
Kali ini saya akan bercerita terkait pengalaman personal –yang mungkin entah bisa atau tidak untuk terulang kembali. Seperti menemukan uang lima puluh ribu di saku saat mencuci baju. Sebuah pengalaman dan kesan pertama terhadap seseorang yang karya-karyanya tak hanya mengorbit di kancah nasional, tapi juga internasioanal. Saya yang masih struggling (baca: berjuang) bikin takarir postingan yang nggak garing, tetiba bisa bertemu dengan sosok yang sekali kita googling namanya, berjibun artikel tentangnya berserakan di mana-mana. Sesuatu yang mungkin atau jelasnya belum tentu setiap orang – barang siapapun – bisa merasakannya. Rasanya nano-nano, karena beliau berkarya dengan gemilang, sementara saya masih saja sering salah nulis yang jadi yag, nulis sakit jadi sakti, nulis hujan jadi hutan, dan lain sebagainya.
Menjemput Cak Mahfud
Suatu siang yang awan kelabu lebih dominan mewarnai langit muram pada Senin 16 Juni 2025. Di stasiun Purwokerto yang yang bikin dramatis dan dilematis (karena pintu keluarnya ada dua), saya bersama seorang teman panitia, menjemput sosok misterius di balik tercetusnya novel Dawuk. Misterius karena sebatas melihat seraut wajahnya via media online dan belum pernah sekalipun bertemu secara tatap muka. Misterius juga karena beliau tak menebar kabar apapun mengenai warna baju atau style pakaian apa yang digunakan (setidaknya bisa buat indikator bagi saya untuk menemukannya di belantara penumpang yang baru saja keluar dari kereta).
Di sisi lain beliau bersama istrinya. Hanya saja dari istrinya menabur pesan, bahwa sang istri menggunakan kerudung berwarna hitam. Meski sudah diberi tanda-tanda, tapi ini pun masih misterius juga dari sekian banyaknya manusia yang berbondong-bondong keluar dari stasiun. Perempuan yang berkerudung hitam, banyak juga. Dalam benak saya, ingin kuteriak… “Sabar!” Namun terlepas dari itu semua, saya merasa seanang dan tak pernah sama sekali menyesal, bisa berkesempatan menjemput sosok yang baru-baru saja – melalui keprigelannya menggunakan bahasa – memperoleh penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 dengan novelnya berjudul “Bek” (2024) yang diterbitkan oleh Diva Press, Yogyakarta.
Akhirnya, dari lorong pintu keluar stasiun, muncullah sepasang kekasih yang berbahagia. Tak lain adalah Mahfud Ikhwan dan istrinya. Cak Mahfud sendiri berkaos abu-abu, bercelana abu-abu juga, dan besepatu, semacam sepatu lari serta menggendong tas berisikan buku-buku garapan beliau. Sedangkan sang istri, berkerudung hitam, bercelana serupa rok bercorak batik khas Jogja, dan berpakaian hitam sebagai inner dengan stelan kemeja merah sebagai outer-nya. Kesan pertama melihat mereka berdua jika dirangkum dalam dua kata, maka akan mencuat kata, low profile. Ungkapan lain yang senada dengannya adalah gak muluk-muluk dan gak neko-neko.
Tak mau berlama-lama, seketika itu, saya dan satu teman panitia langsung bergegas untuk mengarahkannya masuk ke dalam mobil dan sejurus kemudian menuju Hetero Space Banyumas. Di mana Cak Mahfud akan menjadi narasumber pada acara literasi (yang mungkin baru kali ini beliau mengisi event literasi di Purwokerto). Dalam acara tersebut, Cak Mahfud hendak berbagi pengalaman tentang proses kreatif beliau dalam menulis “Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu.”
