Menyulam Literasi dari Buku Nonteks

Catatan Refleksi Lokakarya Penilai Buku Nonteks Kemdikdasmen

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana sebuah buku tanpa rumus, tanpa soal latihan, tanpa teori kaku bisa begitu kuat memengaruhi cara anak melihat dunia? Ya, itulah yang disebut buku nonteks. Di akhir Agustus 2025, saya bersama lebih dari seratus peserta lain berkesempatan hadir di sebuah lokakarya yang membicarakan hal ini. Lokasinya di Hotel Arya Duta, Tugu Tani, Jakarta—sebuah hotel yang sehari-hari tampak biasa, namun selama tiga hari itu berubah menjadi ruang percakapan literasi.

Bayangkan suasana ruang pertemuan yang dipenuhi orang-orang dengan latar belakang berbeda: penulis, penerbit, ilustrator, hingga akademisi. Masing-masing membawa kegelisahan yang sama, yaitu bagaimana buku nonteks dapat dinilai dengan adil dan bermartabat. Sebab bagi sebagian orang, istilah ini masih terdengar asing. Tetapi bagi mereka yang hadir, buku nonteks adalah denyut literasi yang tidak bisa diabaikan.

Mengapa penting? Karena anak-anak tidak hanya tumbuh dengan buku pelajaran. Mereka juga belajar dari cerita rakyat, komik edukatif, ensiklopedia populer, hingga buku aktivitas yang menyenangkan. Di situlah nilai sebuah buku nonteks—ia menjadi jembatan antara belajar yang formal dengan pengalaman hidup yang nyata.

Saya sendiri datang dari Banyumas. Bagi saya, perjalanan ini bukan sekadar memenuhi undangan. Ada rasa ingin tahu: bagaimana cara negara, melalui Kemdikdasmen, menilai karya yang sering kali dianggap pelengkap. Benarkah buku nonteks hanya tempelan, atau justru kunci untuk membangun karakter anak bangsa?

Mari saya ajak Anda menelusuri catatan-catatan selama lokakarya. Bukan sekadar laporan, melainkan refleksi: apa yang bisa kita petik bersama sebagai penulis, penerbit, ilustrator, bahkan pembaca buku.

Paradigma Baru yang Mengubah Arah

Sesi pertama dibuka oleh Bahrul Hidayat, Ph.D. Ia memaparkan Paradigma Baru Penilaian Buku Nonteks Pelajaran. Dengan suara tenang namun penuh keyakinan, ia mengatakan: “Buku nonteks bukan pelengkap. Ia adalah jalan utama untuk melatih empati, imajinasi, dan keberanian anak.” Coba renungkan kalimat itu sejenak. Bukankah sering kali kita menganggap serius hanya buku teks, sementara buku cerita dianggap hiburan?

Bagi seorang penulis, paradigma baru ini seperti suntikan energi. Cerita sederhana tentang anak kampung yang berteman dengan pohon tiba-tiba terasa sama pentingnya dengan buku pelajaran IPA. Karena di dalam cerita itulah nilai empati dan kepekaan sosial ditanamkan. Jadi, buku nonteks bukan sekadar jeda, melainkan inti dari proses belajar.

Lalu bagaimana dengan ilustrator? Paradigma ini menegaskan peran mereka bukan sekadar penghias. Gambar adalah pintu pertama yang menyapa pembaca kecil. Tanpa ilustrasi yang hidup, teks mungkin akan kering dan sulit dicerna anak-anak. Paradigma baru mengingatkan kita bahwa imajinasi anak dibuka lebih dulu lewat gambar, baru kemudian teks mengikuti.

Penerbit pun tidak kalah penting. Selama ini, sebagian penerbit masih menempatkan buku nonteks sebagai produk sampingan—diterbitkan bila ada pesanan, atau kalau pasar menghendaki. Paradigma baru menantang mereka: beranikah Anda melihat buku nonteks sebagai pilar utama literasi? Tidak sekadar hitung-hitungan laris atau tidaknya di pasar.

Anda mungkin bertanya, apa dampaknya bagi kita sebagai pembaca? Dampaknya jelas: jika penulis, ilustrator, dan penerbit bersama-sama memandang serius buku nonteks, anak-anak kita akan tumbuh dengan bacaan yang lebih beragam, lebih adil, dan lebih dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Instrumen Penilaian dan Tantangan Kreatif

Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Moh Syafrudin tentang Instrumen Penilaian Buku Nonteks. Bagian ini terdengar teknis, tetapi jangan salah: justru di sinilah perdebatan hangat terjadi. Bagaimana cara menilai buku cerita bergambar? Apa ukuran yang adil untuk komik edukatif? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin juga ada di benak Anda.

Bagi penulis, instrumen ini adalah pengingat bahwa kebebasan menulis tidak boleh lepas dari tanggung jawab. Cerita yang menarik tetap harus sesuai dengan tahap perkembangan pembaca. Jadi, menulis bukan hanya soal indahnya kata-kata, melainkan juga kecermatan memilih pesan. Penulis ditantang untuk kreatif sekaligus bijak.

