Membaca TEMPO 1989: “Jejak Guru Cilongok yang Ngojek”

Ternyata akar permasalahan 37 tahun yang lalu, belum selesai. Majalah TEMPO No 24 Edisi 12 Agustus 1989 dalam “Kolom Pendidikan”, menulis tentang dua orang guru. Kolom itu berjudul “Antara Martabat dan Ngojek”. Guru itu adalah Ichwanto dan Mujib. Guru di SMP Muhammadiyah 11 Cilongok yang menyambi ngojek pangkalan.

Read More »

5 Alasan Logis Saya Nonton Dracin Gratis di Platform Asia Box Drama

Drama China atau yang kerap disebut dengan dracin, akhir-akhir ini ramai diperbincangkan oleh banyak orang. Tak hanya Gen Z saja yang menikmati dracin, melainkan semua kalangan dan generasi ternyata banyak juga yang menikmati kemeriahan dracin. Drama pendek yang menawarkan kisah kehidupan yang kerap kali dekat dengan keseharian kita, mulai dari tema romansa, kehidupan rumah tangga, persahabatan, dan peperangan dan lain-lain. Di banyak platform, tersaji beranekaragam dracin atau drama-drama pendek. Akan tetapi tak jarang ditemukan platform-platform yang masih banyak mengandung iklan yang membuat penonton merasa terhalangi oleh iklan-iklan tersebut. Sewaktu menonton

Read More »

Mozaik Kanon: Eksploitasi Kepercayaan, Manusia Beraroma, dan Bercakap Diri

Pada momentum kali ini, Mozaik Kanon akan menghadirkan sekilas tanggapan atas tulisan fiksi yang sudah terbit pada minggu lalu. Ada tiga tulisan fiksi pada minggu lalu, tepatnya tanggal 30-31 Mei 2026. Dimulai dari cerpen berjudul “Menggantung Babi di Pohon” karya Liliyi Tirta Rasy asal Purbalingga. Selanjutnya butir-butir puisi karya Sindra Djauhari asal Surabaya yang terhimpun dalam “Surabaya Pulang Kerja dan Puisi Lainnya”. Kemudian tulisan puisi dari Miftah Fauzi Subagyo asal Bekasi yang terkumpul dalam “Monolog Bisu dan Puisi Lainnya”.

Read More »

Mozaik Kanon: Romantisasi Senja, Mengulang Semoga, dan Kita Terbengkalai

Pada Mozaik Kanon kali ini, kita akan mengakrabi karya fiksi yang sudah tayang pada pekan kemarin. Lebih tepatnya pada Sabtu-Minggu, 23-24 Mei 2026. Ada cerpen “Sisa Senja di Saku Kiri” karya Dyan Uki Widyatmaja. Kemudian sekumpulan puisi “Tempo Hari dan Puisi Lainnya” karya Doli Mayok. Lantas yang terakhir, sekawanan puisi “Gentayangan dan Puisi Lainnya” karya Eki Saputra.

Read More »

Mozaik Kanon: Parenting, Melihat Indonesia, dan Kawin

Mozaik Kanon kali ini kita berjumpa dengan tiga karya fiksi yang sudah dimuat di bilfest.id pada minggu lalu. Lebih tepatnya, pada tanggal 16 dan 17 Mei 2026. Ada cerpen karya Abdi Galih yang berjudul “Dongeng Peri Kapuk”. Ada juga puisi reka cipta dari Dali Daulay yang dikemas dalam “Di atas Kertas Kalkir dan Puisi Lainnya”. Ada pula puisi olahan Hisyam Billya Al-Wajdi yang di-packing dalam “Sajak Perkawinan dan Puisi Lainnya”.

Read More »

Kuliah Fleksibel Sesuai Gaya Hidup Modern di Universitas Terbuka Purwokerto

Di era digital, pendidikan tinggi tidak lagi bisa dipahami sekadar ritual datang ke kampus, duduk di kelas, lalu pulang membawa tugas. Dunia berubah terlalu cepat untuk sistem pendidikan yang berjalan lambat. Hari ini, banyak orang ingin kuliah tetapi terbentur pekerjaan, jarak, ekonomi, atau tanggung jawab keluarga. Maka pertanyaannya bukan lagi “siapa yang pintar”, melainkan siapa yang punya akses. Di titik itulah Universitas Terbuka Purwokerto menjadi menarik untuk dibicarakan, karena ia hadir membawa ide bahwa pendidikan seharusnya menyesuaikan hidup masyarakat, bukan masyarakat dipaksa menyesuaikan sistem pendidikan. Di Purwokerto dan wilayah Banyumas

Read More »

Mozaik Kanon: Lelaki Simpanan, Manusia Modern, dan Potret Sosial

Ketiga karya tersebut masing-masing menawarkan insight yang menarik. Banyak yang bisa didapatkan dari ketiga karya tersebut. Masing-masing pembaca punya refleksinya sendiri akan ketiga karya tersebut. Karena pada dasarnya setiap karya jika sudah di tangan pembaca, siapapun berhak untuk mengambil nilainya, memaknainya, dan menafsirkannya.

Read More »

Mozaik Kanon: Serba-serbi Kehidupan

Kembali lagi kita pada Mozaik Kanon: bentuk apresiasi sederhana kepada penulis fiksi di bilfest.id yang tayang di hari Sabtu dan Minggu, serupa tepuk tangan dan tanda terima kasih telah turut memanjangkan napas literasi – di Banyumas pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya – melalui website bilfest.id. Dalam Film Gladiator (2000) – sesaat sebelum melangsungkan pertempuran – di atas kudanya, Maximus Decimus Meridius berkata: “What we do in life echoes in eternity.”

Read More »
Scroll to Top