Bertemu Elizabeth D. Inandiak: Penggubah Centhini Abad 21

Agaknya Bisik Serayu Festival 2025 ini membawaku menemukan beberapa doa dan harapan yang pernah aku ‘tulis’ bertahun-tahun lalu. Setelah menemukan (lebih tepatnya menyadari bahwa aku pernah berharap dan baru teringat tentang harapan itu justru saat menjadi kenyataan) festival beratmosfer ‘dengan rendah hati mempersembahkan’, aku menemukan terkabulnya doa dan mimpiku yang lain, yaitu menjadi Kluckhohn dan Koentjaraningrat dalam versi diriku sendiri atau amatiran. Dalam imajinasiku itu aku bisa mengobrol dengan banyak orang, bertemu orang yang berbeda ras atau suku atau bahkan kewarganegaraan, memegang kertas atau pulpen, mengenakan ransel atau tas selempang, menumpang di rumah masyarakat yang aku datangi, minum es teh atau menelan segala makanan dan minuman yang dihalalkan (oleh agamaku), mengenakan sandal atau sepatu yang nyaman (bukan berarti mahal), mengenakan pakaian yang nyaman (syukur-syukur berwarna cerah), dan tetap mengenakan kerudung atau jilbabku.

Imajinasiku itu muncul ketika aku SMA berstatus murid jurusan minoritas, Ilmu Bahasa dan Budaya, jurusan yang membuatku berkenalan dengan antropologi. Antropologi yang aku pelajari di awal SMA dulu mempertemukanku dengan nama Kluckhohn dan Koentjaraningrat. Meskipun tanpa buku paket (saat itu guruku yang hebat berusaha mencari bahan ajar untuk mata pelajaran tersebut) aku menemukan banyak kesenangan dengan sedikit hal yang baru aku pelajari, sampai-sampai berani berandai-andai tentang menjadi Kluckhohn dan Koentjaraningrat (sekali lagi, versi amatir), membayangkan kulit coklatku ini berkerudung pink (yang merupakan warna favoritku) bertemu orang berkulit hitam atau putih dari daerah lain. Siapa sangka, mimpi milik bocah SMA dangkal pengetahuan tentang Antropologi itu dikabulkan beberapa tahun kemudian. Bukan menjadi Kluckhohn atau Koentjaraningrat yang besar namanya, namun imajinasi (yang lebih tepat disebut terinspirasi) tentang menjadi Kluckhohn atau Koentjaraningrat tersebut, rasanya itu terwujud saat bertemu dengan Elizabeth D. Inandiak.

Bertemu Ibu Elizabeth 

Ibu Elizabeth, begitu aku memanggilnya, seorang yang lahir di Prancis dan saat ini berdomisili di Yogyakarta. Jika menulis namanya di pencarian google maka akan muncul beliau yang disebut sebagai penulis, wartawan, penerjemah, hingga sastrawan. Namanya dikenal sebagai sosok yang mendalami, meneliti, menulis ulang Serat Centhini. Aku bertemu dengannya di hari pertama Bisik Serayu Festival 2025, tepatnya saat aku bersiap untuk pulang meninggalkan booth BIL Fest, di saat itu beliau datang dan melihat buku-buku yang dipajang dan dijual di atas rak. “Ibu, Ibu Elizabeth, kan?”. Sapaanku itu disambutnya ramah, “Iya.”

Sore itu aku hanya bersama seorang rekan tim dari BIL Fest. Obrolan yang tidak sampai lima menit bersama Ibu Elizabeth itu meninggalkan impresi pertama yang menyenangkan tentangnya bagiku. Beliau bercerita baru saja sampai sore itu di lokasi berlangsungnya Bisik Serayu Festival 2025, beliau menceritakan kesan pertamanya yang seperti cepat merasa dekat dengan semuanya, rasanya sangat menyenangkan seolah sudah lama berbaur. Mataku tidak lepas memperhatikan beliau sampai rekanku menyerahkan sepotong stiker bilfest.id kepadanya. Beliau menerima stiker sebesar jari orang dewasa itu sambil bertanya, “Apa itu BIL Fest?”

