpin Taliban mengakui sebagai pelaku penembakan, tetapi dia tidak meminta maaf atas kejadian itu. Taliban menganggap Malala adalah mata-mata dari musuh perangka -Amerika.
Malala Effect dan Gerakan Feminisme di Indonesia
Wacana feminisme di dalam gerakan perempuan Indonesia, mulai tumbuh tahun era 80an. Meskipun sudah diawali sejak era pra kemerderkaan. Namun wacana di gerakan perempuan Indonesia bertitik pada isu pemberdayaan. Setelah kasus penembakan oleh Taliban, nama Malala Yousafzai mulai masuk keadalam obrolan dan diskusi gerakan perempuan di Indonesia. Tidak hanya tokoh pendahulunya saja, seperti Fatimah Mernissi.
Nama Malala lebih mudah diterima di Indonesia mengingat ada kesamaan dari latar belakang agamanya. Selain itu, ada ketakjuban karena Malala yang saat itu masih usia sangat muda, sudah mencapai pada pemikiran tentang hak perempuan dan ketidakadilan. Meskipun hal itu tidak lepas dari peran orangtua yang memang guru dan pengelola beberapa sekolahan di Pakistan.
Malala yang seorang perempuan islam mampu mengubah pandangan dunia barat tentang islam, khusunya perempuan islam. Hal itu menjadikan wacana tentang feminisme di Indonesia mendapatkan referensi lain yang tidak hanya berasal dari barat. Kehadiran Malala menjadikan adanya perpaduan antara feminisme perspektif barat dan feminisme perspektif islam (mufassir perempuan Fatimah Mernissi).
Sebenarnya, yang dilakukan Malala bukanlah gerakan dunia. Dia melawan Taliban yang sewenang-wenang terutama kepada perempuan dan hak-haknya. Namun gelombang dari pemikiran Malala mampu menembus batas teritori. Hingga pembahasan kesadaran atas hak perempuan yang dia upayakan menembus sampai lingkarang kecil di teras kampus di Indonesia.
Nama Malala masuk kedalam diskusi organisasi mahasiswa, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), dan juga komunitas-komunitas, yang bahkan tidak bergerak di isu feminisme yang merasa perlu membahas hal itu. Mereka mengambil spirit perjuagan yang dilakukan oleh Malala.
Malala Bukan Simbol Tapi Subjek
Melihat ketidakadilan yang dialami kaumnya, Malala memposisikan diri sebagai subjek perubahan. Itu yang menjadikannya beda dan dunia menyorotnya. Dia tidak berdiam diri di hadapan buku-buku dan bersembunyi di balik tulisan-tulisannya. Ia berani tampil berpidato secara langsung. Dia memang didukung oleh ayahnya untuk mngambil langkah politik. Mengambil peran taktis meskipun sempat hampir hilang nyawanya.
Diusianya yang masuk 12 tahun, pada tahun 2009 dia menjadi Ketua Dewan Anak di Pakistan. Melalui video “Dewan Anak Distri Lembah Swat” yang dibuat, dia menyuarakan hak-hak anak dan perempuan. Pada tahun 2011 -setahun sebelum penembakan- Malala aktif berkeliling ke 42 sekolahan di Pakistan untuk melatih jurnalistik dan mengisi diskusi-diskusi. Hingga akhirnya tahun 2012, peristiwa kelam itu terjadi.
Setelah Malala pulih dan menjalani kehidupan keduanya, dia tidak berhenti. Dia tetap menyurakan hak-hak anak dan perempuan. Dia mendirikan “Malala Fund” dengan dukungan ayahnya. Sebuah lembaga amal yang memastikan setiap anak dan perempuan mendapatkan hak atas akses pendidikan dan masa depannya. Pada tahun 2013, Malala berpidato di Forum Kaum Muda di Markas Besar PBB di New York. Dia tetap berdiri menyuarakan tentang hak perempuan dan melawan terhadap pembodohan.

Malala Bukan Idola Tapi Teladan
Malala adalah aktivis perempuan yang menulis. Bukunya yang banyak beredar di Indonesia berjudul “I Am Malala; The Girl Who Stood Up For Education and Was Shot by the Taliban”. Buku itu diterbitkan pada bulan Oktober 2017. Dia menuliskan secara detail kejadian penembakan terhadap dirinya. Buku tersebut masuk ke daftar buku terlaris internasional.
Pada bulan Oktober tahun ini, Malala menerbitkan bukunya yang ke 4. Setelah bukunya yang kedua “Malala’s Magic Pencil” Yousafzai – yang merupakan buku bergambar yang menceritakan masa keci Malala dan buku yang ketiga tentang perjalanannya ke pengungsian di Kolombia, Guatemala, Suriah, dan Yaman. Buku ketiga itu berjudul “We Are Displaced: My Journey and Stories from Refugee Girls Around the World” yang terbit tahun 2018.
Bukunya yang akan terbit Oktober 2025 berjudul “Finding My Way”. Menurutnya buku “Finding My Way”, adalah karya memoar yang berantakan, jujur, dan terkadang lucu sekaligus menyakitkan. Pembaca akan disuguhkan kisah tentang persahabatan dan cinta pertama, tentang kesehatan mental dan pencarian jati diri, tentang upaya untuk tetap setia pada diri sendiri ketika semua orang ingin memberitahumu siapa dirimu. Kisah dalam bukunya tersebut adalah kisah yang sangat dia nanti untuk diceritakan kepada dunia.
Perempuan lulusan Oxford University ini sekarang tinggal di Birmingham, Inggris bersama suaminya. Perempuan 28 tahun itu telah membuktikan bahwa “satu peluru dapat menembus satu kepala, namun satu kata dapat menembus jutaan kepala”. Dalam bukunya I Am Malala, dia menuliskan,”Mari kita ambil buku dan pena kita, karena keduanya adalah senjata yang paling ampuh”.
Latar belakang zona perang dan konflik seperti Pakistan telah membentuk diri Malala sebagai perempuan pejuang dengan pemikiran yang keras. Tidak hanya untuk dirinya, tapi untuk orang lain. Terima kasih.

dari Banyumas menyapa Indonesia




