
Mungkin untuk mukadimah dalam tulisan ini, saya ingin memulainya dengan sebuah kalimat tanya, “Apakah sejarah ditulis oleh pemenang?”.
Pada awal tahun 2025 negeri kita memiliki pengumuman penting khususnya di kalangan sejarawan tentang sebuah proyek besar dengan judul “Penulisan Ulang Sejarah Nasional Indonesia”, yang di komandoi oleh Menteri Kebudayaan – Fadli Zon, bersama kurang lebih 120 orang. Mereka terdiri dari penulis, guru besar, maupun sejarawan dari berbagai macam latar belakang. Dengan tujuan menghasilkan sejarah resmi bernuansa “Indonesia Sentris.” Guna merevisi narasi-narasi yang sudah ada dan penambahan beberapa hal baru seperti temuan- temuan baru para arkeolog ataupun catatan sejarah baru lainnya.
Berdasarkan apa yang saya pahami tentang “Indonesia Sentris”, yaitu bermakna penulisan sejarah berdasarkan perspektif/sudut pandang Bangsa Indonesia, guna menghilangkan bias-bias kolonial, memperkuat identitas bangsa dan rasa cinta tanah air. Misalkan narasi tentang Indonesia dijajah selama 350 tahun, menjadi Indonesia memperjuangkan kemerdekaan selama 350 tahun. Mungkin lebih simpelnya menonjolkan upaya perlawanan/perjuangan Bangsa Indonesia.
Proyek besar ini banyak sekali menerima pro dan kontra di kalangan masyarakat dan itu sangat wajar. Karena memang program yang besar pasti akan banyak sekali hal yang terkait dengannya wabil khusus dampak dan prosesnya.
Seringkali saya tidak cukup berani untuk bertanya kecuali kepada diri saya sendiri sembari mencari-cari jawaban di jagad media maya dan menerka-nerka, “oh mungkin gini”, “oh ternyata bukan”,“ternyata begini” dan seterusnya.
Untuk beberapa orang mungkin melakukan hal-hal semacam itu agak males –kek ngga ada kerjaan aja. Karena tidak bisa dipungkiri kebanyakan dari kita berfikir “negara udah ada yang mikirin, ngapain kita ikut-ikutan?. Toh juga ora bakalan ngaruh apa-apa. Mendingan mikirin kerjaan aja, mikirin penghasilan, naikin harga diri dan bla-bla-bla. Sesuatu yang berbau nilai “peran sosial” kita dalam bermasyarakat.
Terlebih lagi bagi kita yang memang sudah memiliki kewajiban dalam hal bekerja baik itu pria ataupun wanita. Seringkali kita lalai terhadap hal-hal di sekitar. Kita sibuk dengan dunia kita sendiri, sehingga enggan untuk membuka mata terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar kita khususnya dalam hal bernegara. Selayaknya judul lagu “Lelaki Bekerja” dan “Kemaki” – The Working Class Symphony.
Berangkat dari hal tersebut saya ingin mencoba menuliskan apa-apa yang terlintas di kepala saya sebagai orang awam.Mungkin lebih tepatnya merangkum hal-hal yang saya baca.
Kemana Semua Hal Besar Ini?
Berdasarkan apa yang saya baca isi dari draft proyek besar ini, berjumlah 10 jilid yang terdiri dari :
JILID 1 : Sejarah Awal Indonesia dan Asal-Usul Masyarakat Nusantara
JILID 2 : Nusantara dalam Jaringan Global : India dan Cina
JILID 3 : Nusantara dalam Jaringan Global : Timur Tengah
JILID 4 : Interaksi dengan Barat : Kompetisi dan Aliansi
JILID 5 : Respon Terhadap Penjajahan
JILID 6 : Pergerakan Kebangsaan
JILID 7 : Perang Kemerdekaan Indonesia
JILID 8 : Masa Bergejolak dan Ancaman Integrasi
JILID 9 : Orde Baru (1967-1998)
JILID 10 : Era Reformasi (1999 – 2024)
Ada beberapa hal yang dikritik dalam proyek besar ini. Pertama, perencanaan dan waktu penyusunan yang terlalu singkat bahkan terkesan terburu-buru. Karena proyek ini ditargetkan akan rampung pada bulan Agustus tepatnya ketika memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-80 –bayangkan sejarah ditulis ulang dalam kurun waktu kurang lebih 7-8 bulan?.
Kecemasan terhadap potensi untuk menghilangkan fakta-fakta pelanggaran HAM pihak- pihak tertentu yang pernah terjadi di masa lalu. Guna mengaburkan atau memanipulasi sejarah demi keuntungan suatu kelompok. Berdasarkan apa yang saya dapat, dalam proyek besar ini ada banyak pelanggaran-pelanggaran HAM khususnya orde baru dan era reformasi yang bahkan sudah diakui oleh negara tidak dimuat di dalamnya atau dimuat namun tidak secara terperinci sehingga terkesan ditutup-tutupi.
