Dari Otodidak Bertumbuh Jadi Otodidik

Hawa terik menyeruak saat kami sampai ke Cindaga. Siang itu tujuan utama perjalanan kami adalah ke sebuah bengkel mobil. Kami ingin bertemu dengan pemiliknya. Semoga beliau tidak lupa, kalau siang ini selepas Salat Jumat, kami akan ke sana. Sebenarnya kami belum sempat kenal sebelumnya, hanya lewat Mas Reza dari YDBA Banyumas perantara komunikasinya. Kami hanya menerka-nerka lewat data di internet yang seadanya tentang orang dan tempat yang akan kami tuju. “Semoga nanti sesuai harapan”, kata kami.

***

Mobil kami melaju dari Ajibarang menuju Cindaga, Kebasen, Banyumas. Di perjalanan, Mas Neo sempat bercanda, “Apa nanti tanya sekalian soal aki mobil ya, buat bahan obrolan”. Beberapa hari yang lalu, mobilnya Mas Neo tidak bisa di starter, aki-nya sudah bermasalah. Perjalanan kami siang itu diwarnai drama dorong mobil setelah mampir Salat Jumat.

***

Cuaca di luar memang sedang terik, setelah Banyumas beberapa hari diguyur hujan. Tapi di dalam bengkel mobil yang kami datangi, tidak seperti bayangan sebuah bengkel mobil yang panas dan pengap. Angin masuk melalui bagian depan bengkel yang memang terbuka. Dinding bengkel juga tidak tertutup sampai atas. Memberikan banyak kesempatan untuk angin menari keluar masuk, membawa hawa sawah dari belakang masuk ke dalam. Aroma sawah saling bertukar dengan percikan mata gerinda. Saat kami masuk, terpampang jelas nama bengel Primamitra Auto Service dan deretan foto yang menandakan binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA).

***

“Kami mau bertemu Mas Adi”, setelah bersalaman dengan salah satu karyawan di sana. Lalu ia masuk ke ruangan samping ruang costumer service tempat kami bertemu dengan karyawan tadi.

“Oh ya. . . ya”, terdegar dari luar suara yang kemungkinan itulah sosok yang ingin kami temui. Ia memakai kaos hitam yang kompak dengan semua karyawan di bengkel, Mas Adi menemui kami dengan sapaan ramahnya. Ia mempersilakan kami masuk ke ruang depan. Ruangan kaca yang kami di dalamnya tetap bisa melihat aktivitas bengkel. Bahkan angin masih bisa masuk melalui atas. Jadi tanpa perlu menyalakan kipas angin, apalagi AC.

***

Di antara nyaringnya gerinda, bersahutan dengan hentakan mesin impact, dan bunyi ketukan teratur dari suara body atau casis mobil, kami memulai obrolan di ruang kaca depan bengkel. Meskipun di ruangan 3×3 itu diisi 7 orang, tidak ada rasa sumpek. Suara Mas Adi juga lantang dan jelas. Dari pengalamannya berkomunikasi dengan berbagai macam pelanggan, membuatnya terbiasa menjelaskan dan menanggapi dengan runut apa yang ingin kami ketahui.

Dari Ngopi-ngopi dan keinginan upgrade diri

“Bangunan di pojokan itu awal mula bengkelnya mas, tidak dirombak, sebagai kenang-kenangan”, Mas Adi menunjuk sebuah bagian belakang bengkel. Tahun 2009 berkat hobinya di dunia otomotif, menjadikan awalnya tempat cuci motor dan mobilnya akhirnya menjadi bengkel mobil. “Sebenarnya saya bukan lulusan mesin, saya lulusan manajemen. Tapi karena hobi dan belajar sana-sini, akhirnya memberikan diri buka bengel dengan menjual mas kawin untuk modal awal.”

Mas Adi sejak awal merintis usaha bersama istrinya. Ia tidak one man show. Ketika Mas Adi dan karyawan bergerak di lapangan, istrinya mengatur manajemen dan keuangan. “Saya dan istri berembuk dengan keluarga untuk menggunakan mas kawin sebagai modal usaha. Karena waktu itu, banyak pelanggan cuci mobil dan motor menyarankan bisa ganti oli juga. Akhirnya makin terpacu untuk membuka bengkel”.

