BIL Fest: Romantisme dalam Potongan Kliping

Ini hanyalah catatan biasa. Sebuah reportase yang tidak ada niatan glorifikasi siapapun dan apapun. Hanya ingin mencatat peristiwa saja. Bahwa perjalanan BIL FEST 2025, akhirnya beririsan dengan berbagai macam orang dengan latar belakangnya yang patut kita apresiasi.

Di sudut ruangan lantai 3 gedung perpustakaan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) beliau menunggu kedatangan kami. Wajahnya teduh dan tenang. Beliau menyapa kehadiran kami dengan hangat. Meskipun dari kami, belum pernah ada yang mengenalnya secara langsung.

Beliau adalah Prof. Sugeng Priyadi. Guru besar Ilmu Sejarah di UMP. Setelah kami cermati lagi, ternyata beliau pengisi acara di BIL FEST yang secara usia paling sepuh. Kami seperti anak atau cucu beliau.

Meksipun kami sudah berkomunikasi melalui daring, kami tetap memperkenalkan diri. Menanyakan kabar, lalu menyampaikan tujuan kedatangan. Awalnya memang ada kekhawatiran, apakah pertemuan tim BIL FEST dengan Prof. Sugeng nanti akan “kaku” atau bisa cair ya? Mengingat beberapa hal, seperti jarak usia, beliau seorang guru besar dan lain sebagainya. Namun hal itu terbantahkan semuanya. Bahkan sejak awal kami masuk ke ruangan beliau.

Prof. Sugeng Priyadi adalah salah satu akademisi yang dengan tekun mengumpulkan masa lalu yang “tercecer.” Yaitu Babad Banyumas. Tentu pekerjaan yang tidak mudah. Butuh waktu yang tidak bisa direncanakan secara detail sampai kapan selesainya. Kami lihat, ketekunan dan kesabaranlah yang akhirnya membawa beliau bisa mengumpulkan puluhan Babad yang terkandung di dalamnya tentang Banyumas. Hingga menjadi guru besar.

Dalam obrolan kami, beliau menceritakan banyak hal. Terutama perjuangan dan upaya-upaya beliau dalam mengumpulkan yang “berceceran” itu tadi. Kemudian menelaah dengan disiplin ilmu akademiknya. Sependek pengetahuan kami, beliau termasuk salah satu orang yang kini punya otoritas untuk berbicara tentang Sejarah Banyumas. Berangkat dari proses akademiknya. Oleh karena itulah, BIL FEST 2025 memberikan penghormatan kepada beliau untuk berbagi ilmunya.

Beliau tidak sekedar kita minta untuk “mendongeng” tentang Kamandaka, Banyak Catra atau yang lainnya, melainkan mengajak untuk generasi muda, mengenal akan sejarah Banyumas. Tentu ada ilmu, pelajaran dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Beliau memang memiliki “hobby” mengabadikan masa lalu. Bahkan kami ditunjukkan kliping-kliping beliau sejak masih SMP. Kliping itu masih rapi dan utuh. Kliping koran berita bulutangkis, catur, sepak bola (piala dunia) dan lain sebagainya. Beliau menceritakan, dan mengajak kami kembali ke era 70an dan 80an.

Proses pengumpulan yang “berceceran”, termasuk Babad Banyumas akan menjadi suguhan utama saat bincang-bincang dengan beliau saat BIL FEST 2025 yang akan di helat hari Senin, 16 Juni 2025. Terutama hal-hal unik dan mistik yang mengiringi –termasuk kenapa ruangan beliau di lantai 3, silakan ditanyakan saat bincang-bincang ya. . .. Beliau juga berkelakar, “saya ini orang Muhammadiyah, tapi kok malah nulis dan neliti yang beginian?”.

Di penghujung pertemuan kami, beliau memiliki prinsip yang patut diapresiasi. Beliau memiliki banyak naskah yang bersumber pada Babad-babad Banyumas yang ditemukan. Dan beliau berupaya untuk menyebarkan luaskan isi babad tersebut dalam bentuk buku. Dan dibagikan secara gratis untuk masyarakat. “Tinggal siapa yang mau membiayai?”, canda beliau.

Tapi harapan beliau dan kami sama. Kerja-kerja literasi, ilmu pengetahuan, kebudayaan adalah untuk kemaslahatan masyarakat. Untuk kebaikan generasi yang akan datang. Bahwa Nusantara yang kita cintai ini, memiliki masa lalu yang adiluhung. Bisa kita pelajari. Bukan untuk glorifikasi. Tapi untuk mengambil pelajaran dari orang-orang terdahulu.

Mungkin saja, saat kita belajar tentang masa lalu, kita akan menemukan kejutan-kejutan yang tidak terduga dari kehidupan masa lalu. Kita dibuat masuk ke dalam perjuangan pendahulu kita. Tentang perjuangan, kesabaran, keikhlasan, budi pakerti di masa lalu. Kemudian menciptakan hal-hal romantisme saat kita seolah-olah menjadi bagian dari mereka. Ya setidaknya, kita bisa melakukan sesuatu yang saat ini Chatgpt dan AI tidak bisa. Yaitu memiliki sejarah leluhur yang luar biasa. Weekkk. . .

Sampai ketemu di BIL FEST 2025 12-18 Juni besok ya teman.

oleh : Fikri Kuncen

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top