Menulis: Diriku dan Perihal Hasrat yang Datang Terlambat

Pertemuan pertamaku dengan dunia penulisan bermula ketika aku bertemu dengan seorang teman yang aktif sebagai pegiat literasi di Purwokerto. Saat itu, kami mengikuti sesi diskusi tentang kegiatan literasi, khususnya membaca dan menulis. Dalam forum itu, saya melihat betapa mereka begitu antusias dan kritis saat membahas penulisan. Aku yang saat itu belum benar-benar paham dunia kepenulisan merasa seperti orang asing. Tapi justru dari sanalah muncul ketertarikanku. Aku ingin bisa seperti mereka, menulis, mengungkapkan ide, dan menciptakan karya. Sejak saat itu, aku mulai menumbuhkan niat dan semangat untuk mengembangkan diri, terutama dalam penulisan esai. Ada kebanggaan tersendiri yang kubayangkan bisa muncul dari tulisan yang lahir dari persetujuan sendiri.

Sepulang dari pertemuan itu, saya langsung mencoba menulis. Di kamar, ditemani secangkir kopi susu, aku menatap laptop sambil berpikir: ide apa yang ingin dikurung dalam bentuk esai? Meski belum terlalu banyak, semangatku saat itu begitu tinggi. Saya ingin menulis karya yang bisa diterima publik. Ini memang bukan kali pertama aku menulis. Saat semester pertama, saya sempat membuat esai dari mata kuliah Bahasa Indonesia. Di situ aku punya sedikit bekal, meski masih sangat dasar. Selain itu, saya memang sudah terbiasa menulis hal-hal lain, seperti makalah, caption panjang untuk Instagram, bahkan kadang merangkai kata dalam bentuk sajak tak beraturan. Semua itu membuatku merasa bahwa menulis itu menyenangkan, dan mungkin, ini

Namun, di balik semangat itu, ada juga keraguan yang sering muncul. Saya melihat teman-temanku yang sudah jauh lebih berpengalaman. Mereka rajin membaca, kritis, bahkan sudah punya tulisan yang tayang di berbagai media. Sementara aku masih belajar dari nol. Kadang-kadang aku merasa terlambat memulai. Di umurku yang sudah 20 tahun, aku merasa masih terlalu kaku dalam merangkai kata, terlalu ragu untuk percaya diri. Tiba-tiba saya bertanya, apakah saya cocok berada di dunia penulisan ini?

Tapi, aku tidak mau terus-menerus dikalahkan oleh keraguan. Justru karena selama ini aku sering meremehkan diriku sendiri, aku ingin membuat karya yang bisa kubanggakan. Karya yang bukan hanya jadi portofolio, tapi juga penanda bahwa saya pernah mencoba dan berani. Aku ingin bukti bahwa tidak ada yang tidak bisa, selama aku sungguh-sungguh dan terus belajar.

Menulis itu penting. Lewat tulisan, kita bisa menyampaikan banyak hal, entah informasi, hiburan, atau sekedar curahan rasa. Menulis membuat kita tidak bisu, bahkan ketika mulut tak sanggup bicara. Dari tulisan, saya ingin merasa didengarkan, bisa bercerita, dan terus mengembangkan diri. Semoga langkah kecil ini bisa menjadi awal dari perjalanan panjang yang berharga.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top