Maestro Rianto: Dari Lengger untuk Lengger

“Banyak orang yang suka dengan budaya leluhurnya. Baik itu musik, tari dan lain sebagainya. Termasuk Tari Lengger. Karena tari ini tidak hanya milik satu atau dua orang saja. Bahkan tidak hanya Banyumas (sampai Wonosobo). Tapi saya punya keinginan untuk mengajak kembali memaknai Lengger seperti apa yang dilakoni oleh para leluhur. Bukan Lengger yang sekedar tontonan dan pertunjukan apalagi sekedar geolan dari penari cantik.”

Rabu sore yang tenang. Setenang aliran sungai Serayu yang membelah Pulau Jawa. Kami bisa bertemu dan duduk manis bersama Mas Rianto. Salah satu penari lengger yang telah menari di berbagai negara, baik Asia maupun Eropa. Dia membawa budaya tanah leluhurnya hingga ke mancanegara. Memperkenalkan lengger sebagai sebuah jati diri. Menyampaikan kepada dunia bahwa seni dari Indonesia adalah seni yang tumbuh dari dalam manusianya, alamnya, dan spiritualitasnya.

Di Joglo Gayatri (Rianto Dance Studio) kami bertemu, setelah ia kembali dari Istana Negara, membawa penari Banyumas untuk tampil di Upacara Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia. Meskipun sedang sibuk raga dan pikiranya untuk mempersiapkan Bisik Serayu Festival (BSF) 2025 -kami bertemu H-3 pembukaan Bisik Serayu Festival– tidak membuat Mas Rianto mengabaikan kehadiran kami.

Sambil menerima telepon dari sana-sini dan memberi arahan kepada tim BSF, banyak hal yang bisa kami obrolkan. Tentunya obrolan itu bisa menjadi penyemangat untuk kita semua.

Menurut Mas Rianto, seni itu yang seperti apa, dan apakah hidup kita membutuhkan seni?

Tentu hidup kita ini membutuhkan seni. Tapi tidak harus semuanya menjadi seniman. Akan tetapi bagaimana hubungan kita dengan orang lain dan juga alam semesta ini. Karena alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan untuk hidup bersandingan dengan manusia. Dan manusia sebagaimana leluhur kita, mampu membaca alam semesta untuk membawa kehidupannya supaya lebih baik. Leluhur kita punya ilmu titen, dalam berhadapan dengan alam. Mereka memposisikan alam semesta sebagai subjek. Tidak hanya objek belaka. Dan dengan senilah hati kita akan tertaut dengan alam semesta.

Mengapa seni perlu dilestarikan, apakah ada potensi tidak lestari?

Perlu kita lestarikan. Karena para leluhur kita dalam memberikan tuntunan kepada anak cucunya melalui simbolik. Seperti kita ketahui, bahwa banyak ajaran dari leluhur kita dari budaya tutur dan juga dalam bentuk budaya, seperti tarian, lagu, alat musik dan lain sebagainya. Bukan dalam bentuk tulisan atau teks. Tapi kita generasi muda harus bisa membacanya. Memaknai budaya-budaya yang diturunkan oleh leluhur kita.

Kita harus belajar membaca alam semesta ini, sebagaimana leluhur kita. Dan melalui seni-budaya, pembacaan itu dilakukan. Oleh sebab itulah seni budaya terutama dari tanah kita sendiri harus dilestarikan. Karena banyak nilai, ajaran dan tuntunan dalam menjalaini kehidupan. Jadi tujuan dari pelestarian itu karena nilai baik dari ajarannya.

Apakah seni pertunjukan tari sama dengan joget?

Sebenarnya itu hanyalah istilah ya. Sama-sama gerak tubuh. Tapi seni tari adalah bentuk dari kita sebagai manusia membaca alam sekitar. Lalu kita respon dalam gerakan-gerakan tubuh kita. Alam sekitar termasuk alam sosial masyarakat yang kita ada di dalamnya.

Seperti lengger misalnya. Lengger kalau kita melihat dari akarnya adalah bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan rezeki. Dahulu, lengger dilakukan sebelum masa tanam dan juga saat panen. Banyak orang yang menafsirkan apa itu lengger. Kalau ajaran guru dan leluhur saya, lengger itu adalah cara leluhur memberikan pitutur kepada anak cucunya. Lengger, “elingo ngger“, tetaplah ingat siapa diri kita, siapa yang menciptakan dan memberikan anugerah selama ini.

Jadi lengger bagi saya adalah menjadi jalan pemaknaan kembali akan siapa diri kita dan hubungan kita dengan pencipta. Dari setiap gerakan dan hentakan lengger adalah hasil dari leluhur kita membaca alam semesta ini.

Apa yang ingin Anda sampaikan kepada masyarakat melalui seni pertunjukan tari?

Pertunjukan tari adalah bagian dari masyarakat. Termasuk ada nilai tuntunan kehidupan di dalamnya. Sehingga melalui pertunjukan tari, masyarakat tidak hanya terhibur, tapi bisa mengingat dan belajar kembali ajaran kebaikan dari leluhur kita.

Selain itu, ketika kita tampil di Eropa, kita menampilkan bahwa tubuh manusia adalah soft machine. Negara barat memang maju dalam mesin industrinya, sedangkan kita sebagai orang Asia, maju dalam seni dan rasa sebagai teknik. Dan itulah yang ingin kita tunjukkan. Karena hal itulah keunggulan kita.

Di mana saja Anda pernah pentas pertunjukan tari?

Alhamdulillah ya, kita sudah dikenal di beberapa negara di Asia dan Eropa. Yang terdekat ini saya akan tampil di Singapura di Esplanade Theatre atau The Esplanade. Itu adalah sebuah pusat seni pertunjukan yang terletak di Marina Bay dekat mulut Sungai Singapura. Setelah itu ke Australia.

Apa tantangan yang dihadapi namun sampai sekarang belum terpecahkan?

Saya ingin menuliskan biografi tentang Maestro Lengger yang ada di Banyumas Raya ini. Supaya kiprah mereka tidak terlupakan. Para sesepuh tari dengan ajaran-ajaran kehidupan mereka. Semoga itu bisa terwujud. Termasuk menuliskan hasil penelitian dan perenungan saya tentang penari wuru saat pementasan lengger. Ditunggu ya. . .

Bagaimana masa depan seni pertunjukan tari dan seniman tari?

Kolaborasi dan saling berhubungan baik adalah kunci. Kita tidak bisa berkembang dan tumbuh sendiri. Ada peran serta masyarakat, pemerintah, pecinta budaya, dan para pengelola sanggar tari. Ketika kita membawa nilai yang kuat, terutama menjadikan laku budaya kita dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya pentas, maka saya yakin, masa depan seniman tari akan baik. Karena tari pertunjukan tidak hanya sebagai latar. Ia harus tampil untuk menggerakkan, sebagaimana semesta ini bergerak.

1 komentar untuk “Maestro Rianto: Dari Lengger untuk Lengger”

  1. Pingback: Lengger sebagai Literasi Budaya dan Ekologi Banyumas - Temenan BIL Fest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top