Rabu pagi, 18 Juni 2025 kami menunggu beliau di teras rumahnya. Si pemilik rumah yang akan kami temui sedang takziyah -rumah duka masih satu RT. “Kami harus bertemu bapak pagi ini”, ucap saya ke seseorang yang mungkin saudaranya. Kami diminta menunggu di teras. Akhirnya sambil menunggu, kami beralih ke warung kopi dekat rumah beliau. Warung kopi yang sekaligus tempat penitipan sepeda motor. Kami sejenak singgah di sana untuk sekedar meluruskan punggung setalah berkendara dari Purwokerto menuju Jatilawang.
Setalah 30 menit berlalu, beliau sudah pulang. Kami kembali ke rumah itu. Seseorang yang ingin kami temui sudah duduk di teras. Bersama dengan 3 cangkir teh panas dan cemilan di dalam toples.
Kami disambut dengan hangat. Obrolan kami diawali dengan pesan yang kami bawa dari BIL Fest –beliau memang sudah beragenda untuk malam harinya datang ke penutupan BIL Fest 2025 untuk mengisi Pidato Kebudayaan. Setelah berdiskusi teknis keberangkatan, barulah saya mengajukan beberapa bahan untuk diobrolkan. Bukan lagi bagaimana beliau menulis atau pesan apa yang beliau bawa dalam tulisan-tulisannya, namun perkara lain. Yaitu tentang generasi muda di Banyumas dan literasinya. Beliau memang menyadari bawah tidak kuatnya tradisi menulis di masyarakat awal Banyumas. Tradisinya adalah lisan. Sehingga harus ada upaya yang lebih massif lagi untuk tradisi ini (membaca dan menulis) -red. Hingga beliau mengatakan akan berpidato kebudayaan yang memang mengkampanyekan membaca buku dan menulis.
Dalam obrolan itu saya menyampaikan bahwa era kepenulisan sastra di Banyumas sekarang ini adalah eranya Ahmad Tohari. Dunia luar Banyumas pun melihatnya seperti itu. Dan beliau memang mengakuinya. Karena memang tulisan-tulisan baik itu sastra ataupun non satra memang mempengaruhi terhadap sebuah kebudayaan sebuah daerah atau membentuk sebuah kebudayaan baru.
“Berarti boleh kiranya saya mengatakan akan ada post Ahmad Tohari dalam dunia kesusastraan Banyumas?” beliau menjawab dengan tawa khasnya. Mungkin bagi sebagain orang yang sudah pernah ngeteh sama beliau, tahu bagaimana tawa khasnya. Beliau memang berharap seperti itu. Tapi harus sabar.
Beliau lalu beranjak masuk ke dalam rumah. Lalu membawa sebuah majalah. Beliau menghadiahi kami dengan sebuah majalah. Tempat di mana beliau terus turun tangan merawat gerakan literasi di Banyumas. ”Saya tunggu kamu kirim tulisan di sini”, sambil beliau membubuhkan tanda tangan di lembar depan Majalah ANCAS. Sebuah majalah lokal yang masih kuat terbit secara cetak dan berbahasa “ngapak”. Saya terima dengan senang hati. “Insya Allah”, semoga saya bisa.
Beliau seakan ingin menunjukkan bahwa salah satu kekuatan beliau dalam berkarya adalah tidak meninggalkan “rumah”. Kekuatan kebudayaan lokal yang bisa menjadi sumber refrensi dalam berkarya bagikan daun singkong di belakang rumah yang bisa dimasak jadi buntil.
Bersambung . . .
Baca juga Melampaui Ahmad Tohari (1)

Editor in Chief bilfest.id | Pekerja Teks Komersial.




