Pada acara riuh redam BIL Fest (Banymuas International Literacy Festifal) yang dilangsungkan selama tujuh hari, dari tanggal 12-18 Juni 2025 kemarin. Saya berkesempatan untuk turut andil dalam kebahagian acara tersebut. Suatu kesempatan yang mungkin bisa dibilang spesial, setidaknya bagi diri saya pribadi. Karena bisa bertemu dengan mereka yang suda tidak diragukan lagi kredibilitasnya dan sudah expert di bidangnya masing-masing. Terkhusus di dunia literasi, tradisi, dan kebudayaan. Oh iya, sebagai penjelas, acara BIL Fest sendiri digelar di Hetero Space Banyumas yang letaknya bisa dibilang di tengah-tengah kota Purwokerto, Banyumas.
Menjadi bagian dari BIL Fest, saya memainkan peran yang berbeda dengan orang kebanyakan. Yakni berperan sebagai seseorang yang job/kerjanya cukup duduk manis sambil mengoyangkan tangan secara riang. Eits…. Tapi bukan goyang atau jogged velocity ya bos… Ya, benar. Tak lain adalah driver alias sopir. Kegiatan utama saya di BIL Fest adalah antar-jemput narasumber atau pemateri-pemateri yang diundang oleh BIL Fest. Mulai dari, Pak Sukidi (kolumnis di koran-koran), Cak Makhfud Ikhwan (novelis), Muhidin M Dahlan (pengkliping ulung), hingga Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (novelis). Btw, yang terakhir ini, jujur saya kesulitan membaca dan menyebut namanya cum menulisnya. Maaf ya, mungkin memang ilat (baca:lidah) Jawa tak sefleksibel lidah orang-orang pada umumnya. Atau mungkin, hanya lidah saya saja yang terlampau kaku, jadul dan tidak mengikuti perkembangan zaman. Berarti perlu di-upgrade terlebih dulu nih. Heuhheuh…
Tapi dalam hal ini, mula-mula yang ingin saya ceritakan terlebih dahulu adalah bapak Sukidi. Bagi yang belum tahu siapakah beliau dan mengapa kok beliau diundang untuk mengisi sekaligus memeriahkan event literasi di Banyumas ini, silakan bisa kalian jumpai pada artikel BIL Fest yang sedikit mengupas beliau, yang diberi judul, “BIL Fest: Sukidi dan Sebuah Titik Temu”. Jika masih kurang, carilah di google biografi beliau. Pastilah teman-teman akan banyak menjumpainya. Oleh karena itu, rasa-rasanya saya tidak perlu lagi untuk menuliskan sederet dan berjibun biografi, riwayat perjalanan, dan kiprah beliau. Akan tetapi yang akan saya tuliskan di sini adalah sekelumit kesan pribadi saya sebagai driver dadakan, sewaktu membersamainya dari Stasiun Puerwokerto-Hetero Space Banyumas dan sebaliknya. Jadi tulisan ini tak lain adalah tulisan yang berangkat dari kursi sopir, dari balik kendali mobil.
Menyimak Obrolan dari Spion Tengah
Sewaktu menjemputnya di Stasiun Purwokerto, saya ditemani oleh satu kawan saya yang nantinya dibebani tugas untuk mengobrol dan mecairkan suasana di mobil, biar tidak neng-nengan, sepaneng (baca: tegang) dan tentunya supaya tamu, yang dalam hal ini Pak Sukidi mendapatkan semacam sambutan hangat dari panitia BIL Fest. Di luar mobil, matahari sedang sangat antusias untuk memberikan kehangatan dan teriknya kepada penduduk Purwokerto. Saya di dalam mobil, sejuk-sejuk saja karena diselimuti oleh AC mobil. Hehe… Tapi teman saya yang di ambang pintu penjemputan penumpang kereta mungkin sedikit kepanasan. Saya memilih di mobil saja, tentunya ada sebab. Yakni, untuk mendinginkan hawa di dalam mobil dan memastikan kenyamanan. Pastinya akan lucu dan wagu, Ketika nantinya Pak Sukidi masuk mobil tapi di dalam mobil udaranya panas atau gerah sekali.
Selang beberapa saat kemudian, kawan saya datang bersama bapak-bapak sederhana, bermasker, berbaju batik kuning pendek (seperti hendak kondangan), dengan kaca mata bening terpasang, dan bercelana hitam yang tak lain adalah Pak Sukidi seorang diri, tanpa ajudan. Dibukakannya pintu mobil untuk beliau. Lantas beliau masuk. Saya mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan beliau sembari melontarkan salam hangat. Kondisi mobil sudah menyala dan hawa di dalamnya juga cukup dibilang dingin, yang jelas tidak sepanas hawa di luar. Lantas saya pancal gas dan ngeeeng. . . Tak lupa juga menggoyangkan tangan sewaktu ada kelokan atau ada hal-hal yang mengharuskan untuk berkelok-kelok. Kesan pertama saya kepada beliau, Pak Sukidi adalah kesederhanaan. Oh iya, satu lagi yang saya belum sebutkan di atas: di tangannya dibawanya sebuah buku bersampul warna putih, smartphone, dan peci atau kopyah berwarna hitam berpin warna emas siluet Bung Karno.
