
Sastrawan Kultural vs Sastrawan Siberpunk
Pagi itu hujan turun di kota. Rintiknya membasuh kaca-kaca kedai kopi di sudut jalan, menciptakan gurat abstrak yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang yang terbiasa menunggu.

Pagi itu hujan turun di kota. Rintiknya membasuh kaca-kaca kedai kopi di sudut jalan, menciptakan gurat abstrak yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang yang terbiasa menunggu.

Momen sederhana ini mungkin tampak lucu. Tapi kalau kita dalami, ada pelajaran besar di balik sujud kecil itu.

Bayangkan jika anak-anak hanya tumbuh dengan buku teks. Mereka mungkin pintar berhitung, tetapi belum tentu peka merasakan. Mereka mungkin hafal rumus, tetapi asing dengan empati. Buku nonteks hadir untuk menutup celah itu.