Setelah menjelaskan secara singkat tentang BIL Fest, entah kenapa lisanku ini begitu tiba-tiba meluncurkan pertanyaan, “Ibu, apakah berkenan tahun depan datang ke BIL Fest?”. Baru saja aku mau menghembuskan napas namun kalah cepat dengan respon beliau yang mengiyakan seolah tidak keberatan. Aku dibuat bengong sejenak sebelum akhirnya dibuat sadar Ibu Elizabeth yang membolak-balik stiker di tangannya mencari kontak atau (mungkin) alamat email atau akun sosial media BIL Fest. Lalu aku buru-buru mengeluarkan ponselku, menanyakan kesediaannya untuk dimintai kontak WhatsApp-nya, yang kemudian aku catat deretan angka tersebut setelah beliau menyetujui.

Aku masih dibuat bengong setelahnya. Tapi dibuat sadar lagi oleh Ibu Elizabeth yang menanyakan namaku. “Oke, nanti tolong sebutkan nama Mba Kiki ketika menghubungi saya, ya.” Sempurna segala kekagetanku yang sejak tadi hanya bisa dicicil dengan respon bengongku.

Rasanya seperti sudah akrab dengan sebutan ‘Mba’ di depan namaku. Bahkan seperti ada penghormatan dan penghargaan, begitu aku memahami sebutan ‘Mas’ dan ‘Mba’ sebagai bentuk penghormatan bagi yang lebih tua dan penghargaan bagi yang lebih muda, guru-guruku semasa sekolah dulu yang mencontohkannya. Maka sapaan Ibu Elizabeth itu membuatku memberi kesempatan pada diriku sendiri untuk mencerna interaksi sesaatku dengan beliau yang mulai berjalan mengelilingi area bazar.

Jika segala pengalaman 12 tahun wajib belajar di sekolah membawaku pada kerangka pemahaman tentang masyarakat Nusantara yang hidup saling menghormati, menghargai, menyayangi, dan penuh dengan ramah-tamah, sepertinya aku baru saja menemukan itu juga dalam diri Ibu Elizabeth. Rasanya beliau adalah orang lokal setempat dengan wajah bule. Sikap dan pembawaannya membuatku merasa dekat, akrab, dan hormat dengan penulis Centhini tersebut. Aku tersenyum sore itu, semakin bersemangat untuk hadir di hari esok, menanti pembahasan apa saja yang akan aku dengar dari sesi Ibu Elizabeth yang aku lihat sudah memasuki booth kuliner.

Menyimak Sesi Ibu Elizabeth 

Kesempatan mendengarkan sesi beliau di Bisik Serayu Festival 2025 menjadi hal yang menyenangkan untuk disimak meskipun siang itu begitu terik hingga membawaku memilih duduk di bangku yang di atasnya berayun daun dan dahan pepohonan. Bersama seorang temanku dari Jepara kami berdua bertepuk tangan saat Ibu Elizabeth memasuki area panggung lalu tersenyum dan menunduk hormat. Aku buru-buru ke area bazar mencari pinjaman pulpen saat sadar temanku juga tidak membawanya. Berkat prestasi luar biasa Mas Dimas (sang moderator) yang berderet panjang membutuhkan waktu bagi pembawa acara untuk membacakannya hingga aku kembali ke area duduk penonton yang lumayan jauh dari bazar.

Diskusi dimulai dengan disebutkan sekilas mengenai Serat Centhini yang dulunya dikenal dengan sebutan Suluk Tambangraras. Serat Centhini yang berjumlah 12 jilid tersebut dianggap sebagai ensiklopedia kebudayaan Jawa. Lalu Mas Dimas mulai memfokuskan pembahasan tentang Serat Centhini dengan Banyumas yang disambut Ibu Elizabeth dengan cerita tokoh Cebolang. 

Dari pemaparan Ibu Elizabeth aku memahami bahwa Cebolang adalah seorang remaja yang nakal. Kenakalannya jika dibandingkan dengan kenakalan remaja masa kini pun masih jauh lebih nakal. Padahal Cebolang sendiri lahir dari keluarga yang berlatar belakang saleh. Suatu ketika Cebolang melakukan suatu kesalahan yang membuatnya memutuskan untuk minggat. Bersama empat orang temannya Cebolang melakukan perjalanan yang diceritakan dalam Serat Centhini hingga 4 jilid tersendiri. Perjalanan yang dilakukan Cebolang tersebut hingga menuju ke arah Banyumas.

