Peluncuran Buku Guiwu: Horor, Nasionalis, dan Unik

Pada siang hari yang cukup kelabu dengan awan keabu-abuan. Tepatnya pada Sabtu tanggal 30 Agustus 2025. Digelarnya serangkaian acara bertajuk “Peluncuran Buku Guiwu” karya Khansa Maria di ruang B105 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman. Sebagaimana yang terungkap pada sinopsis buku Guiwu, ini “Adalah novel horor-misteri yang menggugah dan menyentuh, berpadu dalam latar budaya Tionghoa peranakan Indonesia yang sarat makna dan nuansa spiritual. Sebuah kisah tentang keluarga, kepekaan batin, dan keberanian menghadapi warisan yang tak selalu terlihat di permukaan.”

Membaca sinopsisnya membuat diri saya pribadi terhentak dan menghasrati untuk membacanya. Sehoror apa sih alur ceritanya? Dan apakah memang benar-benar menegangkan dan mengobrak-abrik perasaan?

Menanggapi event launching buku novel Guiwu bergenre horor ini. Sekurang-kurangnya saya dapati tiga kata: horor, nasionalis, dan unik. Mungkin ini sekadar pengamatan saya sebagai pengunjung yang duduk di bangku belakang. Pasti akan berbeda dengan mereka yang mungkin duduknya di depan, di tengah, di sisi kanan, di sisi kiri, dan sisi lainnya. Mengapa hal demikian juga berpengaruh, karena sebagai penonton di belakang, lumayan cukup bisa memandang lebih luas dan lebar tentang panggung dengan pertunjukannya (mengapa saya sebut pertunjukan, nanti anda akan menemukan jawabannya) dan tentang audiens dengan animonya.

Sebagai informasi, acara ini diselenggarakan oleh Laboratorium Sastra Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman, Penerbit Omera Pustaka, dan BIL Fest. Dengan bilfest.id dan RRI Purwokerto sebagai mitra media yang turut mewartakan buku novel Guiwu.

Sekelumit sambutan dari Pak Aldi – yang mewakili Laboratorium Sastra Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman – yang saya dengar adalah “Acara ini bisa memantik perkembangan sastra khususnya di Banyumas.” Sebagai dosen Sastra Indonesia, Pak Aldi sangat menyambut riang dengan adanya peluncuran buku yang meraih penghargaan Ahmad Tohari Awards.

Nuansa horor

Mengikuti acara peluncuran buku Guiwu dari awal, saya sedikit terkagetkan dengan kemunculan pocong yang bertengger di pojok ruangan yang di dekat pintu masuk. Para pengunjung yang berbondong-bondong masuk pun sedikit banyak terkejut dengan wujud absurd dari pocong-pocongan ini, yang mungkin memang keberadaannya diperuntukkan agar memberikan daya kejut, menambah nuansa horor, misterius, dan ketegangan tersendiri.

Hal lain yang menambah vibes horor adalah backsound-nya. Selama peserta memasuki ruangan, deru musik horor dimainkan. Penggunaan instrumen horor yang sering kita dengar sewaktu menonton film bernapaskan horor, cukup membuat saya seakan-akan sedang menikmati film horor di bioskop. Terlebih, karena desain ruangannya yang mirip layout ruang bioskop (berundak-undak). Tak hanya saat audiens masuk ke dalam ruangan, musik horor ini berkumandang mengiringi MC virtual berlangsung.

Sisi nasionalis di tengah krisis

Saat ini di berbagai daerah di Indonesia sedang ramai-ramai menunaikan demonstrasi. Hal ini salah satunya dipicu oleh beragam tingkah laku para anggota DPR RI yang cukup menggoda untuk dikritik dan dihujat, seperti isu tunjangan anggota dewan dan usulan-usulan mereka yang dirasa rakyat aneh dan tidak logis serta komunikasi publik mereka yang bahkan senonoh, sampai mungkin yang menjadikan masyarakat lebih muak lagi adalah saat-saat dan setelah adanya hilangnya nyawa seorang pengemudi ojol yang ikut berdemo namun dilindas oleh mobil rantis kepolisian sewaktu demo di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta berlangsung pada tanggal 28 Agustus 2025.

