
Catatan ini adalah catatan bagi agenda “Prapen at Home: Prapen Puisi #3”,[1] yang dihelat oleh Coffee at Home, salah satu kafe literasi yang berbasis di Pabuwaran, Purwokerto Utara. “Prapen Puisi #3” berlangsung beberapa waktu lalu, di penghujung Juni, pada tanggal 30, pada Senin sore yang bernuansa kejingga-kejinggaan. Coffee at Home dihidupi oleh berbagai elemen pengunjung, tanpa ada pembedaan kelas, semua berhak masuk dan bergelayut dengan buku-buku di dalam sana.
Di balik Coffee at Home ada Iik Hikmandari, sosok sahabat, yang juga kami anggap sebagai ibu yang setia mengemongi kami, membersamai kami dalam agenda-agenda literasi dan semacamnya. Ada juga barista-barista yang ulala: Arjo, Jeslyn, Yusron, Umi. Mereka semua adalah sahabat karib saya—dan tersebab demikian, saya dengan mengalir berani “me-roasting” sosok-sosoknya. Oh, iya, sekaligus ini juga persembahan bagi pertambahan usia Arjo, salah seorang barista yang gemar bernyanyi ft. saya—bernyanyi di kala malam, di hadapan beribu lepasan kerikil di halaman kafe, yang nyalanya redup-remang.
***
(Senin, 30 Juni 2025 – 15.30 WIB)
Juni dan puisi. Hal klise akan terjadi. Puisi Sapardi dikutip lagi, puisi Sapardi dibahas lagi, tanpa ada pembaruan substansi diskusi. Demikian seterusnya—sampai tuwek, sampai elek. Oleh karena kebosanan itu, di penghujung Juni ini, saya lebih ingin membincangkan Sapardi sebagai seorang pemikir, sekaligus mencoba merelevansikan pemikirannya dengan dan dalam fenomena yang tengah kita jalani di sini, pada detik ini, di kedai kopi ini: Coffee at Home. Tetapi, saya tidak ingin membayangkan Sapardi hadir di tengah-tengah kita sebagai hantu yang masih peduli pada nasib puisi-puisinya. Mungkin, ia telah menerima puisinya di tempat peristirahatan sebagai amal yang menyenyakkan tidur, sebagai selimut yang bernilai jariyah. Bukankah puisi adalah salah satu wujud konkret dari—medium yang digunakan untuk penyampaian—ilmu yang bermanfaat?
Saya tekankan di sini, bahwa yang saya maksud adalah Sapardi Djoko Damono, bukan Sapardi at Home, apalagi Sapardi Ayam Bawang. Ya, yang saya ingin lakukan adalah melihat konsep “alih wahana” darinya,[2] dapat menjembatani buku, puisi, sastra, dan literasi secara umum dengan produk utama dari Coffee at Home, yakni kopi—kopi dalam artian seharfiah-harfianya, entah ia tubruk, entah ia olahan arabika, robusta, liberika, atau apa pun namanya, entah apa pun sentuhan-sentuhannya.
Hampir kebanyakan kafe literasi sebatas eksis pada tawaran pemajangan bersamaan antara kopi dan buku. Ada kopi, maka ada pajangan buku. Ada pajangan buku, maka ada kopi. Bisa juga dengan penghadiran perintilan-perintilan kutipan tokoh yang ditempel dan dipajang di dinding kafe, semisal kutipan Fidel Castro, Che, Pramoedya, dan lain sebagainya sebagai pelengkap. Kebanyakan senang yang kiri-kiri, barangkali biar kelihatan rada seksi. Tunggu saja: kapan-kapan di dinding Coffee at Home, akan saya pajangkan kutipan Hitler!
Pada intinya, elemen-elemen penanda literasi itu sebatas disandingkan dengan kahadiran kopi. Inilah permasalahannya! Maka dengan demikian, pernahkah kita bermaksud dan terbesit untuk menyelisik tautan lebih maknawi dari kedua entitas itu—yakni tautan yang lebih dari sebatas penyandingan bersama, yang amat permukaan bingitz?
Diri, Pengalaman Kebudayaan, Kopi
Barangkali, semuanya harus dimulai dari pembicaraan tentang diri, manusia itu sendiri—terutama, manusia seperti Arjo, seperti Jeslyn, seperti Yusron, seperti Umi, atau barista-barista lain di tempat antah-berantah, yang memiliki keterampilan dalam jagat perkopian. Kita sorot balik dari kehidupan mereka dalam angan-angan.