Ibu Elizabeth menceritakan penemuannya saat mendalami Serat Centhini, yaitu sedikit baris yang menyebutkan tentang Banyumas, yang belum ditemukannya penjelasan atau kelanjutannya. Aku mulai memahami semangat Ibu Elizabeth dalam menyelami Serat Centhini mulai dari menerjemahkan hingga mengembangkan atau melakukan novelisasi. Kupikir luarannya nanti akan memudahkan generasi saat ini atau selanjutnya untuk memahami isi Serat Centhini dengan membacanya dalam bentuk prosa dan berbahasa Indonesia (salah satunya), mengingat tidak familiarnya generasi saat ini dan (mungkin) mendatang dengan bentuk syair berbahasa Jawa.

Lalu aku tertegun saat beliau menyampaikan bahwa akan aneh jika Serat Centhini yang disebut ensiklopedia kebudayaan Jawa namun tidak membahas lengger di dalamnya. Ternyata hal tersebut menjadi pembahasan kritis Ibu Elizabeth sehingga mengembangkan Centhini. Misi tersebutlah yang membawanya berkelana ke berbagai daerah hingga sampai ke Banyumas, ke tepian Sungai Serayu, bertepatan dengan diselenggarakannya Bisik Serayu Festival 2025. Sepertinya takdir baik selalu menuntun segala niat baik bersua dengan tujuannya, aku turut merasakan senang tentang apa yang dibagikan Ibu Elizabeth saat beliau menceritakannya. “Saya percaya, tidak ada yang kebetulan di dunia ini.” 

Sejenak aku lupa tentang anganku menjadi Kluckhohn atau Koentjaraningrat versi amatir. Aku mulai menikmati peran sebagai mahasiswa yang berada di suatu perkuliahan sekaligus peran sebagai wisatawan lokal yang datang ke pentas pertunjukan kesenian. Selayaknya mahasiswa sekaligus wisatawan yang menolak melewatkan suatu persembahan, aku mengeluarkan ponselku untuk merekam duet Ibu Elizabeth dan Mas Dimas membacakan Centhini versi Ibu Elizabeth yang disebut masih belum halus, bagian yang dibacakan berkisah tentang Cebolang dan empat temannya yang berkelana. Sampai tiba sesi tanya jawab yang sayangnya terbatas waktunya.

Sesi tanya jawab tersebut membawaku menulis suatu catatan yang setelah kubaca lagi seperti merangkum sesi siang itu. Tulisan tanganku yang lebih mirip ceker ayam itu mencatat tentang Serat Centhini yang latar waktunya di abad 17, dituliskannya di abad 19, namun (setelah bertemu Ibu Elizabeth) perjalanannya seperti mengarah ke abad 21. Artinya Ibu Elizabeth mengembangkan atau melakukan proses novelisasi Serat Centhini sehingga relevan dibaca pada masa kini. 

Pada sesi yang terasa singkat itu pula Ibu Elizabeth menyampaikan bahwa saat melihat ruwatan dan serangkaian opening ceremony Bisik Serayu Festival 2025, beliau merasa Centhini benar-benar hidup. Oleh karena itu, beliau ingin mendedikasikan satu atau dua pupuh tentang Bisik Serayu Festival 2025 pada karya yang sedang disusunnya.

Keinginan Mengobrol dengan Ibu Elizabeth: Kuliah Siang Sesi Kedua

Sesi Ibu Elizabeth berakhir dengan tepuk tanganku yang agak mirip anak TK ketika diajak gurunya bertepuk tangan. Aku senang, aku kagum, aku masih ingin mendengarkan seorang ibu berkemeja biru navy tersebut. Syukurlah aku berkesempatan mengobrol dengan beliau bersama Mas Aziz dan Mas Dimas di pendopo.

Obrolanku dengan beliau dimulai dengan pertanyaan: mengapa Jawa? mengapa Serat Centhini? mengapa Indonesia?

