
Melampaui Ahmad Tohari (2)
Rabu pagi, 18 Juni 2025 kami menunggu beliau di teras rumahnya. Si pemilik rumah yang akan kami temui sedang takziyah -rumah duka masih satu RT. “Kami harus bertemu bapak pagi ini”, ucap saya ke seseorang yang mungkin saudaranya. Kami diminta menunggu di teras. Akhirnya sambil menunggu, kami beralih ke warung kopi dekat rumah beliau. Warung kopi yang sekaligus tempat penitipan sepeda motor. Kami sejenak singgah di sana untuk sekedar meluruskan punggung setalah berkendara dari Purwokerto menuju Jatilawang. Setalah 30 menit berlalu, beliau sudah pulang. Kami kembali ke rumah itu. Seseorang