Pada zaman dahulu kala, di negeri yang nun dan jauh di sana, hiduplah seorang anak bernama Arjo di tengah-tengah keluarga dan masyarakatnya—seorang anak itu, dalam bayangan Anda, bolehlah dinamai Jeslyn, bisa juga Yusron, atau mungkin dipanggil Umi. Di pagi menjelang sekolah, mereka bertualang bersama Dora via televisi. Di siang menjelang akhir pelajaran, mereka dikenalkan pada kebaikan-kebaikan keluarga Budi. Di sore dengan cahaya kekuning-kuningan, mereka mengaji kilat tentang cerita-cerita nabi di langgar terdekat. Dan di malam menjelang terlelap, ibu, ayah, nenek, atau kakek mereka mengisahkan tragedi muasal Tangkuban Perahu. Pada siang keesokan di persekolahan, Yusron membawa buku siksa Neraka, dan Jeslyn memamerkan komik penghuni Surga. Demikian keseharian mereka: hidup dalam realitas, sekaligus terbelah dan hidup pula dalam selubung realitas fiksional dunia-dunia cerita.
Sebagai manusia asli, Arjo hampir tak bisa lepas dari keterikatannya pada kelompok sosial. Kelompok sosial terkecil seperti keluarga, dan yang lebih luas seperti masyarakatnya, memperkenalkan—mungkin lebih tepatnya: memaksa masuk—Arjo atau Yusron atau Umi atau Jeslyn pada penjara kebudayaan, mulai dari sistem bahasa, pengetahuan dan cara berpikir, organisasi sosial (lainnya), peralatan hidup dan teknologi, mata pencaharian, religi, hingga sistem keseniannya. Si kecil Arjo, si mungil Yusron, si imut Jeslyn, atau si lincah Umi, seiring perkembangan pendewasaan raga dan jiwa mereka, dibentuk menjadi manusia utuh oleh seluruh elemen itu.
Tubuh mereka, adalah arena interseksi, tempat berbagai fenomena dan pengetahuan baru bertemu, berkontestasi, dan kemudian melahirkan tindakan-tindakan atau teks (karya) konkret dari si “diri” tadi—dan meracik, menyeduh, sekaligus menyuguhkan kopi, adalah konkretisasi itu! Siapa yang bisa menjamin bahwa di dalam kopi yang mereka beri kepada kita, tidak ada “sastra” sama sekali di sana? Bukankah sebelumnya, kita telah membayangkan bahwa sang peracik setangkas Kamen Rider Kuuga itu, pernah mengalami pencelupan ke dalam fiksi? Di titik inilah, kita perlu menyorot kembali konsepsi Sapardi mengenai “alih wahana” itu sendiri, terutama pada proses mental dan pengendapan, sebelum kreasi atas teks baru tercipta.
Alih Wahana: Tumpukan Material Teks dan Sisi Mentalnya
Sapardi bilang kurang-lebih: alih wahana ialah pengubahan satu jenis kesenian ke jenis kesenian lain. “Wahana” dekat maknanya dengan “medium”, yang dipergunakan untuk mengungkapkan, mencapai, atau memamerkan gagasan atau perasaan—pada intinya adalah “pemindahan” dan “pengubahan”. Bagi Sapardi, pembicaraan atas konsep alih wahana itu, tidak bisa dipisahkan juga dari hubungan-hubungan antarmedia.
Wahana adalah medium atau “media” yang dimanfaatkan atau dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu; wahana juga merupakan alat untuk membawa atau memindahkan sesuatu dari satu tempat ke tempat lain—dan “sesuatu” yang bisa dialih-alihkan itu bisa berwujud gagasan, amanat, perasaan, atau sekadar suasana. Dalam pendirian Sapardi, selama ini kita terpaku pada pengetahuan bahwa masing-masing media berdiri sendiri dan bisa dipisahkan satu sama lain, padahal kenyataannya media selalu hadir bersama-sama. Kita ambil contoh bahasan fenomena pertunjukan dan seni rupa dari Sapardi. Pertunjukan adalah media. Di dalam pertunjukan. kita mendapatkan jenis media seperti musik, tulisan, bahkan film. Bergeser ke fenomena seni rupa: dalam seni rupa hari ini, bahkan kita bisa mendapatkan bunyi, aroma, gerak, sebagaimana lumrah ditemukan dalam seni instalasi. Mainlah ke ARTJOG untuk membuktikan itu, atau perhelatan lain yang mungkin mirip.Eksisnya satu media dalam media lain, membuktikan kelenturan dari konsep media itu sendiri. Semua teks kultural adalah mixed media, dan kita mulai memahami bahwa konstelasi modalitas merupakan hubungan-hubungan tensional dalam pengertian bahwa percampuran modalitas, dan tentu saja media, selalu merujuk ke konteks historis dan ideologis yang lebih luas.