Kami penasaran sejak kapan tahu tentang YDBA. Kemudian ia melanjutkan ceritanya. “Awalnya saya dan teman-teman pengusaha bengkel itu sering kumpul bareng. Ya hanya untuk saling bertukar pikiran dan ngopi-ngopi. Group WA-nya saja “Dagelan”. Tapi dari situlah saya bisa menambah ilmu tentang dunia bengkel. Termasuk kenal dengan YDBA”, ujarnya saat bersama kami.

Ia bercerita tentang bolak-balik ke Yogya untuk ikut pelatihan di Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) YDBA, bahkan sampai berkunjung ke LPB Waru. Karena salah satu LPB terbaik ada milik YDBA. Mas Adi berkelakar sudah tidak terhitung berapa kali ia mengikuti LPB. Berderet sertifikat pelatihan berjejer di dinding samping ruangan customer service. Menurutnya, perbedaan pelatihan di LPB YDBA adalah mentor yang selalu rajin untuk mengingatkan. Dan akhirnya bisa menjadi binaan yang sudah mandiri.

Dari awalnya ia otodidak dalam menjalankan bisnis bengkelnya, bersama YDBA ia menjalankan dengan otodidik. “Perbedaan sebelum dan sesudah ikut LPB ya itu, dari awalnya otodidak, jadi otodidik”, ujar ayah 3 anak ini. Hal itu terlihat dari pernak-pernik yang ada di bengkel. Kita yang bukan pelanggan saja bisa tahu, mobil yang terparkir di dalam sana, sedang dalam proses apa. Jadi pelanggan tidak perlu banyak bertanya.

5 R adalah melawan budaya

Ciri khas dari UMKM binaan YDBA adalah tentang menerapkan 5 R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin). Menurut Mas Adi, meskipun hal itu sulit sekali untuk menerapkan. Tapi perlahan bisa diterapkan.

Ia menggambarkan bahwa menerapkan 5 R dalam usahanya seperti menanam tanaman. Ia harus mempersiapkan sejak lahanya, hal yang paling dasar. “Jadi kita bangun dari mentalnya terlebih dahulu, tidak serta-merta langsung kita instruksikan, karena kita akan melawan budaya. 5 R itu isinya kaya Jepang bangetlah mas, kan sangat berseberangan dengan yang sudah kami jalani di bengkel sebelumnya”.

Di Primamitra 5 R diterapkan dalam semua aspek. Tidak hanya perawatan alat yang dihitung penurunan nilainya. Tapi juga layanan terhadap pelanggan. “Saat mobil datang, kita akan analisis dulu. Pelanggan menyampaikan keluhan lalu kita cocokkan dengan kondisi mobil. Lalu kita ajukan apa saja yang dikerjakan, cek stok onderdil kalau misalnya ganti, termasuk estimasi biayanya. Setelah disetujui, baru kita eksekusi”.

Layanan di Primamitra Auto Service memang “ngopeni” pelanggan. Karena kendaraan setelah selesai, akan ditanyakan ulang kondisinya setelah 3 hari, kemudian 7 hari, satu bulan, dan seterusnya. Hal itu sebagai bahan evaluasi. Kalau kembali lagi pelangganya, berarti mereka puas. Dan bisa jadi membawa pelanggan lain.  

Kita tidak hidup selamanya

Mas Adi dan istri menyiapkan bengkel bisa diwariskan. Apalagi anak pertamanya yang sekarang kuliah sudah menyukai mesin seperti dirinya. Selain menyiapkan untuk diwariskan kepada anak-anaknya, ia juga tidak menutup diri kepada para karyawan jika ingin berkembang.

Pelatihan di LPB YDBA tidak hanya untuk owner, tetapi juga untuk karyawan. Mas Adi tidak khawatir jika kelak ada karyawannya yang bisa buka bengkel sendiri. Dirinya malah bangga. Kelak bisa saling bantu jika ada overload pelanggan.

Selain “ngopeni” pelanggan, ia juga “ngopeni” karyawan. Karena ia berpandangan jika kelak ditanya, “Karyawanmu saat bekerja, kamu suruh apa saja mereka?”. Hal itulah yang mendasari pemikirannya bahwa apa yang dilakukan di dunia ini, akan berdampak kelak di akhirat.

Kami ajarkan juga kepada karyawan, jika kita melayani dengan setulus hati, pelanggan akan menerimanya dengan setulus hati juga, dan jika mobilnya ada kendala, beralih dari Primamitra akan berat hati.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top