Mozaik Kanon: Lelaki Simpanan, Manusia Modern, dan Potret Sosial

Salam sejahtera untuk kita semua, baik pembaca maupun penulis di bilfest.id yang semoga senantiasa dalam belai kasih-Nya. Jumpa lagi kita dalam Mozaik Kanon. Semacam lambaian tagan dari Tim Redaksi yang semoga bisa rutin untuk menyapa teman-teman semua, sembari mengupas tipis-tipis karya-karya fiksi yang sudah tayang di bilfest.id. Meski masih banyak kurangnya, tapi kami mencoba berusaha untuk bisa menemani teman-teman menyesap hari Jumat yang khidmat.

Mozaik Kanon kali ini, akan mengupas tipis-tipis tiga karya fiksi pada minggu kemarin, tepatnya tanggal 9 dan 10 Mei 2026. Tiga karya tersebut ada cerpen dari Aloysius Germia Dinora yang berjudul “Bekal untuk Sephia”, puisi dari Adnan Guntur yang terbungkus dalam “Catatan Administrasi Hujan dan Puisi Lainnya”, dan satu karya lagi berupa puisi dari Sheren yang terbalut dalam “Juli Moekadji dan Puisi Lainnya”.

Ketiga karya tersebut masing-masing menawarkan insight yang menarik. Banyak yang bisa didapatkan dari ketiga karya tersebut. Masing-masing pembaca punya refleksinya sendiri akan ketiga karya tersebut. Karena pada dasarnya setiap karya jika sudah di tangan pembaca, siapapun berhak untuk mengambil nilainya, memaknainya, dan menafsirkannya.

Lelaki Simpanan

Cerpen berjudul “Bekal untuk Sephia” karya seorang pekerja NGO lingkungan, yang juga petani sayuran dan walet menyuguhkan kita cerita seorang laki-laki yang memasak makanan untuk dijadikan bekal bagi perempuan yang sudah berkeluarga. Seorang perempuan yang selalu mengeluh tentang pasangannya. Hematnya, kurang lebih laki-laki pembuat bekal ini seumpama lelaki simpanan. Lelaki pembuat bekal, menjadikan masakannya sebagai simbol untuk mengakhiri hubungan gelap antarkeduanya. Bekal ini adalah tanda perpisahan dariku.

Dalam cerpen ini tak ada dialog sama sekali. Penulis hanya mendeskripsikan secara naratif sosok aku yang sedang menyiapkan bekal untuk Sephia. Sosok aku sembari menyiapkan bekal secara tidak langsung dia sedang dalam ritual mengenang Sephia. Seorang perempuan yang bersuami dan punya anak, namun masih membutuhkan sosok aku yang dijadikan pelengkap hidupnya. Barangkali cerpen ini akan lebih cetar lagi ketika dikasih dialog, utamanya dialog antara sosok aku dan Sephia.

Selain itu, hal ihwal Sephia memilih sosok aku sebagai pelengkap hidupnya mungkin bisa digoreng lebih matang lagi, sehingga bisa menjadi titik loncat untuk klimaks cerita. Tapi secara umum cerpen ini cukup menarik, karena membawakan informasi mengenai khasiat-khasiat makanan. Tentu hal ini berangkat dari profil penulis yang memang dekat dengan ragam sayur-mayur. Barangkali ini yang menjadi pemicu penulis untuk nginpo masseh tentang beragam manfaat sayur dan bumbu dapur akan tetapi tidak semata nginpo pada umumnya, melainkan via cerpen.

Manusia Modern

Adnan Guntur – seorang pendiri Saung Indonesia (Sastra, Pertunjukan, dan Rumah Kreatif), juga aktif berkegiatan di Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) – membawakan kita puisi-puisi yang termaktub dalam “Catatan Administrasi Hujan dan Puisi Lainnya.” Dalam puisi ini kita banyak menjumpai diksi-diksi yang berkelindan dalam lanskap fenomena kota. Mulai dari halte, tiket bioskop, klakson, hingga baliho dll. Seperti, / kududuk di bangku halte, adzan berbicara panjang tapi kakiku melenggang tanpa melihat Sepatu /.

Namun secara keseluruhan puisi-puisi ini lebih bertemakan tentang potret kehidupan manusia modern. Seumpama manusia modern yang sisi spiritualitasnya telah terdistraksi oleh teknologi dan kebisingan kota: / doa-doa itu, terbang sesekali /. Hidup manusia modern digambarkan oleh penulis seperti halnya / kita hidup di dalam notifikasi /. Dalam sehari semalam, manusia modern meloncat-loncat dari notifikasi satu ke notifikasi berikutnya. Hal ini yang membuat mereka mudah tejungkal-jungkal dalam rihlah spiritual.

Puisi-puisi cukup menantang jika dikaji lebih dalam. Dari segi bahasanya saja, puisi ini menggoda untuk dibaca-renungi. Seperti, trotoar mengunyah langkah, tubuhku membayar nota dirinya sendiri, lampu putihmu menyetrika bayangan dan lain sebagainya. Silakan bagi teman-teman yang hendak membaca ulang langsung saja sikat di bilfest.id

Potret Sosial

Selanjutnya kita dihadapkan dengan jamuan “Juli Moekadji dan Puisi Lainnya” dari Sheren – seorang mahasiswa Sastra Indonesia yang juga bergabung dalam komunitas literasi dan bekerja paruh waktu sebagai pewara. Puisi yang disajikannya memotret kehidupan sosial di masyarakat. Dari tukang sabung ayam, pria hidung belang, hingga tragedi di Cilacap pada tahun 1947.

Dalam puisi “Ayam Bangkok Jagoan” di sini tergambar ironi masyarakat. Disebutkan, // Si tukang sabung ayam dan, / Penolakannya pada lintingan cerutu, / Si tukang sabung ayam dan, / Hinaan untuk lemak gurih babi yang tabu, / Si tukang sabung ayam dan, / Bicara halal haram sholat di rumah //. Ironinya, meski doyang menyabung ayam, tapi dia tetap mengharamkan makan babi dan tetap menunaikan salat juga, pun bicara halal-haram tak ketinggalan. Saya jadi teringat akan cerita maling muslim yang lebih memilih maling ayam daripada maling babi. Sewaktu ditanya, kenapa demikian? Jawabnya singkat, “Ya karena ayam itu halal dan babi itu haram”. Padahal cara mendapatkan ayamnya pun sudah haram, karena mengambil harta orang lain tanpa izin.

Selanjutnya, ada pula potret tragedi di Cilacap tahun 1947 yang oleh penulis dituliskan dalam puisinya yang berjudul “Juli Moekadji”. Tragedi yang dimaksud adalah Bumi Hangus Kota Cilacap yang terjadi pada bulan Juli 1947, bertepatan dengan dimulainya Agresi Militer Belanda I. Peristiwa ini merupakan aksi heroik TNI/ALRI bersama rakyat Cilacap membakar fasilitas penting kota agar tidak dikuasai Belanda. Penlis menuliskan, / Toha si peledak amunisi sepertinya gentayangan, / Ia bilang pada Moekadji dan sejawatnya, / Operasi bumi hangus boleh dipertimbangkan. //.

Tabik,
Tim Redaksi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top