Beliau setengah tertawa mendengar pertanyaanku. “Mungkin memang jodoh.” Perempuan yang berhasil membuatku beberapa waktu lalu bertepuk tangan seriang anak TK itu hampir membuatku bertepuk tangan lagi saat menjelaskan alasan ‘jodoh’ yang dimaksud. Saat awal berkenalan dan menyelami Serat Centhini, beliau merasa memiliki tanggung jawab untuk menerjemahkan karya penyair lain, yaitu sebuah karya yang luar biasa yang menceritakan perjalanan seorang yang mengembara. Namun misi penerjemahan tersebut tentu bukan hal mudah, menjadi tantangan yang jelas jika melihat bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa sedangkan Ibu Elizabeth tidak bisa berbahasa Jawa, juga pengakuannya bahwa dirinya bukan ahli bahasa maupun budaya. Hingga misi tersebut akhirnya bisa berjalan dengan bantuan seorang ahli bahasa Jawa dari Keraton Solo, Ibu Sutanto.

Ibu Elizabeth yang menyebut dirinya bukan ahli bahasa maupun budaya itu seperti berjodoh dengan tiga orang pujangga penulis Serat Centhini. Seperti yang diketahui bahwa Serat Centhini awalnya diprakarsai oleh Sunan Pakubuwana V dan diselesaikan oleh tiga orang pujangga keraton, yaitu Sastradipura, Ranggasutrasna, dan Yasadipura II.  Ketiganya bukan ahli agama atau ahli di bidang akademik, ketiganya adalah penyair, status yang sama yang dimiliki oleh Ibu Elizabeth (beliau menyebut dirinya sebagai penyair). Kesamaan status beliau dengan tiga orang pujangga tersebut membuatnya merasa perlu menyelamatkan karya penyair lain yang jika tidak dilestarikan maka akan punah ditelan lupa oleh zaman. Sebagai sesama penyair yang berbeda abad dan baru bertemu dalam karya, Ibu Elizabeth merasa langsung terikat dengan para pujangga tersebut juga karyanya, sehingga beliau menikmati proses perjalanannya berkeliling berbagai daerah untuk ‘membaca’ dan ‘menulis’ Centhini dalam wujud wilayah geografis hingga suasana kehidupan sosialnya.

Aku juga setuju dengan Ibu Elizabeth yang secara tidak langsung menerangkan perlunya sikap terbuka dalam menjalani kehidupan. Karena hidup ini sejatinya adalah perjalanan dan setiap manusia adalah pengembara bagi kehidupannya. Keterbukaan pada alur kehidupan tidak selalu menyesatkan, justru mampu membawa seseorang terdampar di berbagai pengalaman hidup yang mengesankan. Seperti halnya Ibu Elizabeth yang ‘terdampar’ di Indonesia saat menerima tugas sebagai wartawan sebuah media Prancis untuk mengulik dan mendalami budaya Jawa, yang berujung jatuh cinta dan menetap di Yogyakarta, dan saat ini masih berkelana menelusuri Centhini.

Di tengah kencangnya suara dari sound system yang mengalunkan instrumen musik pengiring tari, aku berusaha mendengarkan Ibu Elizabeth yang siang itu aku anggap mengisi perkuliahan sesi dua untukku. Perkuliahan yang menyenangkan, tidak menggurui, dan betah aku simak meskipun mengharuskanku mengerahkan konsentrasi pendengaran ekstra. Hingga akhirnya selesai sesiku menjadi mahasiswi yang menerima materi darinya dan beralih ke sesi mengobrol yang sebenarnya.

Menatap Binar Mata dan Senyum Penggubah Centhini Abad 21  

Aku merasakan pribadi Ibu Elizabeth adalah seorang yang hangat dan menyenangkan saat mengobrol dengannya. Sisi keibuannya benar-benar terlihat saat beliau memotong-motong chiffon cake di depannya menjadi beberapa bagian lalu mempersilakan aku, Mas Dimas, dan Mas Aziz untuk menikmatinya. Sikapnya sangat menyenangkan dan terbuka bagi setiap topik obrolan maupun pertanyaan yang datang kepadanya. Bagiku beliau menghargai betul lawan bicaranya meskipun itu dari seorang ‘anak kemarin sore’ sepertiku. 