Selain kasus pelanggaran HAM, sejumlah peristiwa penting seperti Kongres Perempuan 1928, Konferensi Asia Afrika 1955, penyelenggaraan Asian Games 1962 dan Ganefo (the Games of the New Emerging Forces) 1963 di mana Indonesia menjadi tuan rumahnya juga tidak dimuat di dalamnya.
Selanjutnya, berpotensi sebagai alat propaganda. Meskipun Susanto, Guru Besar FIB Universitas Indonesia – sebagai tim editor umum, menjamin buku sejarah yang dihasilkan nanti tetap berdasarkan kajian akademik dan beliau juga berkata, “Segala macam kekhawatiran publik tentang sejarah kelam/politik yang bersinggungan dengan pemerintah akan tetap dituliskan sesuai dengan porsinya”. Tetapi tetap saja, cara penyajian sejarah, informasi yang dipilih, narasi serta porsi suatu peristiwa dapat membentuk persepsi yang berbeda. Dikhawatirkan hal tersebut dijadikan alat untuk mempengaruhi opini publik dan membentuk citra tertentu.
Hal lain, kurangnya transparansi dalam penulisan. Temen-temen pembaca boleh mencari artikel- artikel tentang “Penulisan Ulang Sejarah Indonesia”, pasti yang keluar itu-itu aja. Sedangkan untuk hal-hal yang lebih terperinci akan sangat sulit untuk kita mendapatkan informasinya.
Terakhir, program ini berpotensi melahirkan tafsir tunggal. Sehingga versi lain mungkin akan dianggap menyimpang bahkan subversif.
Kekuasaan Ditanamkan Lewat Pikiran?
Sejarah dapat membentuk identitas nasional, rasa persatuan, cinta tanah air, kebanggaan dan bahkan sikap kita dalam menilai suatu hal. Namun, hal itu juga akan sangat berbahaya apabila narasi-narasi yang tercipta hanya akan didominasi oleh pihak-pihak atau hal-hal tertentu –dominasi kultural tim penulis— sehingga mungkin akan tercipta marginalisasi kelompok minoritas baru.
Karena sejarah dapat membentuk suatu keyakinan yang mungkin tanpa kita sadari. Dan dari keyakinan tersebutlah kita menerima dan mempercayai suatu hal tertentu.
Jika ada perubahan dengan suatu keyakinan, hal itu juga akan merambah ke berbagai aspek lainnya yang mungkin berujung pada perubahan sosial yang signifikan.
Dan seringkali sejarah digunakan untuk hal-hal semacam itu guna memperlancar bahkan mempertahankan kekuasaan suatu kelompok tertentu dengan citra yang mungkin dibangun sedemikian rupa. Membentuk pola pikir baru guna mendukung ideologi-ideologi yang dominan dan mengabaikan pandangan yang mungkin berbeda dari yang sudah ada.
Jalurnya lewat mana? Kemungkinan terbesar adalah pendidikan. Seperti yang kita tau bahwa, meskipun tidak ada perubahan total. Perubahan kurikulum hampir selalu ada di setiap masa pemerintahan baru bahkan seolah-olah hal tersebut menjadi hal yang lumrah.
Sejarah Berwajah Nasional
Penulisan ulang sejarah nasional diharapkan berwajah nasional. Entah itu hal baik ataupun hal buruk. Dulu saya kira sejarah adalah sesuatu yang netral, sesuatu yang benar-benar terjadi di masa lampau. Namun ternyata sejarah adalah hal-hal pilihan, baik itu sesuatu yang dianggap penting dan siapa yang dianggap layak dikenang sehingga menciptakan suatu rangkaian cerita yang disusun sedemikian rupa. Sejarah dibentuk dalam waktu tertentu, oleh kepentingan tertentu dan untuk tujuan tertentu.
Program “Penulisan Ulang Sejarah Nasional Indonesia” ini diharapkan berwajah nasional bukan hanya di dominasi oleh pihak-pihak tertentu. Karena sejarah yang adil adalah sejarah yang membuka ruang bagi siapapun, membuka ruang pada hal-hal yang mungkin belum selesai, bagi suara-suara yang mungkin masih tertahan agar ia menjadi milik kita semua, bukan hanya milik suatu lembaga. Bukankan sebainya kita harus adil sejak memulainya. Rahayu.

Tiko Rizqi,seorang pria yang bercita-cita bisa baca dan memahami apa yang dibaca. Bisa disapa lewat kolom komentar di tulisannya.