Peluncuran buku novel Guiwu ini, mungkin secara tidak langsung sedang turut merespon krisis yang sedang melanda Indonesia. Sekalipun Indonesia saat ini sedang horror-horornya, penuh kemelut keributan, demonstrasi di mana-mana, namun cinta tanah air dan nasionalisme kita tidak boleh lantas luntur dan tergerus oleh keadaan. Maka dalam launching “Guiwu” ini ada momentum menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tidak tanggung-tanggung, lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan kali ini adalah lagu Indonesia Raya 3 stanza (versi lengkap).

Keunikan launching buku Guiwu

Dalam launching buku “Guiwu” hal yang unik bagi saya adalah “pertunjukan.” Pada umumnya, acara peluncuran sebuah buku diwarnai dengan adanya bedah buku, bincang proses kreatif menulisnya, tanya jawab dan diskusi. Namun dalam acara ini, berbeda. Yang ada hanyalah pertunjukan, mulai dari pertunjukan pocong, monolog dari penulisnya sendiri, storytelling kisah mistis, hingga pertunjukan musik. Semacam melawan pakem kegiatan-kegiatan peluncuran buku pada umumnya. Tentu setiap hal ada sisi positif dan negatifnya. Tugas utama kita Adalah mengambil sisi positifnya saja. Boleh dibilang model peluncuran buku semacam ini cukup dapat membangun nuansa horor sebagaimana genre buku “Guiwu” yang harapannya membuat para audiens penasaran dan pada akhirnya membeli dan membaca buku tersebut.

Tak hanya itu yang membuat peluncuran buku ini menarik. Adanya storyteller yang berkisah tentang dirinya yang mengalami fenomena horor dalam kehidupannya juga membuat suasana acara menjadi lebih dramatis, seram, dan menegangkan. Salah satu perwakilan dari BEM UNSOED memberikan testimoni atas acara ini, “Peluncuran buku Guiwu itu unik. Kita dibawa kesuasana menegangkan, ditambah ada pocongnya juga. Menurutku sangat wow! Di sisi lain ada pertunjukan musiknya juga.” Memang benar, peluncuran buku “Guiwu” juga dilengkapi dengan pertunjukan musik yang diperankan oleh Bagas Swastikaswara. Ada 2-3 lagu yang disenandungkannya.

Hal unik lainya adalah adanya kupon dan stiker yang dibagikan kepada seluruh pengunjung yang datang. Dalam benak saya, “Ternyata tak hanya jalan sehat dan belanja di mall yang ada kuponnya. Acara launching buku ada juga yang pakai kupon-kuponan” Jadi dalam acara peluncuran buku “Guiwu”, mereka yang kuponnya keluar mendapatkan buku dari Penerbit Omera Pustaka. Sepengamatan saya, ada 8 orang yang mendapatkan buku gratis. Bagi saya pribadi, ini unik dan menarik, karena sepanjang saya mengikuti acara launching buku jarang sekali ada yang menggunakan skema demikian, atau bahkan belum pernah saya jumpai. Baru kali ini.

Kurang lebih demikian kesan saya pribadi dengan event launching buku “Guiwu” yang dikemas anti mainstream dengan tanpa adanya bincang dan diskusi buku. Melainkan menyajikan pertunjukan yang mendongkrak sisi-sisi penasaran para pengunjung. Sisi positifnya juga, dengan pengemasan acara launching buku yang lain ini, setidaknya menambah keragaman rangkaian acara-acara peluncuran sebuah buku atau karya. Mungkin bagi teman-teman yang hendak menggeruduk buku “Guiwu” bisa langsung menghubungi penulisnya atau penerbitnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top