Sampai ketika Ibu Elizabeth menanyakan tentang diriku dan aku jawab bahwa sebelumnya aku adalah mahasiswi Sastra Indonesia yang hingga saat ini masih belajar, aku melihat beliau sempat terdiam lalu tersenyum, sedetik kemudian beliau memberikan kode untuk menunggu sebentar. Lalu beliau berdiri dan berjalan menuju tasnya yang diletakkan di ujung pendopo, membukanya, mengambil sebuah buku, dan berjalan kembali sambil menyerahkan buku itu untukku. Seingatku beliau berkata, rasanya egois jika sudah mendapatkan banyak hal dari sekitar namun tidak memberikan apa pun, yang aku artikan dengan: beliau sudah mendapatkan banyak hal dari masyarakat dan sastra di Indonesia (khususnya Jawa), maka ia ingin memberikan hasil karyanya berupa buku untuk salah satu perempuan muda yang sedang belajar Sastra Indonesia sebagai hadiah dan bentuk dukungan. Lalu aku? Kembali norak, kaget, lalu terharu. Karena tidak banyak orang yang memahami dan menghargai dengan baik orang-orang yang belajar sastra. Mungkin ini menjadi salah satu keberuntunganku yang berulang kali aku syukuri setiap melihat buku pemberian tersebut di dekatku.

Setelah aku menyampaikan terima kasih dan rasa hormatku pada Ibu Elizabeth, aku kembali bertanya padanya, kali ini berkaitan dengan pilihan menjadi orang yang belajar sastra. “Bagaimana ya, Bu, supaya saya meyakinkan minimal teman-teman saya, kalau belajar sastra itu bukan hal tidak penting, saya pun bahagia dengan pilihan ini.” Aku kembali melihat senyum dan binar mata Ibu Elizabeth, seperti saat beliau mendengarku adalah mahasiswi Sastra Indonesia. Berikutnya aku menyimak jawaban beliau yang cukup membuatku merefleksikan diri. Menurutnya, keberadaan figur sastrawan yang kuat dapat membangun kesadaran pentingnya sastra, seperti Ahmad Tohari dari Banyumas yang dihormati dan dikagumi berkat karya-karyanya. Figur kuat tersebut dapat menjadi panutan yang menyadarkan khalayak tentang pentingnya keberadaan sastra di tengah kehidupan masyarakat. Ibu Elizabeth melanjutkan bahwa keberadaan sastra dan sastrawan tersebut membantu membentuk dan membangun identitas suatu masyarakat, seperti halnya Serat Centhini sebagai identitas masyarakat Jawa, maka kita berutang untuk itu. Seandainya setiap orang menyadarinya, tak menutup kemungkinan setiap orang akan berbuat untuk sastra, jika tidak berkontribusi sebagai pegiatnya dapat juga menjadi pihak yang sadar mengapresiasi. 

Jawaban tersebut rasanya lebih spesial karena datang dari seorang yang memiliki proses kreatif dan berkegiatan sastra, yang sepertinya lebih mengenal tanah kelahiranku dibandingkan aku, yang lebih menghargai Nusantara dibandingkan orang-orang yang lahir dan mengaku memiliki Nusantara. Selanjutnya beliau mendengarkan ceritaku yang mulai pertengahan masa kuliah dulu berkenalan dengan teman-teman dari berbagai wilayah di Nusantara. Aku bercerita pengalamanku mencari info lokasi gereja juga pasar di sekitar Purwokerto saat teman-teman Nusantara-ku datang, lalu pengalamanku dan teman-temanku bertemu Mas Rianto dalam suatu perkuliahan bertajuk Modul Nusantara, dan berbagai cerita lainnya. Beliau menyimak ceritaku yang tidak sebanding dengan pengalamannya itu dengan antusias. “Berarti, temannya banyak dari seluruh Nusantara, ya!”

Lalu berganti dengan beliau yang bercerita pengalamannya yang senang naik kapal PELNI bepergian ke berbagai daerah. Beliau sengaja memilih kelas ekonomi demi menikmati interaksi dengan berbagai orang dari berbagai latar belakang sosial dan budaya. Menurutnya pengalaman tersebut seperti melihat Nusantara, yang secara suku tentu beragam jika dilihat dari keseluruhan manusia yang menumpangi kapal tersebut, yang secara geografis alamnya lebih luas lautannya dibandingkan daratannya. Sejujurnya, aku mulai iri dan termotivasi dengan sosok Ibu Elizabeth setelah menceritakan petualangannya.

