BIL Fest: Membicarakan Mat Dawuk dan Kisah Asmaranya

Salah satu sastrawan muda Indonesia, akan menjadi bagian dari obrolan di Banyumas International Literacy Festival. Dia adalah Mahfud Ikhwan. Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa dari Dewan Kesenian Jakarta tahun 2017. Novel Dawuk “kisah kelam dari Rumbuk Randu ” adalah salah satu karya Mahfud Ikhwan yang akan dibicarakan di BIL Fest. Yang kini Novel Dawuk telah memiliki paspor. Sehingga novel itu telah melintasi teritori wilayah Indonesia. Novel Dawuk sudah diterjemahkan kedalam Bahasa Inggris dengan judul “A Dark Tale form the Cottonwood Grove”. Dan Novel Dawuk sudah di bedah di India. Karena hal itulah Mahfud Ikhwan turut bersamanya untuk mengikuti Festival Literasi di India.

Tokoh utama dalam Novel Dawuk adalah Mat Dawuk (Muhammad Dawud) dan Inayatun. Siapapun yang membaca kisah asmara antara Mat Dawuk dan Ianyatun, entah itu hanya bualannya Warto Kemplung salah satu tokoh yang mengawali cerita asmara itu di sebuah warung kopi, atau kisah itu sungguh-sungguh terjadi, akan ikut terkoyak bantinya. Tutur ceritanya tidak muluk-muluk. Sangat dekat dengan kehidupan masyarakat pada umumnya. Bahkan ada ketakutan tersendiri jika kehidupan asmaranya seperti kisah Mat Dawuk dan Ianyatun. Pembaca akan menangis, geram, gundah, resah. Emosi kita akan diaduk-aduk tidak karuan.

Mahfud Ikhwan berhasil membuat kisah kelabu itu seolah menjadi kisah yang bisa terjadi kepada siapapun dan dekat dengan kita. Padahal peristiwanya terjadi di Rumbuk Randu nan jauh di sana. Kita akan diberikan gambaran kehidupan masyarakat desa sederhana yang hidup di era Golkar dan Petiga. Latar belakang era tahun 80-90an.

*

BIL Fest mengahadirkan Mahfud Ikhwan. Atau malah Warto Kemplung yang akan berbicara banyak di BIL Fest. Atau Mat Dawuk sendiri yang akan berbicara. Besok saat acara, tanyakan kepada mereka kabar Inayatun. Atau setidaknya tanyakan, kenapa kisah kelabu itu, begitu dekat dengan kita. Seolah kisah asmara mereka adalah kisah yang terjadi di samping rumah kita. Kenapa kisah kelabu? Bukan malah kisah asmara bahagia yang menjadi keinginan pasangan manapun.

*

Jika kamu laki-laki dan belum menikah. “Jangan” baca Novel Dawuk. Atau setidaknya bacalah sampai utuh. Supaya jika kelak kamu menemukan “Inayatunmu” dikemudian hari. Kamu akan adil menilainya. Menilai perempuanmu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top