
Beberapa tahun belakangan, platform baca-tulis daring banyak digemari oleh kalangan remaja. Aplikasi seperti Wattpad, KBM App, KaryaKarsa, NovelMe, Dream, dan Fizzo banyak menjadi tujuan saat akan membaca cerita fiksi ringan sebagai sarana hiburan. Terlebih pada beberapa tahun silam, dampak dari pandemi Covid-19 menyebabkan aktivitas luar ruangan terbatas, sehingga generasi muda lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya. Meledaknya beberapa novel di suatu platform, menyebabkan kalangan remaja berbondong-bondong untuk singgah di platform tersebut. Bukan hanya sekadar membaca dan menunggu kelanjutan cerita yang sedang mereka baca, namun juga tak sedikit dari mereka yang turut serta menjadi penulis di platform tersebut.
Para author di platform digital tersebut, berlomba-lomba untuk menciptakan alur cerita yang menurutnya lebih kompleks, lebih kekinian, dan mengemasnya dengan lebih kreatif dibanding penulis lain. Hal ini menyebabkan karyanya dinanti-nanti kelanjutannya oleh para pembaca. Meskipun novelnya terdiri dari puluhan bab panjang, yang setiap babnya berisi narasi deskriptif tentang hal-hal yang dilalui tokoh, sedang dilakukan oleh tokoh tersebut, maupun yang lainnya, juga dialog yang tentu saja menghiasi setiap paragrafnya, tetap menjadi minat para remaja yang ingin mencari hiburan guna mengusir jenuh. Walau bacaan yang menjadi seleranya memiliki alur cerita yang rumit dan berat, tetap saja menjadi pilihan saat ingin mengusir jenuh di waktu senggang.
Pesaing Baru Wattpad dkk
Namun kini cerita dengan narasi panjang dan alur konpleks sudah memiliki pesaing, bubble chat ala WhatsApp yang berisi fake chat kini mulai digemari oleh pembaca. Tak jarang pembaca novel komersial berpindah haluan menjadi pembaca Alternative Universe atau yang kerap disebut AU. “Nah, AU fake chat ini sebenarnya apa sih?”
Sederhananya begini, AU adalah cerita yang menempatkan tokoh—entah fiksi maupun nyata—ke dalam “semesta buatan” yang berbeda dari dunia aslinya. Misalnya saja Xu Kai, yang di dunia nyata sebenarnya merupakan seorang aktor drama China, yang kemudian dalam imajinasi author, diubah menjadi seorang mahasiswa yang setiap harinya sibuk di organisasi kampus yang kemudian jatuh cinta pada si tokoh perempuan. Lalu penyampaian kisah romansa keduanya bukan dalam bentuk narasi panjang dengan berbagai dialog dan memiliki puluhan bab, namun oleh author dibuat menjadi percakapan singkat layaknya chatting di ponsel. Selain itu, author juga menggunakan foto-foto Xu Kai sebagai tambahan agar pembacanya semakin mudah dalam berimajinasi saat membaca fake chat buatannya.
Fitur Bubble Chat
Bukan hanya sekedar chatting saja, biasanya author menyisipkan gambar visual dalam chat tersebut agar pembacanya tidak kesulitan membayangkan tempat, benda, atau tokoh lain yang disebutkan dalam bubble chat antar tokoh. Selain itu, thread ala Twitter atau X biasanya juga disertakan, sebagai bentuk ungkapan hati dari si tokoh. Fake notifikasi, fake story bahkan fake media sosial biasanya digunakan sebagai pendukung penyampaian cerita dan agar alur cerita yang dibuat menjadi lebih hidup.
Jadi pembaca tak perlu lagi membaca satu bab panjang yang mungkin saja bisa terdiri dari dua ribu kata, cukup menggeser slide berisi percakapan melalui bubble chat sudah dapat memahami alur cerita tersebut. Alternative Universe juga bisa ditemui di media sosial seperti TikTok, Instagram serta X, sehingga dianggap lebih mudah menjangkau pembaca.
Nah, perubahan yang terjadi secara signifikan ini bukan hanya sekadar perubahan format gaya penulisan maupun penyampaian cerita. Melainkan juga terdapat pergeseran pada cara author menyampaikan imajinasinya, cara pembaca mengikuti dan terbawa alur cerita, bahkan di selera bacaan yang digemari pembaca. Perubahan itu terjadi karena pembaca merasa bahwa penyampaian cerita dengan fake chat lebih mudah dipahami, lebih cepat nyambung, membacanya tidak membutuhkan banyak waktu, serta dianggap lebih realistis. Sesuai dengan kehidupan mereka yang serba digital, fake chat terasa lebih familiar dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan tak jarang pembacanya adalah penggemar dari tokoh nyata yang dijadikan visual oleh author.
Meskipun begitu, Alternative Universe dalam bentuk percakapan gelembung seperti ini mengurangi minat generasi muda untuk membaca narasi panjang yang bahkan bisa berlembar-lembar setiap babnya. Kosakata yang diperoleh juga tidak sebanyak mereka yang membaca novel narasi dan dialog. Ada juga pembaca yang kecewa dengan AU favoritnya yang saat terbit menjadi naskah cetak tak lagi mendapatkan feel, karena penulisan yang tadinya hanya berupa fake chat berubah menjadi narasi panjang dan dialog. Hal ini terjadi karena pembaca tersebut sudah terbiasa menyelami dunia buatan author tersebut dalam bentuk obrolan singkat di ponsel dan tulisan berupa narasi membutuh waktu lebih lama untuk dibaca.
Selain itu, anak muda zaman sekarang yang lebih memilih AU karena menganggap bahwa format penulisannya instan. Hal ini terjadi karena mereka sudah terbiasa scroll video pendek setiap harinya. Kebiasaan itulah yang membuat minat baca menjadi semakin menurun, karena dimanjakan dengan konten yang langsung ke inti cerita. Jadi tidak heran jika mereka lebih menykai percakapan singkat ala AU yang diunggah di media sosial dibanding narasi panjang yang penuh deskripsi.
Namun, semua kembali ke preferensi dan pasar masing-masing. Ada yang lebih suka larut dan berimajinasi dengan membaca narasi panjang yang kaya akan deskripsi. Ada juga yang lebih suka cerita dengan penyampaian ringan dan cepat seperti Alternatif Universe. Kalau kamu, lebih suka tenggelam dalam narasi atau bubble chat yang praktis dan instan?

Isnanur Karomah, seorang gadis 23 tahun yang gemar mengekspresikan diri melalui narasi monolog. Karya recehnya bisa dibaca di platform baca tulis Wattpad, Teenlit, maupun akun Instagram pribadi. Dapat dihubungi melalui akun Instagram @snnwrk maupun email isnakpenulis@gmail.com.





ThankTipe pemalas dalam segala hal sih saya kak, kayaknya lebih tertarik ke Bubble chat yang ringan dan mudah dipahami 😌