Modalitas berkaitan dengan mode. Mode adalah cara mengerjakan sesuatu, dan multimodalitas tentunya adalah berbagai cara yang serempak dalam mengerjakan sesuatu. Dalam studi media dan linguistik, multimodalitas kadang-kadang mengacu pada kombinasi teks, imaji, dan bunyi, juga kadang-kadang mengacu ke kombinasi indra manusia (penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, pengecapan). Dalam konsep Gunter Kress dan Theo van Leeuwen yang diacu oleh Ellestrom, mode dipahami sebagai sumber semiotik, dalam pengertiannya yang amat luas, yang memproduksi makna dalam konteks sosial, yang verbal, yang visual, bahasa, imaji, musik, bunyi, gestur, naratif, warna, cecapan, tuturan, rabaan, dan sebagainya.
Hari ini, kita bisa merasakan bahwa satu jenis kesenian semakin membutuhkan jenis kesenian lain, baik sebagai acuan maupun—dan terutama—dalam kaitannya dengan proses intertekstual. Bukankah di Coffee at Home, antara seni mengolah kopi untuk melenakan lidah, seni mengolah bahasa atau yang kita sebut sastra, seni rupa dalam wujud lukisan, juga seni arsitektur + tata ruang tengah dan beranda, ditambah seni merancang testimoni dan jejak-jejak pelanggan via Instagram, kita temukan berpadu menjadi satu di hadapan kita? Proses tersebut penting disimak justru karena di zaman teknologi yang menghasilkan komunikasi canggih ini, berbagai jenis teks, bebas bergerak ke sana-ke mari, membentuk teks “baru”. Sebuah teks, apa pun wujudnya, pada hakikatnya hanyalah merupakan himpunan teks-teks lain yang ada sebelumnya—yang kemudian para pembaca atau penonton, dalam posisinya sebagai penerima, menjadi aktor penyusun makna berdasarkan kerterkaitan teks-teks tadi. Belum lagi, kita hadirkan di sini: bukankah mereka yang menjadi aktor di balik multimodalitas itu—Lik Arjo, Om Yusron, Tante Jeslyn, atau Kak Umi—memiliki endapan peristiwa fiksional di dalam diri mereka? Kata Sapardi: contoh dari alih wahana ini sendiri, banyak terjadi dan kita dapati sehari-hari, namun jarang kita sadari. Apakah Anda menyadari bahwa ini terjadi dalam praksis eksistensial dan marketing Coffee at Home? Coba dipikirkan.
Lebih jauh, apakah sebatas itu saja sisi alih wahananya? Relitas fiksi dalam sastra, Arjo, dan kopi, akan saya jadikan contoh yang lebih dekat lagi.
Makin ke Sisi Mental: Fiksi di Dalam dan Sekitar Kopi
Yang kita lihat dan coba cermati di balik praksis Coffee ata Home tadi, hanya sebatas sitiran untuk peristiwa fisiknya, peristiwa materialnya. Alih wahana memang menghasilkan teks-teks baru sebagai hasil perpaduan banyak teks, termasuk teks-teks kesenian. Akan tetapi, yang penting diingat adalah: meskipun alih wahana menghasilkan berbagai bentuk teks barus, bukankah alih wahana itu sejatinya terjadi dalam pikiran, sebagai respons pengalaman ringkas atau pengendapan pengalaman panjang? Yang kita saksikan, kita lihat, yang kita cerap secara indrawi dan dalam rupa materi, itu adalah hasilnya, tetapi tetap, alih wahananya terjadi dalam konteks pikiran, rasionalisasi, otak-atik gathuk yang dialami Arjo ft. Jeslyn and Baby Shark Friend, dan semacamnya lagi.
Siapa yang menjamin bahwa justru media-media atau teks-teks dalam artian umum, yang kita temukan sekarang, adalah temuan-temuan orang yang dalam tubuh dan pikirannya, ditemukan endapan pengalaman sastrawi atau fiksional? Jadi, lebih luas, spektrum alih wahana ini bukan sekadar pentransformasian satu teks sastra ke dalam teks kultural atau kesenian lain, tetapi satu teks sastra menjadi teks-teks yang lebih luas dan lebih familiar dan lebih umum, general. Hanya saja, mungkin pengalaman fiksional yang mempengaruhi alih wahana itu, tidak lagi diingat dengan baik oleh si pelaku, melainkan telah menyatu ke dalam id atau bawah sadar, yang mempengaruhi estafet kehidupan kreator, desainer, peracik, dan lainnya yang hasil karyanya kita nikmati sekarang.
