Literasi Itu Tidak Seksi: Catatan dari Festival Literasi yang Sepi Sponsor

Sponsor adalah kata lain dari harapan. Tapi dalam dunia literasi, harapan itu sering dibalas dengan diam yang elegan atau bahkan penolakan yang dibungkus senyum korporat.

Mengapa? Karena literasi bukanlah acara yang seksi. Ia tidak menjanjikan panggung megah, gemerlap lampu, atau barisan selebritas. Ia hanya menjanjikan sesuatu yang paling menakutkan bagi kekuasaan dan pasar yaitu pikiran yang kritis.

Di kota satelit seperti Purwokerto, di mana ruang publik sering diisi oleh konser dadakan dan konten receh, sebuah festival literasi seperti berteriak dalam ruang hampa. Sponsor tak datang bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka takut tidak mendapat “eksposur.” Dan eksposur, hari ini, lebih sering berarti viralitas kosong daripada kedalaman isi.

Saya kira ini bukan hanya soal dana. Ini soal arah berpikir. Literasi adalah kerja sunyi dan sponsor, sayangnya sekali lagi, lebih suka keramaian yang gaduh.

Tapi kita tidak bisa menyerah. Karena kalau yang berpikir menyerah, maka yang tak berpikir akan menang. Dan ketika itu terjadi, panggung akan dikuasai bukan oleh mereka yang membaca, tapi oleh mereka yang hanya bisa omonomon tanpa memahami.

Maka, kalau Anda masih membaca ini, mungkin Anda bagian dari masalah. Atau bagian dari harapan. Tergantung Anda memilih di sisi mana logika berdiri.

Anda bisa support Banyumas International Literacy Festival di tautan ini -> Support BILFest

1 komentar untuk “Literasi Itu Tidak Seksi: Catatan dari Festival Literasi yang Sepi Sponsor”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top