Bisik Serayu 2025: Definisi ‘Dengan Rendah Hati Mempersembahkan’

Kalau tidak salah ingat, semasa SMA dulu aku pernah menerima selembar leaflet sebuah acara festival di Yogyakarta. Aku tidak ingat nama instansi yang menyelenggarakan kegiatan tersebut juga tidak ingat nama kegiatannya, yang aku ingat festival tersebut diselenggarakan oleh salah satu sekolah atau kampus. Leaflet itu berkesan untukku karena penggunaan kalimat “dengan bangga mempersembahkan” yang biasanya ada di atas tulisan nama acara tidak aku temukan, yang aku temukan adalah kalimat “dengan rendah hati mempersembahkan.” Aku jatuh hati membacanya. Terkesan dekat, santun, menyenangkan, dan terasa tulus mengundang untuk hadir bersuka cita. Sayangnya, belum rezekiku untuk hadir di acara yang leaflet-nya sampai ke Purwokerto dan membuatku jatuh hati. Namun aku berharap akan ada rezeki untukku hadir dalam festival yang memberikan perasaan seperti yang aku rasakan saat membaca “dengan rendah hati mempersembahkan” itu.

Harapan atau doa itu sudah berumur tahunan. Ibaratnya sebuah buku, doa tersebut ada di halaman yang jauh dengan doa paling baru yang aku tulis, aku rasa wajar jika aku pun sudah tidak ingat. Di saat mungkin aku lupa dengan doa itu, Yang Maha Baik mengabulkan doa yang ‘ditulis’ bertahun lalu, yang justru aku baru menyadarinya saat sudah pulang dari berlangsungnya hari pertama festival tersebut.

Festival yang di hari pertamanya membuatku rela berpanasan dan berlama-lama berdiri. Festival yang membuatku memberanikan diri mengendarai motor dengan jarak cukup jauh sendiri, bermodal kemampuan membaca Google Maps yang seadanya (bahkan cenderung buruk) dan mental siap nyasar, berkali-kali harus putar balik karena tak kunjung menemukan gang yang ditunjukkan oleh Google Maps, sampai keputusan untuk mengobrol dengan seorang ibu pedagang jajan sebelum memarkirkan motor di lokasi acara. Festival itu ada di suatu perkampungan, masuk gang, agak ‘mblesek’, tapi ia cukup bersahaja sampai membuat orang-orang perkotaan Purwokerto, masyarakat luar kota atau pulau, hingga mereka yang dari luar negeri untuk datang.

Bisik Serayu 2025. Itu nama festivalnya. Ternyata bisiknya terdengar sampai Purwokerto, luar kota, luar pulau, hingga luar negeri. Itu saja sudah merealisasikan ekspektasiku tentang “dengan rendah hati mempersembahkan”, melihat orang-orang yang hadir dalam festival ini rasanya bukan ‘bisikan’, namun ‘seruan’ yang bergaung dan bergema. Aku cukup senang menonton penampilan tari yang dibawakan oleh para penari dari berbagai sanggar, warna-warni kostum, hingga aksesoris penarinya, terutama yang berwarna cerah menambah kesenanganku yang menyukai beragam warna terang. Dari penari berusia kanak-kanak hingga dewasa aku tonton sambil sesekali merekamnya di ponselku. Rasa bahagiaku utuh di hari pertama ketika memasuki rangkaian opening ceremony.

Seumur hidup, opening ceremony terbaik (berdasarkan euforiaku) yang pernah aku lihat adalah Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau tahun 2012, itu pun hanya lewat televisi, dan opening ceremony Bisik Serayu 2025 mungkin menjadi yang terbaik yang pertama kali aku lihat secara langsung. Opening ceremony tersebut seperti suatu arak-arakan dari ‘gerbang masuk festival’ menuju pendopo, berlanjut hingga area panggung, berakhir menuju belakang panggung yang merupakan Sungai Serayu. Keren. Bukan, terlalu keren. Sangat keren. Aku yakin ekspresiku menonton opening ceremony tersebut adalah salah satu yang paling norak. Tapi, ya, memang sekeren itu!

Aku melihat sang maestro, tuan rumah festival ini menari di atas getek dari bambu yang dibawa mengapung hingga ke tengah sungai, tepat saat itu sinar jingga keemasan matahari yang hampir tenggelam menyambut seolah lampu sorot. Terlalu keren, memukau, menakjubkan, atau apa pun itu. Padahal getek yang digunakan hanya bambu yang tidak dihias atau dicat warna-warni, hampir tidak ada pernak-pernik (selain sesaji yang dibawa dan dilarungkan), bahkan tidak ada baliho acara. Lagi-lagi aku menemukan arti “dengan rendah hati mempersembahkan” itu.

Aku rasa tidak perlu ‘berisik’ pun festival ini pasti diapresiasi. Perasaan intim dan tulus yang dipersembahkan dalam acara ini mampu membuat pengunjungnya (minimal aku) untuk mengabaikan ponsel yang biasanya menerima banyak perhatian setiap harinya. Pengalaman dan perasaan itu yang membuatku penasaran untuk hadir di hari kedua festival di tepian Sungai Serayu ini. Kira-kira, di hari terakhir ini akan ada apa lagi?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top