Kebebasan di Dunia Kuliah: Antara Peluang dan Jebakan Rasa Malas

Saat itu tepat bulan Agustus 2024 silam, waktu di mana saya baru saja menapaki bangku perkuliahan. Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, sampai tidak terasa sudah memasuki semester empat di tahun 2026 ini. 

Saat awal masuk dalam dunia perkuliahan saya diikutsertakan dalam kegiatan PBAK (Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan) selama kurang lebih 7 hari, dengan porsi 4 hari pengenalan universitas dan sisanya dipergunakan untuk pengenalan fakultas. Kegiatan tersebut diwajibkan karena di dalamnya akan dikenalkan dengan berbagai fasilitas yang ada pada universitas maupun fakultas beserta peruntukannya bagi mahasiswa, selain itu kami turut serta berkenalan langsung dengan stakeholder, decision maker yang ada pada ranah universitas maupun fakultas secara langsung.

Waktu kurang lebih 1 minggu yang diberikan itu, saya manfaatkan dengan semaksimal mungkin. Selanjutnya objek keingintahuan saya yakni terhadap beliau–beliau yang nantinya menjadi pelayan kita pada ranah universitas maupun fakultas, dari mulai struktural birokrasi universitas hingga ranah fakultas. Kendati demikian, bila nantinya saya mendapatkan suatu kondisi, tidak bingung dan bimbang mau menindaklanjuti dengan siapa dan alurnya bagaimana. 

1 minggu pasca pengenalan budaya akademik kemahasiswaan, tibalah saatnya kegiatan belajar mengajar dimulai. Saat pertama kali saya memulai dengan sikap keluguan dan rasa ingin tahu yang tinggi bagaimana kegiatan KBM terjadi pada kelas, apakah sama dengan yang di sekolah yang dulu pernah saya rampungkan, ataukah berbeda. Pada jeda mata kuliah pertama, saya mulai berkenalan dengan teman sekelas, tak lain tak bukan dengan tujuan membangun chemistry sekaligus menjalin tali persaudaraan.

Pasalnya teman–teman di universitas cakupannya lebih luas daripada karib saat duduk di bangku SMA, pada bangku menengah atas dalam hal pertemanan, paling jauh jangkauan tempat tinggalnya tidak sampai beda pulau atau provinsi, berbeda dengan pertemanan pada universitas yang cakupannya bahkan sampai beda negara. Enak bukan?, jadi kita bisa mengetahui budaya dan ciri khas dari daerah lain yang belum kita ketahui.

Satu bulan berlalu semenjak hari pertama masuk kuliah itu, diri pribadi merasakan hal yang sering dilabeli sebagai culture shock, apa itu?, gampangannya kita merasakan cemas, bingung, dan tidak nyaman karena dilatarbelakangi pada perbedaan aktivitas dan kegiatan, biasanya ia hadir di fase adaptasi pada lingkungan dan situasi baru. Tidak begitu buruk, pasalnya lama kelamaan pasti bisa melewati fase tersebut.

Nah, pada esai kali ini saya akan sedikit berbagi cerita bagaimana saya bisa melewati fase culture shock pada awal–awal memasuki dunia perkuliahan serta bagaimana caranya saya merespon dan menghadapi fase culture shock tadi.

Pada 1 bulan pertama masuk perkuliahan, reaksi yang timbul dari diri ini ialah tumbuh rasa malas, karena saya meyakini hal yang melatarbelakangi adalah karena waktu pembelajaran yang ada dalam dunia perkuliahan memang fleksibel. Berbeda saat di bangku menengah atas, yang notabenenya kegiatan belajar mengajar sudah di-setting sedari jam 07.30 pagi – 16.00 sore, sangat jomplang dan butuh adaptasi bukan?. Nah, untuk merespon hal tersebut saya mencoba mengembalikan rutinitas saya duduk di bangku menengah atas, yakni saya tetap berangkat pagi dengan maksud mencegah rasa malas itu datang menghampiri.

