Sri Cicik Handayani dan Energi Dalam Menari

Pagelaran Banyumas Ngibing 24 Jam Menari tahun 2026 tidak hanya milik warga Banyumas. Selain penari dari puluhan sanggar tari di Banyumas yang tampil di tiga stage -Pendopo Banyumas, Tamansari dan Mruyung, ada juga penari 24 Jam. Ia adalah Sri Cicik Handayani, S.Sn., M.Sn yang akrab disapa Mba Cicik. 

Penari yang berasal dari Madura ini telah melahirkan beberapa karya sejak tahun 2021. Karya Tande’, Nandhâng, dan Atandhâng adalah trilogi yang menceritakan Tayub secara utuh. Sedangkan trilogi selanjutnya Elips, Lingkar dan Néat adalah lapisan-lapisan Tande’, yang fokusnya adalah Tande’ sebagai perempuan Madura, sebagai istri dan sebagai ibu. Selanjutnya pada tanggal 4 Juni 2025, ia melakukan presentasi karya baru dengan tajuk “Tande’ dalam Rokat Pangantan” di kediamannya di Sumenep, Madura. Karyanya tersebut mengeksplorasi tradisi dan kelindan perempuan Tande’ dalam prosesi hajatan atau pernikahan.

Saat pembukaan Banyumas Ngibing 24 Jam Menari, tepat pukul 06.00 WIB pada hari Sabtu 2 Mei 2026 dengan ditandai gema suara gong dan kentongan yang mengalun bersahutan, Mba Cicik mulai menari di Pendopo Banyumas Kota Lama. Setelah itu, ia bergerak menuju ke stage Mruyung untuk melanjutkan tarinya. Kemudian menari tanpa putus di area tengah Tamansari -area kompleks Banyumas Kota Lama. Ia tidak berhenti menggerakkan tubuhnya meskipun tanpa alunan musik yang mengiringi. 

Selama 24 jam, ia memberikan dukungan kepada para penari lain yang sedang pentas, dan menyatu dengan mereka. Ia menyatu bersama penari anak-anak hingga dewasa. Seperti yang ia lakukan saat sebelumnya di Solo 24 Jam Menari pada tanggal 29 April 2026 dari jam 6 pagi sampai 30 April 2026 selesai jam 6 pagi.

Matahari mulai memancarkan teriknya. Namun area tengah Tamansari sangat teduh karena banyak pohon trembesi. Di bawah pohon trembesi itulah kami bisa sedikit berbincang dengannya. Sambil terus menari, Mba Cicik menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Ia mampu membagi fokus antara gerak tubuhnya dan menjawab pertanyaan kami dengan jelas. 

Konsep Karya: Eksplorasi Simbol dan Spirit

Mba Cicik menjelaskan bahwa karya yang dibawakan merupakan gaya kontemporer hasil riset selama lima tahun bersama komunitas Néat Project di Yogyakarta.

Fokus risetnya adalah membicarakan tentang perempuan Tande’ dalam kesenian Tayub Madura. Ia mengeksplorasi melalui pendekatan visual. Menurutnya, karya ini tidak merekonstruksi bentuk realitas Tayub di atas panggung, melainkan mencari simbol-simbol tertentu yang merepresentasikan spirit para penari tersebut.

Saat pementasan di Banyumas Ngibing kali ini, ia menampilkan 2 karya utamanya. Yang pertama adalah “Nandhâng”, yang memiliki arti menari dalam bahasa Madura. Karya ini memiliki benang merah dengan riset ekosistem Perempuan Tandak sejak 2021.

Penampilan yang kedua adalah semi-performing art. Karya ini yang dipentaskan di perempatan Mruyung, kompleks Banyumas Kota Lama. Karya ini fokus pada eksplorasi tubuh dan visual.

Eksistensi Kesenian Tayub di Madura

Dalam penelitiannya Mba Cicik menyoroti pergeseran budaya dan upaya pelestarian kesenian Tayub. Penelitiannya, menunjukkan bahwa pusat budaya Tayub berada di Desa Langsar, Kabupaten Sumenep. Dan secara umum sudah diakui sebagai pusat atau pakem dari kesenian Tayub Madura. Wilayah lain seperti Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan tidak memiliki kesenian serupa.

Dalam konteks tradisi: Perempuan Tandak awalnya hadir dalam ritual Rokat (ruwatan), seperti: Rokat Panganten (ruwatan pengantin), Rokat Tase’ (ruwatan laut), Rokat Bhuju’ (ruwatan makam sakral). Saat ini Tayub lebih sering dijumpai dalam acara hajatan atau pernikahan. Mba Cicik mencoba mengkritisi hilangnya eksistensi Tayub akibat munculnya bentuk-bentuk hiburan baru. Kehadiran bentuk-bentuk hiburan baru ini memunculkan persoalan tersendiri. Melalui risetnya Mba Cicik menemukan beberapa hal mengenai persoalan dalam peralihan kesenian Tayub. 