Instrumen juga menyentuh peran penerbit. Bukankah penerbit sering bingung menentukan standar kualitas buku nonteks? Nah, panduan penilaian ini memberi peta jalan. Dengan begitu, penerbit tidak hanya menilai dari segi estetika atau potensi pasar, tetapi juga dari sisi edukatif dan kebermanfaatan sosial.

Ilustrator pun mendapat tantangan. Bayangkan, gambar bukan lagi dinilai sebatas bagus atau tidak, melainkan apakah ia membantu anak memahami teks, sesuai usia, dan bebas dari bias. Seorang ilustrator dituntut lebih dari sekadar seniman; ia adalah pendidik visual.

Dari sudut pandang pembaca, instrumen ini menjanjikan satu hal: buku nonteks yang sampai ke tangan kita akan lebih terjamin mutunya. Tidak lagi asal terbit, tetapi melalui proses kurasi yang ketat. Dengan begitu, orang tua lebih tenang, guru lebih percaya, dan anak-anak lebih menikmati.

Buku Berjenjang

Materi berikutnya yang dibawakan oleh Hestia Istiviani, S.IIP, tentang Penilaian Buku Berjenjang, menjadi salah satu yang paling menarik. Ia memperkenalkan konsep buku berjenjang, yaitu buku yang disusun sesuai tingkat kesulitan bacaan dan tahapan usia pembaca.

Di Indonesia, konsep ini masih belum banyak dipahami. Banyak penerbit hanya membedakan buku anak, remaja, dan dewasa, tanpa benar-benar memikirkan jenjang keterampilan membaca. Padahal, perjenjangan buku sangat penting agar anak-anak tidak merasa terlalu dipaksa atau justru terlalu mudah hingga cepat bosan.

Hestia menjelaskan bahwa perjenjangan buku biasanya dibagi ke dalam lima level: jenjang A (pembaca dini), jenjang B (pembaca awal), jenjang C (pembaca menengah/semenjana), jenjang D (pembaca tingkat lanjut/madya): dan jenjang E (pembaca mahir).

Perjenjangan ini bukan sekadar klasifikasi, tetapi strategi untuk memastikan bahwa anak tumbuh bersama bacaan yang sesuai dengan tahap perkembangan literasi mereka. Tanpa jenjang yang jelas, anak bisa kehilangan minat atau merasa frustrasi.

Hestia menekankan bahwa penilaian buku nonteks harus mempertimbangkan perjenjangan ini. Sebuah buku bergambar dengan kosakata sederhana, misalnya, tidak bisa dinilai dengan standar yang sama seperti novel remaja. Dengan demikian, peran penilai bukan hanya menimbang isi, tetapi juga memastikan kesesuaian level bacaan dengan kebutuhan anak.

Aspek Legal dan Norma

Selanjutnya, Arip Senjaya membahas Aspek Legal dalam penilaian buku nonteks. Anda mungkin berpikir ini bagian yang kaku, tetapi percayalah, aspek ini sangat menentukan. Hak cipta, izin edar, hingga perlindungan pembaca adalah pondasi yang tidak boleh diabaikan. Tanpa perlindungan hukum, karya penulis dan ilustrator bisa mudah disalahgunakan.

Di samping aspek legal-formal, ada pula dimensi yang lebih akademis dan praktis: atribusi. Atribusi adalah bentuk penghargaan terhadap sumber ide, teks, maupun visual yang digunakan dalam sebuah buku. Dalam konteks global, praktik atribusi biasanya merujuk pada sistem sitasi yang sudah baku, seperti Chicago Manual of Style, American Psychological Association (APA) Style, dan Modern Language Association (MLA) Style.

Masing-masing gaya sitasi memiliki karakteristik. Chicago Style dikenal fleksibel, banyak dipakai dalam penulisan sejarah atau humaniora, dengan opsi catatan kaki maupun catatan akhir. APA Style, lazim dalam ilmu sosial, menekankan kejelasan tahun publikasi untuk menunjukkan kemutakhiran sumber. Sementara MLA Style, populer di bidang sastra dan studi budaya, lebih menekankan nama pengarang dan halaman untuk memudahkan rujukan langsung ke teks.

Dalam konteks penilaian buku nonteks, gaya sitasi ini penting bukan sekadar soal teknis akademik, tetapi juga sebagai wujud transparansi dan integritas penulis. Buku ensiklopedia anak, misalnya, yang memuat data sains atau geografi, perlu memiliki daftar pustaka dengan atribusi jelas. Tanpa itu, buku bisa dianggap melanggar etika penulisan sekalipun secara narasi menarik.

Sofie Dewayani, Ph.D, yang membawakan materi Komponen Norma dalam Penilaian Buku Nonteks, menambahkan bahwa norma bukan hanya aturan tertulis, melainkan juga nilai sosial yang harus dijaga. Salah satunya adalah kejujuran akademik dalam menyebut sumber. Dengan demikian, ketika penilai menemukan buku nonteks tanpa atribusi yang jelas, itu bukan hanya masalah teknis, melainkan pelanggaran norma etis.

