
Akhir bulan Agustus 2025, Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Banyumas mengunggah poster Bimbingan Teknis Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal. Dalam poster tertulis syarat dan kriteria. Di antaranya adalah mengirimkan naskah esai atau artikel dan siap mengikuti bimtek sebanyak 3 tahap. Setelah mencermati kriteria dan rencana pelaksanaan dengan seksama dengan tempo yang biasa-biasa saja, akhirnya saya mempersiapkan esai, lalu mendaftar jadi peserta.
Setelah menunggu dengan harap-harap cemas, akhirnya tibalah di hari pengumuman. “Selamat Anda LOLOS sebagai peserta”, begitu pesan yang masuk ke e-mail. Setelah itu, saya mencermati lagi akan seperti apa bimteknya. Maka mulailah timbul ekspetasi-ekspetasi atau harapan ketika mengikuti bimtek. Serta apa yang bisa saya lakukan setelahnya.
Selain membaca, bertanya, diskusi dan ngopi-ngopi, menonton podcast, bagi saya, mengikuti bimtek adalah salah satu upaya upgrade diri -biar kemampuan saya mundak (naik). Upgrade kemampuan yang sedang saya asah di usia yang masih muda ini adalah kemampuan menulis dengan baik dan benar. Selain itu, ada pengalaman lain dari proses kreatif yang bisa tercipta dari pertemuan antar manusia di bimtek.
Tibalah hari yang ditunggu-tunggu
Pertemuan pertama bimtek, yaitu hari Senin 15 September 2025. Peserta diberikan materi tentang penulisan yang sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia. Pematerinya adalah Ibu Nila, dosen kalem dan softspoken dari Unsoed. Hari itu beragam peserta yang mengikuti. Dari anak SMA, mahasiswa, dosen, budayawan, pegiat literasi dan masyarakat umum. Kami semua diajak untuk memahami kembali bagaimana kaidah menulis yang baik dan benar. Kami semua saling belajar. Tidak ada unsur menggurui. Sehingga suasana bimtek berjalan dengan penuh keakraban dan hangat. Suasana makin hangat karena di ruangan lantai 2 Gedung Arpusda di isi 60 peserta yang duduk saling merapat berdekat-dekatan. Selain materi, kita juga disuguhkan penampilan dadakan oleh Budayawan Senior Banyumas, Saeran Samsidi. Beliau membawakan beberapa parikan -puisi berbahasa ngapak. Peserta terhibur, tepuk tangan dan terbahak-bahak.
Pertemuan kedua di tempat yang sama
Satu pekan kemudian, tibalah pertemuan kedua, Selasa 22 September 2025. Hanya beberapa peserta saja yang berhalangan hadir. Namun hatinya tetap hadir, dengan menyampaikan izin kepada panitia. Itu adalah perbuatan mulia. Jika berhalangan hadir saat acara yang kita diundang atau kita ikut di dalamnya, alangkah baiknya ngasih kabar. Bukankah alat komunikasi kita sudah canggih? Atau semakin canggih alat komunikasi, manusia malah menurun kepekaanya? Bahwasannya ngga ngasih kabar itu ngga baik, apalagi ngeghosting -Gen Z, saya pinjam ya istilahmu. . .
Lanjut ke bimbingan pertemuan kedua. Pematerinya adalah Bu Wiwit, guru Bahasa Jawa yang mampu membawa suasana lebih “pecah”, bagaikan kita lagi nonton stand up comedy. Selain storytellingnya bagus, Bu Wiwit juga mampu membawa jokes dan guyonan penghalau ngantuk.
Bu Wiwit memberikan pemahaman ke peserta dengan sabar. Karena pesertanya lintas latar belakang pendidikan dan lintas zaman, dari Gen Z era Soeharto hingga Prabowo. Pertanyaan dalam benak rata-rata peserta terjawab oleh pemateri yang sangat energik itu. Apa sih bedanya “Budaya dan Kearifan Lokal?”. Materinya ada di sini. Unduh aja. Mau saya tulis, capek. . .
