
Kita tahu, hidup kadang di bawah, kadang juga di atas. Itu bisa kita resapi waktu naik bus umum. Kadang rebutan kursi, kadang dapat yang depan, kadang di tengah, kadang juga pasrah duduk di belakang. Dari pengalaman sederhana itu, saya menulis kalimat hasil renungan pribadi (bukan copas buku motivasi atau poster Instagram):
“Hidup ini sebuah perjalanan, bukan untuk mencari saingan.” Artinya, kita perlu menikmati hidup dengan rasa nyaman dan tenang, tanpa membandingkan diri dengan orang lain.
Masalahnya, sering kali kita justru bikin hidup seperti lomba lari. Ada teman yang nikah duluan, kita panik takut nggak kebagian jodoh. Teman lama posting liburan bersama ayang, kita langsung merasa jadi orang yang paling miskin sedunia. Padahal, hidup bukan cepat-cepatan sampai finish. Lagipula, orang yang duluan sampai finish biasanya malah… dimakamin duluan, iyaa kan?
Perlu kita resapi juga, bahwa dalam perjalanan hidup ini, pastinya kita bertemu dengan banyak orang yang berbeda-beda. Ada yang datang dan singgah sebentar, ada juga yang mau menetap agak lama atau menetap selamanya. Itu sebabnya saya berkata:
“Di mana pun kita berada, jadikan orang-orang di sekitar sebagai keluarga.”
Tujuannya, agar tidak ada kesenjangan dalam hidup, karena semuanya dianggap keluarga atau saudara. Nggak harus sedarah, tapi merasa bahwa di antara kita seperti mempunyai rasa yang dalam.
Bisa aja keluarga itu bentuknya dari teman nongkrong yang nggak pernah bosan ngutangin kita rokok, minjemin korek api atau juga seperti tetangga kost yang rela nerima paket belanjaan kita padahal dia juga sibuk dengan dunianya.
Tapi jangan pernah mengira bahwa semua orang yang datang kepada kita singgah selamanya dan merasa bahwa hidup ini selalu rame. Karena apa? Adakalanya saat di mana kita jalan sendirian, tanpa dukungan dari siapapun. Dan saya sadar betul, bahwa:
“Pada akhirnya, kesendirian adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus kita pahami dan terima sepenuh hati.”
Kalau sudah merasa apa-apa sendiri, maka anggap saja kesendirian itu sebagai ujian. Kalau di drama Korea atau drama China, banyak aktor utama berawal dari kesendirian dan cacian dari orang lain. Tapi, tanpa kita sadari, dari semua itu, mereka bisa berjuang dari kesendirian itu, dan menjadi orang yang paling disegani dalam kehidupannya. Tapi ini bukan soal drakor dan drachin, tapi bagaimana kita dapat mengambil hikmah dari kedua drama tersebut untuk diterapkan dalam kehidupan nyata, walaupun praktiknya tak mudah.
Hal ini karena, banyak dari kita menganggap bahwa sendirian dipandang seperti orang hilang yang tak mempunyai arah tujuan. Tapi kalau bisa nerima, justru di situlah letak asyiknya, dan kita dapat belajar jujur dan berjuang sama diri sendiri.
Kita juga tahu, bahwa jalan hidup itu jarang ataupun tak pernah mulus. Kadang mulus seperti jalan tol, kadang juga seperti jalanan di pedesaan yang jarang diperbaiki oleh pemerintahan daerah, yang akhirnya banyak lubangnya dan menjadi jalan yang menakutkan untuk dilewati. Di situ kita perlu pegangan hidup, bahwa dalam hidup, kita perlu:
“Bersyukur dalam kesulitan, bersabar dalam kemudahan.”
Kita juga tahu, bahwa dalam perjalanan hidup ini kalau sedang merasakan kesusahan, kita biasanya ngedumel, sambat, ataupun menyalahkan Tuhan. Tapi, kalau kita diberi kesenangan dalam hidup, eh kita malah kebablasan dan tak pernah mendekatkan diri pada Tuhan.
