Mozaik Kanon: Makhluk Pungutan dan Tubuh sebagai Medan Spiritual

Teman-teman pembaca bilfest.id yang budiman, selamat datang kembali pada Mozaik Kanon: semacam ruang kecil-kecilan yang menampilkan ulasan singkat mengenai tulisan yang tayang di bilfest.id pada hari Sabtu dan Minggu. Kali ini tulisan yang akan diulas tipis-tipis (setipis dompet di akhir bulan) adalah cerpen “Secarik Kertas” karya Kim Al Ghozali AM dan puisi “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 4)” karya Abdul Wachid BS. Kedua tulisan tersebut tayang pada tanggal 28 Februari & 1 Maret 2026.

Dalam cerpen “Secarik Kertas”, bisa dijumpai banyak isu dan topik yang bisa dibahas dan dikuliti. Beberapa di antaranya adalah, topik tentang fluiditas gender, tubuh sebagai subjek dan objek, kelas sosial, kaum akar rumput, dan pemungut serta dipungut. Mungkin yang paling kinclong (sekinclong ompreng MBG saat masih baru) dari cerpen ini adalah topik gender atau identitas. Namun, kami akan mengulas tentang pungutan (tukang pungut yang dipungut).

Sementara dalam puisi “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 4)”, digambarkan seonggok tubuh yang dijadikan sebagai medan spiritual. Tubuh di sini tak hanya diartikan sebagai raga yang menopang keberlanjutannya kehidupan, melainkan ruang gerak dan medan tempur pergulatan spiritualitas aku lirik. Hanya saja di sini ada satu puisi yang memikul spirit lain (lebih dominan pujian/maddah) dari kawanannya. Meski spirit-spirit dalam kelima puisi di sini bermuara pada samudera spiritualitas. Satu puisi tersebut adalah puisi berjudul Surat kepada Baginda Nabi.

Makhluk Pungutan dalam “Secarik Kertas”

Cerpen ini dari awal menarik karena sudah mendobrak-dobrak pintu akal kita. Secarik Kertas yang bertuliskan ihwal yang absurd dan membingungkan sekaligus membagongkan membuat pembaca berdiam diri untuk membacanya kembali, berulang kali. Tulisan tersebut berisikan ketidakpastian identitas atau gender. Tentang perempuan, laki-laki, dan atau tidak keduanya. Pembaca diajak menanyakan ke diri masing-masing tentang identitasnya dan diajak melihat fenomena gender di sekitar. Dalam cerpen ini, perempuan dan laki-laki tidak jauh berbeda. Keduanya bisa saling bertukar peran. Bahkan dalam lanskaps seksualitas. Hal ini tampak dari sosok Wan yang kemudian semcam dikerubungi oleh perempuan, diikat dan digotong.

Cerpen “Secarik Kertas” tak hanya menyinggung persoalan identitas gender. Melainkan menyinggung manusia sebagai subjek sekaligus objek. Aktor utama, yakni Wan, berstatus sebagai seorang pemungut atau tukang pungut. Namun, di akhir cerita Wan justru menjadi seumpama barang pungutan. Dia menyerahkan dirinya untuk dipungut oleh sekawanan perempuan dan beberapa laki-laki. Bagi kami, cerpen ini cukup filosofis. Istilah tukang pungut bisa menjadi perlambangan dari peranan manusia di muka bumi sebagai subjek, makhluk yang suka mengambil, yang bekerja, bereksplorasi, bereksperimen, dan mengeksploitasi dan lain sebagainya. Namun, di sisi lain, manusia juga barang pungutan. Dipungut oleh nasib dan keadaan.

Mungkin penulis kelahiran Probolinggo satu ini, sedang memprovokasi pembaca untuk bertanya kepada dirinya masing-masing. Pertanyaan seputar identitas diri dan tentang status manusia. Apakah manusia benar-benar mampu untuk selamanya memungut nasibnya, memungut setiap keinginan-keinginannya? Atau justru manusia sebenarnya dipungut oleh realita kehidupan? Alih-alih memungut stafsus kepresidenan, namun justru dipungut oleh dapur MBG untuk dijadikan algojo cuci ompreng atau eksekutor racik-racik.

Tubuh sebagai Medan Spiritual dalam “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 4)”

Puisi ini, hemat kami memperbincangkan tubuh atau raga yang dijadikan sebagai medan spiritual. Tak hanya sebatas seonggok tulang dan daging yang dikasih ruh belaka. Tubuh atau bagian darinya dalam puisi-puisi ini menjadi perantara atau medium penyaluran hasrat spiritualitas aku lirik. // Aku merasa, seolah tubuh ini / lebih dari sekadar daging dan tulang, / lebih dari sekadar kenyamanan tidur. / Ia menyimpan kisah / seperti sebuah buku yang belum selesai dibaca //.  Sebelum itu, disebutkan dulu, // terbaring tubuh yang lelah, / tapi hatiku tak bisa diam. //. Di sini aku lirik merasa hatinya tak bisa diam untuk selalu membaca tanda-tanda dari Tuhannya. Membaca tubuhnya yang seumpama buku yang belum selesai dibaca.

Di lain bait dituliskan, // tak ada kata-kata yang mampu mengobati / kesalahan-kesalahan yang kutinggalkan / di tubuh ini //. Tubuh yang selama ini kita pakai untuk melakukan kerja-kerja positif, produktif, inovatif, dan kreatif juga tak lain adalah tubuh yang sama saat melakukan kerja-kerja negatif. Maka sudah sepantasnya kita selalu meminta pengampunan untuk tubuh dan anggota badan kita yang terlanjur sudah menuai hal negatif.

Aku lirik di saat muda sangatlah percaya diri. Tak gentar dengan segala jenis makanan maupun minuman. Namun, bila umur sudahlah berbicara, hanyalah doa-doa – untuk senantiasa sehat – yang terus dipanjangkan. Kesehatan menjadi barang mewah yang tak bisa sekadar ditukar-dijualbelikan. // Tubuhku dulu adalah janji, / setiap sendi berbisik lembut / pada malam yang tak pernah lelah / menunggu datangnya pagi. //. Saat muda rasanya kehidupan masihlah panjang dengan badan kuat dan serba bisa untuk melakukan kerja-kerja yang melahirkan keringat. Sejauh apapun jarak akan dilipat selagi kuat. Begitulah kurang lebih pikiran-pikiran yang berserakan dalam kepala pemuda-pemudi. Sampai tiba masanya, // Sekarang, lututku gemetar, / seperti rindu yang tak pernah terbalas. // Penulis pun menyisipkan pesan ibundanya, // “Jaga tubuhmu, anakku, karena waktu tak pernah kembali.” //.

Tabik,
Tim Redaksi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top