Apalagi saat Mas Rianto, sang maestro itu datang dan bergabung. Sebagai yang paling muda dan tidak banyak tahunya aku menjadi pendengar yang ‘menguping’ obrolan mahal Ibu Elisabeth, Mas Rianto, Mas Aziz, dan Mas Dimas. Aku melihat Ibu Elizabeth mendengarkan cerita masa kecil Mas Rianto yang bermain di tepian Sungai Serayu. Mungkin dalam benak Ibu Elizabeth sudah muncul imajinasi kelanjutan Centhini yang sedang digubahnya. 

Perenungan Setelah Bertemu Ibu Elizabeth 

Setelah mengobrol dengan Ibu Elizabeth, aku sempat merenung saat menonton para penari di sore hari Bisik Serayu Festival 2025 hari kedua itu. Kertas berisi catatanku selama menyimak dan mengobrol dengan Ibu Elizabeth masih aku pegang tanpa aku baca. Seketika muncul beberapa pertanyaan dari perenunganku yang lebih mirip melamun setelah siang bolong. Tadinya aku ingin bertanya langsung ke Ibu Elizabeth sehingga aku berkali-kali mencari beliau di lokasi acara, namun setelah obrolan siang hingga sore itu aku belum memiliki kesempatan untuk bertemu beliau lagi, bahkan saat malam hari. Pun setelah aku pikir ulang sepertinya pertanyaanku harus bertemu beberapa orang dan kesempatan lain untuk menjawabnya. Mungkin aku harus membuat hipotesis lebih untuk menjawab pertanyaanku. Mungkin juga pertanyaan dan renungan itu bisa dijawab Ibu Elizabeth jika tiba rezekiku berupa kesempatan belajar ke Yogyakarta.

Tapi tidak ada salahnya kan aku menulisnya di sini? Barangkali ada yang juga memikirkannya atau memberikan aku jawaban. Jadi aku mohon izin menuliskannya, ya.

Apakah rasa ingin tahu itu cukup untuk bisa mengenal dunia yang luas ini beserta kebudayaannya? Karena aku sedang berpikir apakah orang yang pas-pasan ilmunya-pengetahuannya-kemampuannya memiliki kesempatan untuk tahu? Seseorang itu memang belum mampu berdiskusi, tapi ia rela menjadi pendengar yang menyimak diskusi, semua itu karena ia membiarkan dalam dirinya tumbuh dan berkembang rasa ingin tahu. 

Walaupun bukan sekali aku dengar dan baca kalimat sampai narasi yang menyebutkan tentang perlunya menumbuhkan rasa ingin tahu, tapi aku masih menanyakan apakah pada praktiknya rasa ingin tahu tersebut diberikan ruang yang semestinya? Maka kembali ke pertanyaanku: apakah rasa ingin tahu itu cukup untuk bisa mengenal dunia yang luas beserta kebudayaannya?

Karena aku sedang berpikir kalau pengetahuan itu kadang berada pada tempat yang tidak enak, yang efeknya membawa pada perasaan cukup atau puas. Padahal bukannya ilmu pengetahuan itu terus berkembang dan selalu ada hal baru yang ditemukan?

Menulis mimpi setelah bertemu Bu Elizabeth 

Aku bermimpi bisa mengalami dan merasakan serunya perjalanan, penelusuran, atau petualangan seperti yang dialami Ibu Elizabeth. Mungkin tidak akan sama atau sehebat cerita beliau, namun sepertinya tidak ada salahnya bermimpi demikian, sama seperti saat bermimpi menjadi Kluckhohn dan Koentjaraningrat dulu. Bisa jadi suatu saat nanti aku terdampar di suatu desa, menikmati suatu festival atau pagelaran di sana, berbincang dengan masyarakatnya, layaknya Ibu Elizabeth di Bisik Serayu Festival 2025 kemarin. Seperti kata Bu Elizabeth: tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top