Persoalan timbul karena sawer yang diberikan oleh penonton. Padahal, sawer bisa untuk membantu perekonomian para Tande’. Dan sawer berpotensi menimbulkan konflik berkepanjangan. Namun bagi para Tande’, mereka membutuhkan penonton. Dan persoalan tentang sawer, menurut Mba Cicik hanya kasuistis saja. Bukan permasalahan yang akan mengganggu upaya memperpanjang kesenian ini.

Menemukan Filosofi Gerak: Kejung dan Tatapan

Dalam proses penciptaan, Mba Cicik menemukan dua elemen kunci dalam ekosistem Tayub Madura. Pertama adalah Kejung atau Vokalan. Komunikasi saat menari melalui nyanyian atau suara. Dan yang kedua adalah Tatapan. Bahasa mata yang sangat kuat antara penari Tandak dan penayub (penari laki-laki).

Berdasar pada penemuan itulah, karya kontemporernya lahir. “Seluruh karya saya tidak berfokus pada pembentukan koreografi akrobatik, tapi lebih pada mengolah intensitas tubuh dan bagaimana tatapan itu sampai kepada audiens melalui energi yang dipancarkan”, ucapnya sambil beranjak berdiri yang awalnya duduk dan tetap menari.

Pertukaran Energi dalam Pertunjukan

Kami juga bertanya tentang energi sebagai seorang penari. Apalagi saat menari selama 24 jam. Apakah seorang penari itu membagikan energi kepada seluruh penonton, atau malah sebaliknya? Lalu, apakah ada interaksi energi antara keduanya?

Mengenai interaksi antara penari dan penonton, Mba Cicik berbagi pandangannya. Pertama tentang pembagian energi. Menurutnya, penari cenderung membagikan energi yang besar kepada audiens. Ia menyampaikan pesan melalui gerak tubuh dan tatapan mata. Selain membagikan, antara penari dan penonton ada pertemuan energi. Jika terjadi kontak intens dengan penonton, penari bisa “mengambil” atau terisi kembali oleh semangat (spirit) dari mereka. Jadi bisa saling mengisi antara penari dan penonton. Selain itu ia juga menyampaikan jika penari tampil di ruang terbuka yang besar, penari harus menjaga stabilitas energi agar tidak habis sendiri, terutama saat berhadapan dengan peristiwa-peristiwa organik di sekitar panggung.

Baginya, peristiwa organik di sekitar panggung juga memiliki energi yang besar. Ia mencontohkan sepasang suami istri dan anaknya yang masih kecil, saat menikmati pertunjukan tari dengan bahagia. Baginya itu adalah energi yang sangat besar dan bisa “diambil” oleh penari, apalagi yang harus mengelola energi saat menari 24 jam, baik di atas panggung saat menyatu dengan penari lain atau saat menyatu dengan penonton. 

Menari 24 Jam bagi seorang penari adalah sebuah perayaan dan pencapaian. Salah satu tujuannya adalah mengukur sejauh mana tubuh penari mampu merespon keadaan sekitar. Menurut Mba Cicik, tubuh yang digerakkan penari saat pagi, tentu berbeda dengan siang. Pagi lebih sejuk dan masih segar. Berbeda dengan siang hari yang sudah banyak interaksi. Begitupun saat tengah malam sampai menjelang subuh. 

“Bagi saya, yang terberat adalah menari saat jam 3 pagi sampai subuh. Karena dari sekitar saya, tidak ada yang bisa saya respon oleh tubuh. Sehingga energi yang dikeluarkan harus ekstra. Berbeda jika ada peristiwa-peristiwa yang mengiringi seperti saat pagi dan siang hari”, ucapnya saat obrolan kami pindah memasuki ruang tamu Kantor Camat Banyumas yang semula di tengah Tamansari.

Jadi selama Banyumas Ngibing 24 Jam Menari, antara penari dan penonton saling mengisi energi. Ada titik temu antara keduanya. Tidak berdiri sendiri. Melainkan menjadi sebuah ekosistem kehidupan antara yang di atas panggung kemudian melebar sampai peristiwa organik yang mengiringi di sekitarnya.

“Seluruh karya saya tidak berfokus pada pembentukan koreografi akrobatik, tapi lebih pada mengolah intensitas tubuh dan bagaimana tatapan itu sampai kepada audiens melalui energi yang dipancarkan” – Sri Cicik Handayani

***

Ini adalah catatan reportase yang kami kerjakan melalui riset dan wawancara langsung kepada narasumber. Isi yang dipublikasikan sudah melalui persetujuan narasumber. Tidak diperkenankan melakukan parafrase, pengambilan sebagian atau seluruhnya pada catatan ini kecuali seizin tim redaksi. Mari kita dukung kerja media partner yang mendukung ekosistem event seni budaya di Banyumas.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top