Penuh Peluh di Balik Dawuk
Pada acara BIL Fest 2025, mendengar Cak Mahfud Ikhwan dalam proses kreatifnya melahirkan salah satu novelnya yang pada waktunya memenangkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2017, bagi saya adalah hal yang mengejutkan, mengagetkan, membuat bulu kuduk tegak berdiri, merinding, menakutkan, dan selebihnya mengagumkan. Bagaimana tidak? Beliau dalam menulis novel Dawuk, sungguhlah penuh peluh dan perjuangan. Memang setiap penulis pastinya memiliki perjuangannya masing-masing. Tapi untuk yang satu ini, tak ada salahnya, jika kita bersama-sama barang sejenak, angkat topi tinggi-tinggi untuknya. Hormat, King!
Cak Mahfud sebelum melahirkan Dawuk, terlebih dahulu menunaikan ritual: pergi ke semacam warung kopi bii wasilati (baca: dengan perantara) sepeda dengan keranjang di depannya yang berisi buku tulis berikut penanya, untuk nantinya di warung kopi kecil-kecilan dari pagi hingga menjelang petang hari, demi menulis Dawuk dengan tangannya sendiri. Dengan kata lain, Cak Mahfud Ikhwan menulis Dawuk tak ubahnya dengan tulis tangan. Alias, bukan mengetiknya secara langsung di laptop. Hal ini beliau langsungkan dengan saksama dalam setiap harinya, dan dalam tempo sejauh menulis “Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu” sampai rampung. Piye, bolo. Krungu ngono kui?
Bagi saya, hal ini merupakan kerja kreatif dalam menulis sebuah karya yang cukup penuh perjuangan. Beliau menjadi kerja dua kali bukan? Pertama, menuliskannya di buku tulis atau buku catatan dengan tulis tangan. Kedua, baru kemudian menuliskannya di laptop dengan mengetik. Hal ini sungguhlah luar biasa. Di mana keuletan, kejelian, kesabaran, dedikasi, dan militansi seorang pengarang dipertaruhkan. Tak hanya itu, dengan model kerja dua kali semacam itu, potensi kesalahan penulisan (typo) dan plot twist cerita dan lain sebagainya menjadi terminimalisir dengan sendirinya. Luwih abot iki, bolo. Ketimbang awakku (mungkin awakmu juga) le nulis skripsi.
Di sisi lain, tiap-tiap detail cerita pada akhirnya menjadi utuh tersampaikan. Belum lagi, ditambah pembacaan ulang-yang tak hanya sekali, namun berulang-ulang-setelah draft novel Dawuk terbentuk. Barangkali peluh yang bercucuran untuk menuliskan Dawuk jika diakumulasikan bisa bergalon-galon penuh bahkan tumpeh-tumpeh. Terhitung dari bolak-balik mengayuh sepeda dari kontrakannya ke warung kopi hingga menulis ulangnya di laptop. Maka tak heran jika Dawuk menyabet penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2017. Yo ngandel sih… Fix. No debat.
Dari sini kita menjadi belajar pentingnya sebuah proses. Hal ini tak ubahnya seumpama ujar-ujar legendaris yang berbunyi, “Proses tak akan pernah mengkhianati hasil.” Ada juga yang menggaungkannya dengan, “Hasil tidak akan mengkhianati usaha.” Ada juga yang versi kemaki, “Kalau hasilnya mengkhianati, mungkin prosesnya yang PHP.” Barangkali, sebagian dari kita –termasuk aku dhewe— sudah seribu kali mendengarkan aforisme itu, tapi seribu kali juga mengesampingkannya. Duh jan, kok yo ngene temen… Peh… Tapi ya memang begitulahcara kerja sebuah proses. Seringnya kita dihantam, di-gojlok, dibanting, dan dijatuhkan. Bukan karena semesta jahat, tapi karena semesta sayang, biar kita jadi generasi-generasi yang tangguh menjalani kehidupan yang serba fafifu. Baru kita akan sadar.
Fajrul Alam. Penyair muda dan aktif di dunia literasi Purwokerto, ia juga telah menerbitkan sejumlah karya puisi yang tersebar di berbagai media cetak dan digital. Buku antologi puisi pribadinya berjudul “Resep Bahagia” (JP: 2025). Bisa disapa via IG: fajrulalam_




