Kita Pernah Lebaran Minimalis

Sambil istirahat setelah silaturahmi dan berkumpul dengan keluarga, mohon izin tulisan ini menyapa saudara-saudara semua.

Masih bisa kita ingat pada tahun 2020, pemerintah menerapkan PSBB dikarenakan Covid-19 yang berkepanjangan. Dunia seakan istirahat. Hingga umat muslim di Indonesia melalui lebaran dengan sunyi. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Mobilitas manusia dibatasi. Baik antar manusia, desa sampai antar provinsi bahkan antar negara. Momen mudik jadi kucing-kucingan dengan petugas. Ada yang memilih bertahan di tanah rantau. Ada pula yang nekat mudik dengan berbagai macam strategi gerilya.

Hingga tiba saatnya lebaran. Kita pernah merasakan salat Idul Fitri dalam keadaan sepi, sunyi dan dengan jumlah jama’ah yang terbatas. Ada yang mengadakan salat Idul Fitri satu keluarga, satu RT saja, satu komplek saja. Dan banyak imam dan khotib Idul Fitri dadakan. Karena pembatasan dari pemerintah tentang kerumunan orang, dalam hal apapun. Baik itu hiburan ataupun ibadah.

Mungkin di antara kita ada yang menjadi imam dadakan atau khotib dadakan. Akhirnya kita “terpaksa” belajar bagaimana menjadi imam dan khotib. Ada hikmahnya juga. Ada ilmu yang akhirnya kita dapatkan. 

Dalam keadaan lebaran yang sunyi itu, air mata tidak dapat terbendung lagi. Karena untuk menyapa tetangga, keluarga dan saudara tidak bisa tatap muka. Video call dan telpon menjadi alternatifnya. Bahkan malam takbiran, kita di depan layar. Takbiran bersama keluarga dan kolega melalui aplikasi zoom, video call atau melihat siaran di televisi dan live youtube. Suara takbiran di masjid masih terdengar. Namun jika kita datangi, masjid-masing kosong. Hanya segelintir orang saja.

Keadaan lebaran tahun 2020 itu bisa dibilang minimalis. Baik dari segi rangkaian perayaan dan biaya yang dikeluarkan. Ya mungkin saja ada di antara kita yang malah pengeluarannya lebih banyak. Karena pembelian internet jadi lebih banyak. Tidak hanya untuk kue saja. Ada internet yang harus menyala.

Lebaran tanpa salaman (jabat tangan) benar-benar terjadi. Dan kata-kata lewat sms jaman dulu, “ketika tangan tidak mampu menjabat” benar-benar pernah terjadi dalam kehidupan kita di medio tahun 2020 itu. Kita berlebaran hanya dengan keluarga inti saja yang serumah. Atau yang ngenes adalah perantauan. Yang lebaran hanya sendirian di kosan. 

Episode dalam kehidupan kita tahun 2020 itu menjadikan kita banyak mengambil hikmah. Banyak di antara kita yang menjaga kesehatan dan mengatur pengeluaran. Mungkin ada hikmah lain yang belum sempat saya tulis. Bisa diingat-ingat lagi sendiri.

Tidak bermaksud mengorek luka lama jika ada peristiwa sedih di tahun-tahun itu. Saya hanya ingin kita sejenak bersyukur atas nikmat lebaran tahun ini. Semua sudah kembali normal. Kembali berkumpul. Kembali berbahagia. Di tengah kabar-kabar buruk dari para penyelenggara negara yang tidak ada habisnya. Heh. . . Priitt. . . .

Akhir kata, selamat lebaran untuk seluruh keluarga di Indonesia dan dunia. Kita jadikan lebaran tahun ini sebagai titik awal menjadi manusia yang lebih baik. Dengan saling memaafkan. Tentu dengan menyelesaikan hal-hal yang belum.

Maaf lahir batin yaa. . . ngaturaken sugeng riyadi. Sedoyo lepat nyuwun pangapunten, baik dari saya pribadi dan seluruh tim redaksi bilfest,id.

Semua kita maafkan. Kecuali korputor. Ngga usah di……. Priittt. . .

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top