Teras rumah Ahmad Tohari

Melampaui Ahmad Tohari (2)

Rabu pagi, 18 Juni 2025 kami menunggu beliau di teras rumahnya. Si pemilik rumah yang akan kami temui sedang takziyah -rumah duka masih satu RT. “Kami harus bertemu bapak pagi ini”, ucap saya ke seseorang yang mungkin saudaranya. Kami diminta menunggu di teras. Akhirnya sambil menunggu, kami beralih ke warung kopi dekat rumah beliau. Warung kopi yang sekaligus tempat penitipan sepeda motor. Kami sejenak singgah di sana untuk sekedar meluruskan punggung setalah berkendara dari Purwokerto menuju Jatilawang. Setalah 30 menit berlalu, beliau sudah pulang. Kami kembali ke rumah itu. Seseorang

Read More »

Melampaui Ahmad Tohari (1)

Perjalanan saya pulang ke Banyumas, dua bulan terakhir ini (Mei-Juni) membawa kembali ke dunia literasi. Bukan sebagai pembaca buku yang asik sendiri di pojokan perpustakaan atau menulis untuk dibaca sendiri. Namun sebagai orang yang melelahkan diri untuk menjadi bagian dari kampanye literasi. Ketika kita berbicara tentang literasi dan Banyumas, pasti akan ada nama Ahmad Tohari. Atau berbicara tentang Banyumas dan kebudayaannya, ada nama Ahmad Tohari di sana. Tentang gagasan dan karya-karyanya. Seakan Ahmad Tohari bukanlah lagi nama seseorang. Namun ilmu dan topik pembicaraan tersendiri. Ketika Blora memiliki seorang Pramoedya Ananta

Read More »

BIL Fest: Membicarakan Mat Dawuk dan Kisah Asmaranya

Salah satu sastrawan muda Indonesia, akan menjadi bagian dari obrolan di Banyumas International Literacy Festival. Dia adalah Mahfud Ikhwan. Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa dari Dewan Kesenian Jakarta tahun 2017. Novel Dawuk “kisah kelam dari Rumbuk Randu ” adalah salah satu karya Mahfud Ikhwan yang akan dibicarakan di BIL Fest. Yang kini Novel Dawuk telah memiliki paspor. Sehingga novel itu telah melintasi teritori wilayah Indonesia. Novel Dawuk sudah diterjemahkan kedalam Bahasa Inggris dengan judul “A Dark Tale form the Cottonwood Grove”. Dan Novel Dawuk sudah di bedah di India. Karena hal

Read More »
poster Sukidi di bIL Fest

BIL Fest: Sukidi dan Sebuah Titik Temu

Saat meramu wacana yang akan dibawa oleh BIL Fest, yaitu kesetaraan dalam akses ruang literasi, kami mencari beberapa narasumber yang kami rasa sesuai dengan semangat yang dibawa. Hingga akhirnya kami mencoba mengulik beberapa tokoh nasional. Dengan berani, kami menghubungi Mas Sukidi. Seorang cendekiawan muslim Indonesia yang baru pulang dari Harvard University.  Alhamdulillah, beliau bersedia. Sebuah keistimewaan bagi kami. Sekaligus pelecut semangat untuk terus membawa kesetaraan dalam akses literasi.  Mengapa Sukidi?  Kami menemukan setidaknya beberapa titik temu, antara gagasan BIL Fest dan juga apa yang disuarakan Mas Sukidi selama kepulangannya ke tanah

Read More »

BIL Fest: Kenapa Muhidin?

Kita hidup di republik yang bangga pada buku, tapi alergi pada pembaca. Negara mengangkat literasi sebagai jargon seolah-olah negara benar-benar hadir, tapi cobalah bertanya pada penggerak literasi di Banyumas, apa jawaban mereka. Di tengah republik yang gamang terhadap pemikiran, yang sedang sibuk mengubah sejarah sesuai permintaan penguasa saat ini, berdirilah satu nama yang konsisten menjadi kutu buku subversif dan masih hidup di negeri Indonesia ialah Muhidin M. Dahlan. Ia tidak menulis untuk menyenangkan dan mengenyangkan. Ia menulis untuk menggugat ingatan. Di tangannya, sejarah bukan catatan nostalgia tapi arena perlawanan intelektual.