Padahal, bersyukur waktu susah bikin hati lebih tahan banting dan dapat membantu kita mengintrospeksi diri di mana letak salahnya, dan perlunya bersabar di waktu senang supaya dompet kita nggak jebol gegara euforia atau foya-foya tanpa batasan. Dan jangan lupa, apa pun yang kita genggam di dunia ini sifatnya numpang lewat atau seperti pepatah jawa “hidup itu seperti mampir ngombe.” Itu sebabnya saya berkata, bahwa:
“Segala yang datang dalam hidup kita, lambat laun akan pergi, dan bersifat sementara. Maka, belajarlah untuk mengikhlaskan semua yang hilang dari diri kita.”
Barang kesayangan bisa rusak, gebetan bisa pindah ke lain hati, bahkan mimpi pun bisa gagal di tengah jalan. Rasanya pahit, tapi ikhlas itu kayak minyak kayu putih: baunya aneh, tapi ampuh bikin kita cepat pulih, terutama bagi orang yang sedang merasakan lara/sakit.
Terus, apa yang bikin kita tetap terus melangkah dan berjuang? Tentu saja bukan dengan adanya ketakutan. Karena dalam hidup jangan pernah menjadikan rasa takut menghalangimu untuk terus berusaha.
“Jangan biarkan ketakutan menghalangi langkahmu, karena setiap langkah yang diambil membawa kepada sesuatu yang baru.”
Takut gagal, takut cintanya ditolak oleh seorang pria/wanita, takut miskin, semua itu hal yang wajar. Tapi kalau ketakutan dibiarkan, kita bisa jadi seperti motor mogok di tanjakan: bunyinya ribut dan berat untuk melangkah, tapi akhirnya nggak maju-maju.
Selain itu, ada hal lain yang paling sering kita lupakan, yaitu doa kedua orang tua. Banyak anak sibuk mengejar mimpinya, sampai lupa ada orang tua yang diam-diam jadi “sponsor utama” dalam hidup. Itu sebabnya saya tuliskan quotes di sini bagi pembaca:
“Jika orang tua berjuang untuk mencukupi kebutuhan dan membiayai kuliah atau keseharian anaknya, maka anaknya wajib berjuang untuk merancang masa depannya.”
Coba bayangin, mereka rela nggak beli baju baru, rela nggak makan enak, demi kita bisa kuliah, dan terus melangkah ke depan. Kalau kitanya malas-malasan, bukannya itu kebangetan banget, ya?
Dan ini kalimat yang paling bikin merinding buat saya sendiri:
“Setiap langkah seorang anak untuk mencapai masa depannya, disitulah ada doa orang tua yang selalu menyertainya.”
Kita boleh ngerasa sepi, boleh gagal, boleh ditolak oleh siapapun atas kehadiran kita, tapi ingatlah! doa kedua orang tua itu semacam sinyal WiFi: nggak keliatan, tapi selalu ada, dan sering jadi penolong di saat kita merasa kesusahan.
Saya percaya, kata-kata sederhana bisa jadi kompas kecil dalam perjalanan hidup. Semua quotes di atas muncul dari kepala, hati, dan pengalaman saya sendiri, bukan sekadar copy paste dari buku motivasi atau feed Instagram.
Karena pada akhirnya, di balik sebuah kata memang ada makna. Dan makna itulah yang membuat kita sanggup melanjutkan perjalanan, meski ban kehidupan sering bocor di tengah jalan.
Lagipula, kalau hidup ini hanya soal adu cepat, mungkin kita semua sudah capek sejak halte pertama. Untungnya, perjalanan selalu memberi jeda: bisa turun dulu, beli gorengan, minuman atau makanan, lalu lanjut lagi. Seduhan kopi, dan sebungkus rokok Tenor, membuat tulisan ini semakin bermakna.
Fatur Fahrezi, lahir di Banyumas pada tahun 2002. Saat ini sedang menempuh Magister Pendidikan Bahasa Arab di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia menulis dan mengkaji penelitian ilmiah seputar pendidikan, khususnya Bahasa Arab, pendidikan pesantren, dan kajian keislaman. Bisa di sapa melalui Ig: @faturfahrezi10_




