
Selamat menikmati akhir pekan para pembaca bilfest.id. Berjumpa kembali dengan Mozaik Pekanan. Sebuah mozaik yang merespon tulisan yang tayang di bilfest.id dari hari Senin sampai dengan Jum’at. Mozaki Pekanan kali ini merespon terhadap esai dari Cahyo Aji Saputra, resensi dari Devon Richard Hafids Fadhillah Purba, esai dari Guntur Awal, esai dari Bayu Aji Prayoga dan esai dari Ahmad Dahri.
Nama-nama penulis di atas termasuk yang sering tayang di bilfest.id untuk bertemu dengan para pembaca. Sebagai bentuk respon supaya terus bertumbuh, Tim Redaksi membedahnya lalu menuliskan Mozaik Pekanan ini.
Membedah Organisasi
Cahyo Aji Saputra sebagai seorang yang berada di dalam sebuah organisasi, mengamati lingkungan tempatnya berada. Ia menuliskan beberapa model komunikasi dalam sebuah organisasi. Lalu itu memberikan sebuah auotkritik terhadap praktik sebuah organisasi yang menjalankan model instruksional. Ia menyoroti sebuah praktik yang lebih banyak instruksional dari pimpinan ke anggotanya dalam sebuah organisasi kemasyarakatan. Tidak banyak membuka ruang diskusi dan dialog. Padahal sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan seharusnya lebih mengutamakan partisipatif yang kritis dan objektif bagi pimpinan dan anggotanya.
Ia juga menuliskan dampaknya, bahwa organisasi yang seperti itu akan condong reaktif dan emosional jika menanggapi sebuah permasalahan atau isu yang menyangkut organisasinya. Baginya, memahami persoalan sebuah organisasi sebaiknya memahami secara mendalam, bukan mencari pembelaan dan pembenaran yang kuat.
Tanpa menyebut nama organisasi tertentu, bagi Tim Redaksi adalah cara menuliskan yang bijak. Sehingga apa yang dituliskan bisa untuk siapa saja. Pelaku organisasi siapapun dan di manapun.
Membedah Cara Meresensi Buku
Secara alur penulisan resensi buku, bilfest.id tidak memiliki aturan baku. Tim Redaksi hanya memberikan aturan terkait jumlah kata dan aturan normatif lainnya. Namun perlu menjadi pemahaman bahwa, meresensi buku adalah upaya untuk memperkenalkan buku kepada calon pembaca. Tulisan resensi buku tidak hanya dipahami oleh penulisnya. Namun penulis mampu mengirimkan pesan ajakan yang menarik perhatian calon pembaca. Sehingga buku yang diresensi, mendapat tempat oleh calon pembaca atau masuk dalam list calon buku bacaan.
Tim Redaksi memberikan saran kepada Devon Richard Hafids Fadhillah Purba untuk menuliskan resensi sebagai jembatan bagi calon pembaca. Jembatan yang mempermudah, terutama bagi pembaca pemula.
Bisa juga saat meresensi buku, kita memberikan pandangan lain terhadap pandangan penulis buku. Ataupun kritik, meskipun itu bukan hal yang lazim dilakukan oleh peresensi.
Membedah Cara Kuliah
Memilih menjadi mahasiswa dengan mengambil jurusan sosial-humaniora mungkin banyak yang akhirnya mengalami seperti Guntur Awal. Namun berbeda dengan mahasiswa jurusan kesehatan atau kedokteran. Di beberapa tempat jurusan sosial-humaniora atau keguruan memang lebih terkesan “santai”.
Nah, kesan “santai” itulah yang bagi Guntur Awal menjadi sebuah jebakan. Padahal sistem kuliah yang fleksibel adalah cara bagaimana orang dewasa belajar. Ia menjadi subjek utama. Memang ada aturan normatif dari kampus. Namun mahasiswalah yang sepenuhnya memegang kendali: akan mengikuti peraturan dengan sungguh-sungguh atau tidak?
Tulisan dari Guntur Awal ini bisa menjadi alarm yang bisa dibunyikan, saat menjadi mahasiswa yang punya kendali penuh, namun terjebak dalam kendalinya, hingga tidak terasa tenggelam dalam kehidupan yang santai dan malas. Tanpa berbuat apa-apa selama menjadi mahasiswa.
Saling Membedah
Ketika Tim Redaksi menerima tulisan yang menanggapi sebuah tulisan yang sudah tayang, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Bagi kami, ada dialektika pikiran yang terbangun setelah membaca bilfest.id. Namun Tim Redaksi tidak membangun ekspektasi apapun terhadap isi tanggapan. Dalam benak kami, untuk saat ini ada respon dari pembaca adalah sebuah pencapaian naik level, setelah pencapaian tulisan di bilfest.id dibaca.
Ketika Bayu Aji Prayoga menulis tanggapan atas tulisan NZ Sapta tentang seni, bagi kami adalah sebuah keberanian yang patut diapresiasi. Perkara mereka saling kenal atau tidak, itu wilayah lain. Tapi bagi bilfest.id yang menjadi bagian dari ekosistem literasi yang sedang di bangun di Banyumas Raya, ini bagikan secercah harapan. Ada gemericik dialektika tulis yang bisa kami tampung. Sehingga ada sebuah adagium dari kami, “Kirimkan tulisanmu ke kami, kami ceritakan kepada dunia”. Biarkan dunia meresponya, sebagai bagian dari upaya pembentukan sebuah ekosistem pemajuan zaman.
Membedah Kebahagiaan
Ahmad Dahri atau Lek Dah termasuk penulis yang sering mengisi di bilfest.id melalui esainya kali ini, Ia membedah tentang pendidikan dan kebahagiaan. Lek dah membedah krisis eksistensial dalam dunia pendidikan modern yang cenderung terjebak pada capaian administratif dan angka, sehingga kehilangan ruhnya sebagai proses penempaan kesadaran batin.
Lek Dah mengkritik fenomena “pabrik capaian” yang melahirkan generasi yang lihai meraih gelar namun gagap dalam mengenali dirinya sendiri, serta menegaskan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah hasil akhir yang bersifat dekoratif, melainkan sebuah proses “tahu diri” yang harus dipelajari terus-menerus. Kritiknya juga tentang kebahagiaan yang menitik beratkan pada capaian angka yang sebenarnya semu.
Ia menuliskan bahawa dengan landasan ajaran Ing Ngarso Sung Tuladha hingga konsep Ziarah Diri, ia mengajak pembaca untuk merekalibrasi makna belajar. Dalam belajar bukan tentang siapa yang paling cepat sampai di puncak, melainkan tentang siapa yang paling sadar sedang berjalan dan mampu mengejawantahkan ilmu ke dalam laku hidup yang utuh.
Demikianlah bedah tulisan dalam Mozaik Pekanan ini. Semoga menjadi jembatan bagi penulis, pembaca dan kami untuk terus-menerus belajar tiada lelah, tiada henti.

dari Banyumas menyapa Indonesia