Di sinilah aspek legal dan norma bertemu. Hak cipta melindungi pencipta, sedangkan sistem atribusi internasional memastikan budaya literasi yang sehat. Penilaian buku nonteks tidak boleh mengabaikan keduanya. Sebab, literasi sejati adalah tentang belajar jujur pada ide, menghargai karya orang lain, dan membangun pengetahuan bersama.

Penyajian dan GEDSI

Dian Kristiani, S.S membawakan materi tentang Penyajian. Saya yakin Anda pernah melihat buku yang isinya bagus tetapi tampilannya muram. Sayang sekali, bukan? Penyajian adalah kunci. Warna, tipografi, hingga tata letak bukan sekadar kosmetik, melainkan strategi pendidikan yang membuat anak betah membaca.

Di sini, ilustrator memainkan peran vital. Pilihan warna yang cerah, ekspresi tokoh yang hangat, hingga tata letak yang lapang bisa membuat anak merasa nyaman. Jadi, penyajian bukan sekadar soal indah, tetapi soal bagaimana visual mendukung proses belajar.

Penerbit pun perlu menyadari hal ini. Jangan hanya berpikir “yang penting isi bagus.” Anak-anak sering kali pertama-tama tertarik pada tampilan luar. Maka, keputusan desain dan produksi menjadi bagian penting dari strategi literasi.

Materi terakhir tentang GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) dibawakan oleh Okky Madasari, Ph.D dan Ida Ayu Oka Rusmini. Okky, dengan gaya sastrawannya, menegaskan bahwa literasi sejati harus merangkul semua. Buku nonteks tidak boleh membuat siapa pun merasa terpinggirkan.

Bagi penulis, penerbit, dan ilustrator, pesan ini adalah pengingat keras: beranilah menulis, menggambar, dan menerbitkan dengan keberpihakan. Bagi kita pembaca, GEDSI adalah ajakan untuk memilih bacaan yang adil, sehingga anak-anak tumbuh dengan kesadaran inklusif sejak dini.

Dari Ruang Diskusi ke Ekosistem

Tiga hari lokakarya berlalu. Jika Anda membayangkan acara ini hanya berupa materi satu arah, Anda keliru. Suasana ruang pertemuan berubah menjadi forum dialog. Penulis, penerbit, dan ilustrator saling berjumpa, saling belajar. Para penilai hadir bukan untuk menggurui, tetapi untuk memberi panduan agar kualitas buku terjaga.

Bagi penulis, ini adalah kesempatan menyadari bahwa kreativitas harus bertemu dengan kepekaan sosial. Tidak cukup hanya menulis indah, tetapi juga harus relevan dan adil. Bagi ilustrator, ini adalah panggilan untuk menggambar dunia yang ramah bagi semua anak.

Penerbit pun mendapat peran penting. Mereka ditantang untuk berani menerbitkan karya yang bermakna, meski mungkin tidak selalu laku keras di pasar. Sebab buku nonteks bukan sekadar bisnis, melainkan investasi masa depan bangsa.

Saya merasakan, perjalanan dari Banyumas ke Jakarta bukan sekadar menghadiri lokakarya. Kami pulang dengan banyak catatan dan inspirasi. Kami sadar, tugas ini tidak ringan, tetapi justru di situlah letak maknanya.

Bisa jadi Anda yang membaca ini juga bagian dari ekosistem literasi—entah sebagai guru, orang tua, penulis, atau ilustrator. Jika demikian, percayalah: peran kita tidak kecil. Buku nonteks adalah milik kita semua.

Jalan Panjang Literasi

Ketika lokakarya ditutup, suasana ruangan terasa penuh harapan. Para peserta tahu bahwa pekerjaan mereka baru saja dimulai. Penilaian buku nonteks adalah jalan panjang, penuh detail, dan menuntut integritas. Tetapi justru di situlah masa depan literasi sedang ditenun.

Buku nonteks memberi ruang bagi anak-anak untuk belajar tanpa merasa dipaksa. Ia adalah jendela kecil yang membuka cakrawala luas. Tanpa buku nonteks, dunia literasi anak-anak akan terasa kering dan sempit.

Bayangkan jika anak-anak hanya tumbuh dengan buku teks. Mereka mungkin pintar berhitung, tetapi belum tentu peka merasakan. Mereka mungkin hafal rumus, tetapi asing dengan empati. Buku nonteks hadir untuk menutup celah itu.

Seperti kata Okky Madasari, “Literasi sejati bukan soal bisa membaca, melainkan soal bisa memahami, merasakan, dan mengubah dunia.” Kalimat itu bukan sekadar kutipan, tetapi semacam pesan yang kita bawa pulang bersama.

Dan dari sebuah ruang pertemuan di Tugu Tani, pesan itu kini menyebar ke seluruh penjuru negeri—menyapa penulis, penerbit, ilustrator, guru, orang tua, dan tentu saja anak-anak pembaca kecil yang sedang bermimpi lewat halaman-halaman buku.

1 komentar untuk “Menyulam Literasi dari Buku Nonteks”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top