
Dalam satu tahun ini aku menyadari bahwa dewasa adalah tentang bagaimana mengemas kesepian dengan rasa senang. Apakah dewasa itu harus selalu dihadapkan pada kehilangan? Apakah dewasa hanya tentang meninggalkan dan ditinggalkan? Aku rasa jadi dewasa itu adalah seni bertahan dalam kesakitan, seni menipu diri dari rasa takut dan kekhawatiran.
Bagaimana tidak? Dalam satu tahun ini aku dihadapkan pada banyak kehilangan, seakan tuhan mau mengujiku dengan perpisahan. Lalu inikah harga yang harus aku bayar untuk kesuksesan? Duka berkepanjangan yang harus aku bayar untuk menjemput masa depan.
Saat memutuskan untuk pergi jauh dari rumah untuk mengemban pendidikan aku lupa memastikan satu hal. Aku lupa memastikan bahwa waktu tidak akan selalu berpihak padaku. Aku salah mengira bahwa kepergianku akan membuat semuanya tetap baik-baik saja. Aku lupa bahwa manusia bisa menua, bahwa manusia adalah makhluk dinamis yang bisa berubah kapan saja. Bahwa perasaanku juga tidak akan selalu sama.
Banyak yang terjadi selama aku pergi, banyak juga yang berubah selama aku di sini. Kota kecil yang katanya nyaman, Purwokerto. Tempat aku lari dari setiap hal yang mau aku hindari, dari semua orang yang mengecewakan, dari keadaan yang tidak aku harapkan. Tapi aku lupa lari membuatku semakin jauh dari orang-orang yang kusayang. kehilangan dan penyesalan adalah harga yang harus aku bayar dalam pelarian.
Aku kira aku akan tetap punya banyak waktu bersama keluarga dan teman-temanku tapi ternyata waktu terus berjalan. aku kehilangan abah, paman, dan teman. laki-laki terbaik dalam hidupku yang memberi banyak cinta dan makna. Aku kehilangan mereka tanpa sempat berpamitan, aku ditinggalkan mereka dengan rasa sesal dan perandaian.
Andai aku bisa lebih sering pulang, andai aku lebih sering bertukar kabar, andai aku tidak membohongi diri bahwa aku juga rindu ingin bertemu, bahwa aku mau juga pulang ke tempat yang kusebut rumah. Andai aku tidak menahan diri karena menjaga jarak adalah caraku untuk tetap bertahan di kota ini, agar hatiku tidak goyah, agar aku tetap kuat mengemban rindu dan kesepian jauh dari orang-orang yang aku sayang dan menyayangiku.
Tapi ternyata jujur pada diri sendiri juga adalah sebuah kelegaan karena tidak semua orang bisa lakukan, khususnya aku. Punya tempat untuk pulang adalah keistimewaan, aku terlalu memperumit perasaan yang sederhana, bahwa rasa takut tidak seharusnya dihindari, rasa takut harus dihadapi. Dan yang aku takutkan dewasa ini cepat atau lambat akan terjadi; kehilangan. Aku takut saat tidak bisa bertemu dan merasakan kehangatan orang yang kusayang. Lalu bagaimana cara agar tabah saat ditinggalkan? Bagaimana cara menghadapi kehilangan yang sudah menjadi keniscayaan? Setiap perpisahan menghadirkan kesedihan. Lalu tidakkah kita tahu bahwa kehilangan adalah suatu keharusan dan ketetapan Tuhan.
Semua yang bernyawa pasti akan dipisahkan juga, oleh kematian. Selama masih bernyawa akan banyak yang datang dan pergi dalam hidup. Dan yang harus aku lakukan adalah bertahan dan tidak menyia-nyiakan kesempatan, pertemuan adalah hal yang harus kita ramu dengan penuh rindu. Rawatlah waktu dengan saling bertukar kabar, gunakan waktu untuk saling menghargai perasaan. Itu yang bisa kita lakukan untuk menghadapi kehilangan, mempersiapkan dengan sebaik-baiknya, menciptakan banyak waktu dan kenangan bersama, memperlakukan orang yang kita sayang dengan baik dan seharusnya. Sekali lagi jangan pernah sia-siakan waktu untuk pulang karena waktu tidak akan menunggumu, dan boleh jadi orang yang menjadi rumahmu juga tidak punya banyak waktu untuk menunggu.
Dan Tuhan membayar kontan ketakutanku dengan kehilangan. Tuhan ingin aku belajar untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan, bahwa pertemuan juga adalah kesempatan karena tidak setiap orang punya waktu untuk itu. Maka berikanlah waktu untuk bertemu, berikan waktu untuk bertukar kabar dan pulang kepada orang-orang tersayang, karena punya tempat untuk pulang adalah sebuah kelegaan.