Misalnya pertama,kasus Ariel, dia menikmati Kahlil Gibran, kita menikmati lagunya. Kedua,siapa yang menjamin desainer ternama dari dalam dan luar negeri, di masa kecilnya, pernah didongengkan oleh sang nenek, dibacakan cerita anak, yang menginspirasi desain-desain mereka hari ini. Kita lihat juga pada rambatan yang lebih kontemporer, semisal fiksionalitas Naruto, One Piece, Jujutsu Kaisen, atau lainnya, yang telah merambah ke aspek desain dan pakaian juga, sehingga kita mengenal fenomena cosplay para wibu yang merupakan rambatan-rambatan sastra dalam spektrum yang sudah sangat luas, ke hampir semua elemen kebudayaan.
Kita memerlukan konsep “trace” atau “jejak (ingatan)” yang diperkenalkan Marianne Hirsch dalam kajian post-memory untuk hal ini, bahwa ada jejak-jejak sastra yang hari ini muncul secara nirsadar dalam diri seseorang. Sastra, harus diingat, bergerak pada pembangunan kemanusiaan, bukan pembangunan material—ia menyusun diri, bukan gedung-gedung tinggi. Siapa yang menjamin bahwa Yusron dan Arjo justru berbuat baik, berupaya meracik kopi seenak-enaknya, tidak menaburkan rackus, sianida, atau pestisida ke dalamnya, karena ingin kopinya dicatat sebagai amal baik oleh malaikat, dan dengan demikian ia terhindar dari siksa Neraka karena dosa membunuhnya. Ia takut berdosa karena akan masuk Neraka. Ia takut masuk Neraka karena pengalaman fiksionalnya di masa kecil: buku bacaan tentang Neraka yang gemar ia bawa ke mana-mana dan ia baca di mana-mana, dua puluh kali dalam 24 jam!
Bagaimanapun, setidak berkelas apa pun puitika sastra dan gaya bahasa dari cerita siksa Neraka milik Yusron dan Arjo yang berulang-ulang mereka baca, tetap mampu memberikan pengalaman sastrawi dan pengalaman fiksional pada keduanya—yang kemudian pengalaman itu mendikte nilai (value) tindakan meracik dan “teks” bernama “kopi/minuman” yang ia hasilkan di kemudian hari—di hari ini tentu saja. Ada fiksi, dan bahkan mungkin puisi-puisi, di dalam minuman ini! Jo, ini minumanku enggak ada racunnya, kan? Ya! Ini adalah kopi terbaik karena ketakutan pada siksa Neraka! Kita bisa menyebutnya: Kopi A-Ba-Ta, bukan ABC, biar ada Arab-Arab-nya, biar ada Islam-Islam-nya!
Saya yakin-seyakin-yakinnya, bahwa kopi ini disajikan atas niat baik—dan ada campur tangan fiksi di balik sejarah panjang kopi/minuman ini. Fiksi itu, sebagai bagian dari elemen kebudayaan, turut membentuk pribadi Arjo dan Yusron menjadi pribadi yang lebih luhur-mulia dan bermartabat. Ada fenomena alih wahana berentang panjang, alih wahana yang terjeda sekian masa. Ada peran ancaman-ancaman tentang kengerian Neraka yang turut menghasilkan kopi/minuman ini—meskipun saya yakin, bukan hanya cerita kengerian Neraka yang membentuknya, tetapi juga ada potensi disusupi cerita-cerita lucah khas remaja masa pubertas. Tapi, ya terserah, itu sudah telanjur menjadi pilihan mereka, dan tidak bisa dipisahkan dari adukan kopi/minuman ini. Terakhir,mari kita doakan Arjo dan Yusron segera bertaubat—bertaubat dengan taubatan nasuha tentu saja. Sekian. Gitu aja. Maaf, kepanjangan.
Purwokerto, Juni 2025
[1] Catatan saya mengenai “Prapen Puisi #1” dapat dibaca pada laman Omong-omong.com edisi 20 Juni 2024, dalam tulisan bertajuk “Puisi dan Letupan Kesadaran Personal: Catatan Prapen Puisi”. Untuk “Prapen Puisi #2” luput saya catat lantaran alasan perjalanan ke luar kota—saya sendiri agak lupa, ke mana waktu itu.
[2] Pembicaraan lengkap dari Sapardi Djoko Damono mengenai alih wahana dapat dibaca dalam buku Alih Wahana (Gramedia, 2018)—buku tersebut juga sekaligus menjadi sumber utama rujukan pembicaraan-pembicaraan dalam tulisan ini.

Ilham Rabbani, pengajar sastra di kampus berwarna biru di Purwokerto. Dosen yang sebenarnya juga masih menjadi mahasiswa berpredikat “pria beristri dengan pengetahuan amat pas-pasan”. Omongan dan tulisannya kadang ‘ncen ra-nggenah blass. Untuk menjalin silaturahmi parsial dengannya, bisa via akun Instagram @_ilhamrabbani.





Bagaimana pengalaman menyeruput kopi bisa disejajarkan dengan pengalaman membaca atau menulis puisi?