Di dalam mobil, karena saya memegang tugas adiluhung yang juga cukup krusial. Di mana mobil bisa berjalan dengan baik, supaya penumpang merasa nyaman dan enjoy. Dengan kata lain tidak ugal-ugalan seperti sopir-sopir bus yang was wis wus, atau sopir pembawa sayur yang pagi-pagi sekali ngebut ke pasar. Akhirnya, saya pun lebih fokus pada jalanan dengan segala persoalannya dan hanya sekedar menyimak obrolan anatara teman saya dengan Pak Sukidi. Mereka mengobrol banyak perihal perjalanannya naik kereta api, berbincang seputar Banyumas, tentang Purwokerto, acara BIL Fest, kegiatan literasi, dan kampus-kampus di Purwokerto dan lain-lain. Jujur, saya sedikit tersentak dan kaget (meski di hati sedikit ingin tertawa) ketika mendengar kalau Pak Sukidi baru pertama kali bepergian dengan menggunakan kereta api. Kalau boleh berkata (secara kelakar), ternyata setidaknya saya memiliki satu keunggulan dari Pak Sukidi, yakni lebih banyak naik kereta apinya daripada beliau. Hehe…. Punten.
Obrolan Sop Buntut dan Tumis Kangkung
Berhubung acara Pak Sukidi di BIL Fest terjadwal pada pukul 13.00 WIB, akhirnya dari pihak panitia menyarankan untuk mentransitkan beliau ke semacam tempat makan untuk sekalian melangsungkan ibadah salat zuhur Tibalah kami di sebuah restoran yang tidak jauh dari tempat acara BIL Fest diselenggarakan. Sembari menunggu pesanan dihidangkan, banyak hal yang diobrolkan oleh beliau dan teman saya yang bernama Mas Kuncen. Di sela-sela obrolannya, dengan kerendahan hati beliau, tiba-tiba dia memanggil nama saya dan menanyakan tentang kegiatan saya di Purwokerto. Di sini saya merasa dihargai sekali. Jujur, sejak hendak menjemputnya saya merasa takut dan kagum dan lebih banyak mindernya. Ditambah, teman saya satu ini lebih banyak pengalamannya dan lebih luas pengetahuannya dan lebih jamak relasinya. Saya lah yang paling kecil, paling muda, paling kurang, apalagi perihal dunia literasi. Lebih-lebih status saya di sini adalah sebatas sopir. Sehingga wajar saja saya merasa berkecil hati.
Pertanyaan yang dilontarkan beliau, dengan senang hati saya jawab sebagaimana adanya. Saya merasa senang sekali dan setidaknya tak seminder saat awal-awal berjumpa dengannya.Oh iya, di restoran ini, kami tidak bertiga. Penggagas BIL Fest, yaitu Mas Neo menyususl dan turut membersamai Pak Sukidi menyantap hidangan yang sudah dipesan: sop buntut dan tumis kangkung. Kami pun makan sebagaimana mestinya. Setelah menikmati makan siang dengan seksama, dilanjutkannya menunaikan ibadah salat zuhur di musala yang tersedia di situ. Selepas selesai salat, kami pun bertolak ke Hetero Space Banyumas, di mana event BIL Fest dilangsungkan.
Sesampainya di Hetero Space, Pak Sukidi pun open mic untuk mengisi acara di BIL Fest mulai pukul 13.00 WIB dan berakhir sampai pukul 15.00 WIB. Setelah itu, kami pun bergegas untuk menuju Stasiun Purwokerto, dikarenakan jadwal keberangkatan kereta api menuju Jakarta pukul 15.22 WIB. Syukurnya jarak antara Hetero Space Banyumas dengan Stasiun Purwokerto tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu sekitar 10-15 menit.
Dalam perjalanan menuju stasiun, beliau berbicara dan bercakap ria dengan Mas Kuncen tentang kesannya mengikuti acara BIL Fest 2025 ini. Sekurang-kurangnya yang saya dengar, beliau merasa cukup senang bisa berkontribusi di event literasi satu ini, Beliau juga berpesan tentang semua hal itu membutuhkan yang namanya proses. Lebih-lebih kerja-kerja kreatif di dunia literasi. Ia juga mendoakan semoga khususnya BIL Fest 2025 bisa memberi dampak positif yang sanagt signifikan di Banyumas, wabilkhusus perihal literasi dan semoga BIL Fest yang akan datang bisa lebih meriah lagi.
Tindakan Kecil Bernilai Besar
Tibalah kami di Stasiun Purwokerto. Sebelum Pak Sukidi keluar dari mobil, beliau menyempatkan melayangkan “terima kasih” kepada saya. Lagi-lagi saya dtampar oleh kerendahan hati, kesederhanaan, dan rasa terima kasihnya sosok sekaliber Pak Sukidi. Dalam hati saya, “Pak, anda tak perlu berterima kasih. Karena ini memang sudah menjadi tugas saya”.
Dari sini, saya menjadi belajar, sekecil apapun kebaikan seseorang terhadap kita, alangkah baiknya kita haturkan terima kasih kepadanya. Karena bagaimanapun, kita bisa sampai di titik ini berkat kebaikan-kebaikan dan bantuan-bantuan dari orang lain. Mulai dari yang terkesan kecil, hingga yang besar sekalipun. Saya menjadi teringat akan perkataan yang berbunyi, “orang yang tidak berterimakasih kepada orang (lain) dengan memuji atas kebaikan mereka berarti ia tidak bersyukur kepada Allah swt.” Jadi mari kita berterima kasih kepada siapapun yang pernah mengulurkan tangannya kepada kita.
Saya juga sampai terima kasih kepada kalian, yang sudah berkenan membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat dan jangan lupa tinggalkan kebaikanmu di kolom komentar.
Fajrul Alam. Penyair muda dan aktif di dunia literasi Purwokerto, ia juga telah menerbitkan sejumlah karya puisi yang tersebar di berbagai media cetak dan digital. Buku antologi puisi pribadinya berjudul “Resep Bahagia” (JP: 2025). Bisa disapa via IG: fajrulalam_





mantab jrul