Read More »

TBTC: Membaca BIL Fest Bersama Rahmi Wijaya

Malam minggu 31 mei 2025 di Unsoed Café berubah menjadi ruang Tukar Baca Tukar Cerita (TBTC), kali ini bukan sekadar kopi dan cerita. Hadir sebagai narasumber tunggal, Rahmi Wijaya selaku Project Director dari Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest). Rahmi membuka diskusi dengan memaknai literasi menurut dia, salah satu kalimat yang menghantam dinding kesadaran ialah: “Literasi, membuat saya waktu kecil tidak merasa miskin padahal secara ekonomi saya miskin“ Kalimat itu bukan puisi. Itu kritik. Kritik terhadap sistem ekonomi yang membungkam martabat melalui angka. Rahmi kecil menjadikan literasi sebagai perlawanan diam

Read More »

Ingatan, Identitas, dan Ironi dalam Buku Nada Tjerita

Tiba-tiba mas Manunggal K Wardaya mengirim pesan “PDF Nada Tjerita kl mau dibagi di web BIL Fest silahkan mas“. Wahh keberuntungan apalagi ini untuk BIL Fest karena PDF Nada Tjerita sebenarnya sudah dicetak menjadi buku, sudah di layout rapi, ya kalo ada modal tinggal di cetak ulang. Setelah mendapat pesan tersebut saya memiliki setidaknya tanggung jawab untuk menguliknya secara komperhensif, walaupun sebelumnya sudah saya baca, yang kadang bikin tertawa sendiri padahal bahasanya naratif dan bukan bahasa bercanda, mungkin inilah yang disebut naskah yang mampu memanggil kenangan dan membuat teater benak

Read More »

Literasi Itu Tidak Seksi: Catatan dari Festival Literasi yang Sepi Sponsor

Sponsor adalah kata lain dari harapan. Tapi dalam dunia literasi, harapan itu sering dibalas dengan diam yang elegan atau bahkan penolakan yang dibungkus senyum korporat. Mengapa? Karena literasi bukanlah acara yang seksi. Ia tidak menjanjikan panggung megah, gemerlap lampu, atau barisan selebritas. Ia hanya menjanjikan sesuatu yang paling menakutkan bagi kekuasaan dan pasar yaitu pikiran yang kritis. Di kota satelit seperti Purwokerto, di mana ruang publik sering diisi oleh konser dadakan dan konten receh, sebuah festival literasi seperti berteriak dalam ruang hampa. Sponsor tak datang bukan karena mereka jahat, tapi

Read More »

BIL Fest: Romantisme dalam Potongan Kliping

Ini hanyalah catatan biasa. Sebuah reportase yang tidak ada niatan glorifikasi siapapun dan apapun. Hanya ingin mencatat peristiwa saja. Bahwa perjalanan BIL FEST 2025, akhirnya beririsan dengan berbagai macam orang dengan latar belakangnya yang patut kita apresiasi. Di sudut ruangan lantai 3 gedung perpustakaan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) beliau menunggu kedatangan kami. Wajahnya teduh dan tenang. Beliau menyapa kehadiran kami dengan hangat. Meskipun dari kami, belum pernah ada yang mengenalnya secara langsung. Beliau adalah Prof. Sugeng Priyadi. Guru besar Ilmu Sejarah di UMP. Setelah kami cermati lagi, ternyata beliau pengisi

Read More »

Tim BIL Fest Tidak Dibayar: Ketika Akal Sehat Bertemu Kesadaran Literasi

Pertanyaan “bagaimana membangun sebuah tim yang tidak dibayar?” adalah pertanyaan yang keliru. Karena sejak awal, ia memakai paradigma transaksional dalam membangun relasi. Itu seperti bertanya, “apa untungnya mencintai?”—seolah segala sesuatu harus ditimbang dengan neraca keuntungan. Padahal, kalau kita masih bertanya “apa untungnya?”, kita belum layak bicara tentang pengabdian, gagasan, dan literasi. Kita masih berkutat dalam logika pasar, bukan dalam logika peradaban. Di Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest), tidak ada yang “tidak dibayar”. Justru sebaliknya: semua dibayar dengan sesuatu yang tak ternilai. Apa itu? Kesadaran. Kesadaran bahwa bergerak bersama untuk

Read More »
Scroll to Top