
Kita secara kolektif perlu mencatat peristiwa ini. Pada tanggal 1 Mei 2026, KSPI (Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia) yang sedianya akan menggelar aksi demonstrasi di DPR RI, pindah ke Monas. Tentu ada penyebabnya. Setelah Said Iqbal -Presiden KSPI cum Presiden Partai Buruh diterima audiensinya oleh Presiden Prabowo. Menurut Said, Presiden Prabowo menanggapi 11 isu dan harapan para buruh.
Okelah, himbauan-himbauan untuk May Day yang tidak anarki digemakan. Namun, apakah aksi May Day dari depan DPR RI pindah ke Monas hanya soal pindah tempat? Lalu, Presiden Prabowo akan hadir. Dan akan merayakan May Day bersama para buruh, lalu aspirasi dinyatakan berhasil?
Perpindahan lokasi May Day bukan soal tempat. Perlu kita pahami bahwa aksi May Day bukan festival atau konser lalu joget-joget dan nyanyi bersama. Ada aspirasi yang disuarakan saat May Day. Ketika Presiden mau mendengarkan aspirasi, itu bagus. Namun di satu sisi, aspirasi lebih tepat jika diterima dan direspon cepat oleh lembaga legislatif. Dalam konteks ini adalah DPR RI khususnya Komisi IX.
Aspirasi yang kemudian masuk ke dalam RUU lebih dibutuhkan oleh buruh. UU tentang ketenagakerjaan yang mampu menjadi jaring pengaman bagi mereka, jauh lebih dibutuhkan. Bukan filantropi sesaat seperti sembako yang dibagi-bagi saat acara. Mereka tidak hanya hidup itu hari itu. Mereka perlu ada kepastian hak yang sewaktu-waktu mengancam keberlangsungan kehidupan mereka. Tentang upah layak, PHK, dan lain sebagainya. Yang bisa mengeksekusi legislasi atau UU itu adalah DPR. Begitu saja logikanya.
Namun, jika akhirnya pindah ke Monas juga tidak apa-apa. Yang penting aspirasi tetap tersampaikan dan didengar oleh yang memiliki kuasa. Tidak anarki apalagi sampai ada korban luka sampai jiwa.
***
Perjuangan atas UU Ketenagakerjaan para buruh saat ini yang mampu menjadi jaring pengaman keberlangsungan hidup bukan hanya untuk generasinya, namun dalam rangka menyambut generasi berikutnya. Apalagi Kemendikti ada wacana menutup jurusan yang tidak terserap industri kan? Tutup saja pak!!! Fokus ke jurusan yang setelah lulus, siap kerja. Siap mengisi pos-pos industri yang akan membangun negeri.
Bukankah alurnya sudah bagus? Lulusan perguruan tinggi disiapkan untuk industri dengan dijamin oleh UU Ketenagakerjaan kehidupannya. Akan mulia sekali pemerintah negara ini. Dari legislasi hingga eksekusinya sinkron. Dari hulu ke hilir nyambung. Yang intinya menitikberatkan pada kesejahteraan warganya. Yang sekarang sedang kuliah, nasibnya sedang diperjuangkan kakak-kakaknya para buruh bersama negara yang diwakili Presiden dan DPR.
Saya yakin dengan begitu, May Day yang digelar di mana saja seluruh Indonesia, bisa sebagai hari yang benar-benar libur. Buruh bisa menghadiri May Day yang seperti festival jajanan Bango atau konser musik Pestapora. Tidak akan rusuh. Apalagi keinginan dan harapan buruh diterima sebagai aspirasi yang siap dibela mati-matian oleh para wakilnya, baik di legislatif maupun eksekutif.
Akhirnya, sejarah selalu mencatat, setelah May Day tahun 2026, May Day di Indonesia selanjutnya hanya ada keceriaan tanpa ada kekhawatiran. Hanya ada kebahagiaan tanpa kemarahan. Ekonomi semua lapisan meningkat, lalu joget-joget bersama. Oke gasss. . . oke gasss. . .
Hasan Ghozali, orang biasa yang membaca dan menulis.