Pulang pertemuan kedua, perserta diberikan PR untuk menyelesaikan esai yang akan dibimbing pada pertemuan terkahir.
Hari ketiga atau hari yang ditunggu karena dapat sangu
Satu pekan telah berlalu. Satu persatu peserta mengumpulkan tulisannya. Pada pertemuan ketiga, tepatnya hari Selasa 30 September 2025 tulisan peserta dikoreksi satu persatu dengan sabar oleh pemateri, yaitu Bu Nila dan Bu Wiwit, —alhamdulillah beliau-beliau sabar dan baik hati. Semuanya saling belajar. Saya salut, 80% peserta menyelesaikan bimtek dengan baik, semangat dan gembira. Tulisan dikumpulkan, dan kelak akan dibukukan. Makin keren ih. . .
Sebuah harapan
Melihat bimtek kepenulisan budaya lokal yang sudah berjalan, serta melihat sumber daya penyelenggara –Dinas Arpusda, ada beberapa harapan untuk penyelenggaraan acara serupa.
Pertama, adanya dukungan kurikulum bacaan untuk peserta. Melihat koleksi buku dan arsip di Dinas Arpusda, ada tim materi yang memberikan rekomendasi bacaan. Baik itu buku, jurnal maupun arsip. Sehingga tidak akan ada pengulangan tulisan dalam konten yang sama dan sudut pandang yang sama. Dengan seperti itu, akan menambah kekayaan pustaka masyarakat Banyumas.
Kedua, adanya TOR (Term of Reference) yang memperjelas bahwasannya tulisan yang dihasilkan adalah hasil studi pustaka, penelitian di lapangan atau komparasi. Mengingat jeda pertemuan pertama, kedua dan ketiga cukup panjang. Jadi tulisan yang dihasilkan tidak sekadar reportase, melainkan hasil penggalian yang lebih mendalam.
Ketiga, adanya satu benang merah yang menjadi acuan: konten budaya dan kearifan lokal apa yang akan dituliskan. Misalnya fokusnya adalah sejarah desa-desa di Banyumas. Peserta yang mengikuti, diterjunkan ke desa-desa untuk menuliskan sejarah desa tujuan. Meskipun hasil kajiannya tidak mendalam, setidaknya bisa menjadi “gerbang awal” penulisan selanjutnya. Bisa juga khusus untuk penulisan kuliner khas Banyumas. Tim materi melakukan inventarisir kuliner yang ada di Banyumas. Kemudian peserta melakukan studi pustaka dan studi lapangan. Hasilnya dipublikasikan sebagai upaya untuk membantu promosi UMKM kuliner khas Banyumas.
***
Penulisan budaya dan kearifan lokal yang ditulis sendiri oleh masyarakat lokal, mungkin akan subjektif. Tapi hasil tulisannya akan terasa lebih dekat. Tidak ada jarak antara penulis dan yang dituliskan. Berbeda jika yang meneliti adalah orang luar. Jangan sampai malah orang luar lah yang mendefinisikan kebudayaan kita.
Menuliskan budaya kita, bukan sekadar memindahkan ke dalam kata-kata. Hal itu adalah upaya merawat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sehingga keterjagaanya sampai ke generasi selanjutnya. Kebudayaan adalah sebuah “emas” tak benda yang perlu kita jaga sebagai jati diri dan nilai diri.

Editor in Chief bilfest.id | Pekerja Teks Komersial.





Sekadar formalitas
Akutu mengikutinya dengan sungguh-sungguh tauk. Dengan segenap daya dan upaya secara maksimal dan merata.
Aku ngikutinnya dg penuh tawa di barisan paling belakang.
Maafkan kami yg bikin gaduh peserta yg pada fokus. Wk
Ngga papa mas, ketawa bahagia bikin awet muda