Saat Teknologi Menguras Jiwa, Islam Menawarkan Jalan Pulang

Hari ini, manusia tidak kekurangan teknologi. Dalam hitungan detik, informasi dapat diakses, pekerjaan diselesaikan dengan mudah, dan komunikasi dilakukan tanpa batas ruang. Namun, di balik segala kemudahan itu, perhatian kita justru dapat terpusat pada teknologi. Notifikasi yang terus muncul hingga kebiasaan scrolling tanpa tujuan, akhirnya kita sulit berhenti meskipun sadar, bahkan ketika menyadari bahwa penggunaan waktu belajar terganggu. Akibatnya waktu terbuang sia-sia dan fokus menjadi terganggu.

Read More »

Bahtera Mangsa di Resonansi Bilah Calung

Pranata Mangsa, adalah sebuah tata teknologi warisan leluhur. Dari segi bahasa, berasal dari perpaduan 2 kata, yaitu “Pranata” (aturan) dan “Mangsa” (musim atau waktu). Pranata Mangsa bukan hanya urutan angka di atas lembar kalender -biasanya kita temukan dalam lembaran besar “Almanak Dinding”. Bagi masyarakat agraris di Nusantara, khususnya Suku Jawa, ia adalah kompas eksistensial yang menjadi panduan -yang awal mula tak tertulis terhadap ritme hidup para petani dan nelayan. Panduan agar senantiasa laras dengan denyut nadi semesta.

Read More »

Social Comparison: Mengapa Kita Sulit Merasa Cukup dengan Diri Sendiri?

Pernahkah kita merasa baik-baik saja dengan hidup sendiri, sampai akhirnya melihat kehidupan orang lain? Awalnya hanya membuka media sosial sebentar. Kemudian melihat teman yang sudah lulus, ada yang mendapatkan pekerjaan, ada yang melanjutkan pendidikan, ada yang mulai menghasilkan uang, bahkan ada yang sudah mencapai sesuatu yang selama ini kita inginkan.

Read More »

Biar Ngga Rugi Selama Masa Lajang

Banyak dari kita para Gen Z merasa, bawa status single alias melajang sering kali dianggap sebagai hal yang menyedihkan. Kasihan yah. Saya pun pernah mengalami hal demikian. Di satu sisi, lingkungan terus menerus memberikan pressure untuk cepat-cepat menikah. Di sisi yang lain, tren media sosial sibuk menggaungkan self-love yang tak jarang terasa kabur arahnya, bahkan kurang jelas.

Read More »

Republik yang Lupa Kontrak Sosial

Para pemikir besar seperti Thomas Hobbes, John Locke, dan Jean-Jacques Rousseau sejak abad ke-17 dan 18 telah mengingatkan, negara lahir bukan untuk menguasai rakyat, melainkan sebagai hasil kesepakatan bersama, alias kontrak sosial — di mana warga menyerahkan sebagian kebebasannya kepada negara dengan syarat negara wajib melindungi hak-hak alami, menjamin kesejahteraan, serta menjaga keadilan bagi seluruh anggota masyarakat.

Read More »

Sebelum Sekolah Menyeragamkan Cara Mereka Belajar

Jauh sebelum mengenal ruang kelas, anak telah belajar memahami dunia melalui pengamatan, eksplorasi, percobaan, pertanyaan, dan interaksi dengan lingkungan. Ketika menemukan sesuatu yang menarik, muncul dorongan untuk mengetahui lebih jauh. Ketika sebuah percobaan tidak berhasil, anak dapat mengulang, mengubah cara, dan mencoba kembali. Proses tersebut berlangsung tanpa kurikulum tertulis, penilaian, maupun pembagian waktu belajar yang formal. Belajar, dengan demikian, bukan hanya aktivitas yang terjadi setelah seseorang menerima pengajaran.

Read More »

Problem Kedisiplinan Pesantren: Mindset Santri atau Kesalahan Sistem?

“Santri kabur dari pesantren”, “santri diam-diam membawa ponsel”, “santri malas-malasan”. Berita semacam ini nyaris menjadi agenda tahunan di berbagai pesantren. Saat kabar ini sampai ke telinga wali santri dan masyarakat, mereka spontan menyalahkan santri itu dan menganggap sebagai sumber masalah yang ada. Bahkan sebagian ustadznya sependapat dengan mereka. Tapi benarkah kedisiplinan hanya soal niat dan kesadaran santri secara pribadi? Sesederhana itukah? Ada alasan kuat mengapa argumen ini mudah diterima.  Di pesantren, disiplin melekat erat dengan konsep kesadaran, keikhlasan, dan perjuangan santri dalam menempa diri. Sehingga ketika ada santri yang melanggar

Read More »

Mengapa Ajaran Agama Tidak Berdampak pada Perilaku?

Masyarakat kita saat ini banyak yang memiliki pandangan bahwa ajaran agama yang dipercaya haruslah berdampak pada perilaku penganutnya. Artinya jika kita memeluk agama islam dan percaya pada ajarannya maka perilaku yang kita lakukan haruslah konsisten dengan apa yang diajarkan oleh nilai-nilai islam. Kenyataannya akhir-akhir ini kita banyak disuguhkan perilaku-perilaku orang beragama yang jauh sekali dengan nilai-nilai islam seperti banyaknya kasus kriminalitas, pelecehan, pemerkosaan, korupsi, miras, sex bebas dan sebagainya. Hal ini tentu saja membuat kita miris dan menjadi celah bagi orang di luar islam untuk menyudutkan ajaran islam dan pemeluknya.

Read More »

Masa Depan Indonesia di Tangan Pemuda Kreatif

Indonesia adalah negeri yang kaya akan kekayaan sumber daya alam, keberagaman budaya, ras, agama, serta posisi strategis di dunia. Namun, semua potensi itu tidak akan bermakna tanpa peran generasi muda sebagai motor penggerak bangsa. Pemuda bukan hanya pewaris, melainkan juga pencipta masa depan. Di era yang serba cepat dan penuh tantangan global, kreativitas pemuda menjadi kunci utama dalam menentukan arah Indonesia ke depan.

Read More »

Sukacita Pertunjukan Rakyat: Menyimak Pesona Ebeg Mekar Anom Budoyo

Semarak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia masih terasa di Dusun 2 Kalisetra Lor-Nusapule, Desa Plangkapan, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas. Pada Selasa [25/08/26], warga kembali berkumpul untuk memeriahkan momentum kemerdekaan yang digelar beberapa hari setelah peringatan 17 Agustus. Suasana semakin meriah dengan hadirnya pertunjukan Kesenian Kuda Kepang (Ebeg) Mekar Anom Budoyo dari Karang Pakis, Cilacap, yang menjadi salah satu hiburan bagi masyarakat menghadirkan warna budaya tradisional dalam perayaan kemerdekaan, setelah sebelumnya diadakan jalan sehat mengelilingi Dusun 2 dan dilanjutkan pengundian doorprize.

Read More »
Scroll to Top