Sebelum yang bisa kamu lakukan hanya mengenang dan menyesal. Maka pulanglah dan katakan apa yang harus kamu katakan, bahwa kamu ingin selalu bersama orang-orang yang kamu sayang, jangan lari jika rindu ingin bertemu pulanglah. Karena waktu tidak akan menunggumu, sekali lagi waktu tidak akan selalu berpihak padamu. Jadi, pulanglah Selagi kamu masih punya waktu untuk meramu rindu.
Kehilangan adalah bagian dari pendewasaan, jadi bagaimanapun sakitnya aku harus tetap melanjutkan hidup, aku harus tetap bertahan meski harus terbelenggu oleh rindu setiap waktu, yang meninggalkanku pasti juga mengharapkan yang terbaik untukku. Jadi di sela tawa kutetap sisakan duka untuk mengenangnya, mendekapnya dalam doa adalah cara untuk tetap menyayanginya.
Berbahagialah semampunya bersedihlah secukupnya. Seperti roda yang terus berputar begitupun dengan perasaan ada kalanya senang ada kalanya sedih. Nikmatilah selagi bisa merasakan sakit dan senangnya. Hiduplah lebih lama dalam ingatanku, karena selain ditinggalkan aku juga takut melupakan. Karena yang aku punya hanya kenangan maka abadilah dalam ingatan, bertahanlah dalam perasaan. Jika ingatannya hilang maka tidak ada lagi yang bisa aku rasakan, tidak ada yang bisa mengobati rasa rindu akan kehilangan. karena ditinggalkan tanpa jejak dan kenangan jauh lebih menyakitkan.
Sekelilingku selalu ramai, tapi hatiku sepi seperti ada yang tertinggal di ruang sunyi yang tak bertuan. Hanya ada kerinduan yang mendalam dan berkepanjangan, bertahun-tahun disembunyikan dengan tawa dan ceria ternyata membekas luka yang tak bisa disentuh, tak bisa diobati, hanya duka yang diromantisasi. Hanya manusia rapuh yang merasa tidak pernah utuh.
Kehilangan barang mungkin bisa beli dan cari yang baru tapi bagaimana jika kehilangan orang? Haruskah cari pengganti? Tidak. Ada beberapa hal yang tidak bisa tergantikan. Perannya mungkin hilang tapi semuanya masih lekat dalam ingatan. Terlalu banyak cinta yang mereka beri sehingga aku tidak mampu lagi menerimanya dari orang lain. Tangki cintaku sudah penuh sampai aku hanya bisa memberi cinta tanpa harus menerimanya. Tapi sayangnya cinta yang kuberi tidak bisa pada orang yang aku kehendaki; ayah, abah, paman dan teman. Yang memberiku banyak cinta sampai aku tidak mampu menerimanya lagi dari selain mereka. Hiduplah lebih lama dalam ingatanku, akan selalu aku sisakan duka di sela tawaku untuk mengenangnya. Di kehidupan selanjutnya mari hidup bersama lebih lama, tetaplah menjadi yang paling menyayangiku dan yang paling aku sayangi. Mari bertemu dalam mimpi, sekali saja. Aku rindu.
Hidup terlalu panjang jika hanya untuk merawat rasa sesal, banyak hal yang bisa kita lakukan. Banyak mimpi yang harus dikejar, banyak harapan yang ditinggalkan sekalipun mereka tidak bisa membersamai kita dalam perjalanan panjang ini. Mereka menyimpan harapan yang begitu besar untuk kebahagiaan kita, maka hiduplah lebih lama dengan penuh bahagia. Karena kehilangan berarti memberi kita kesempatan untuk kembali pada diri sendiri, menyelami hati dan berdamai dengan keadaan. menjadi pribadi yang lebih kuat dan siap menghadapi cobaan. Kehilangan juga adalah bagian dari proses belajar. Belajar bahwa tidak semua hal bisa kita gantungkan kepada manusia. Bahwa rasa cinta dan sayang juga harus berbatas. Selain pada Yang Maha Kuasa.
Hiduplah lebih lama dengan banyak cara, dengan hal-hal sederhana yang membuatmu ingin hidup lebih lama, tidak harus hal besar, hanya hal kecil yang membuatmu mau bertahan, sekarang, besok dan seterusnya. Ingat alasanmu pergi dari rumah untuk menjemput mimpi dan memperjuangkan masa depan. Maka berjuanglah terus, bertahan dan pulang.





Masya Allah..deep bgt kak wulan 🥺 semangat ya nak..teruslah menuntut ilmu dan bermanfaat buat sekitar tp jgn lupa untuk pulang, melepas rindu dg org2 tersayang. Kehilangan adalah takdir, krn setiap jiwa juga ada pemiliknya. Jgn lupa untuk sll bahagia agar org yg kita sayang juga merasakan bahagia yg kita rasakan..fightiiing💪💪🫶