Dari hal di atas yang membedakan terletak pada tujuannya. Oleh karena itu, dari yang biasanya sudah menjadi aturan dan kewajiban, saat ini saya membiasakan berangkat pagi dari rumah dengan maksud ikhtiar menunggu mata kuliah berlangsung sembari saya menyibukan diri, biasanya menyempatkan berkunjung ke perpustakaan atau hanya duduk–duduk di depan kelas sembari mempelajari materi yang akan dipresentasikan dan didiskusikan di kelas nanti. 

Karena jam mata kuliah yang se-fleksibel itu, kadang saya bisa pulang dan beristirahat dulu di rumah, ini yang saya yakini menjadi faktor penyebab  munculnya rasa malas. Dalam menyikapi hal tersebut, saya mencoba mencari kegiatan yang ada di kampus, salah satunya dengan bergabung pada perkumpulan-perkumpulan kegiatan mahasiswa maupun bergabung dalam suatu organisasi kemahasiswaan. Lain daripada itu, kita juga bisa mencari dan menyibukan diri untuk berlatih berniaga atau berlatih bekerja dengan sistem kerja paruh waktu (Part Time).

Pasalnya saya sempat memikirkan juga statement orang–orang yang ada di sosial media, kuliah itu ibarat nongkrong atau yang lebih sarkas lagi pengangguran dengan gaya. Mungkin persepsi tersebut akan benar adanya apabila dari kita pribadi terus menerus menambah dan memperkuat faktor yang mengakibatkan kemalasan. Karena yang saya rasakan pada semester-semester awal pada dunia perkuliahan tidak banyak adanya tuntutan yang disandarkan ke diri kita, yang ada hanyalah sikap kedewasaan kita yang dipertaruhkan dan pilihan-pilihan yang memang untuk menentukan ke masa mendatang kelak.

Dari pernyataan di atas, mengubah cara saya melihat dan memutuskan untuk memilih mengisi kekosongan pada saat jeda matkul dengan cara bergabung pada organisasi kemahasiswaan, yang saya dapatkan dari dari organisasi tersebut yakni banyak diadakannya forum–forum diskusi bebas, yang di mana bisa menjadi pemantik serta menuangkan ide-ide dan gagasan dalam diri pribadi, lain daripada itu tindak lanjut dari diskusi bebas tersebut terkadang membuahkan terselenggarakannya kegiatan–kegiatan yang memang ditujukan ke khalayak umum sebagai bentuk implementasinya. Pada forum diskusi–diskusi bebas tersebut, sering saya gunakan untuk mendiskusikan terkait mata kuliah yang akan dan telah dilalui, pasalnya saya mendapatkan banyak amunisi pengetahuan yang berguna  dalam diskusi kelas.

Terakhir, culture shock yang saya rasakan adalah kebiasaan mencatat materi pada saat matkul yang kian melebur seperti baju yang kian kehilangan aroma minyak wanginya. Untuk membangkitkan habits tersebut, dan untuk memperbanyak menulis, dari yang biasanya saya mencatat hasil diskusi dan poin-poin penting di kelas langsung menggunakan buku catatan, sekarang saya menggantinya dengan potongan kertas folio yang ditumpang tindihkan pada alas binder.

Hal tersebut saya maksudkan agar bisa dicatat ulang, sembari kembali membuka materi dari ppt. Selain itu, saya sambil mempergunakan google untuk menjadi tools pelengkap penyusunan materi pada buku catatan saya. Kendati demikian, dengan cara seperti itu diri ini akan dituntut kembali membuka laptop, membaca potongan-potongan folio serta berjibaku dengan sejumlah peralatan alat tulis yang dipergunakan dalam penyusunan kembali dari catatan yang telah didapatkan pada pembelajaran di kelas. Dan juga, agar tidak cepat rebahan yang mengakibatkan ngantuk dan berakhir tidur, bila sudah di rumah.

Maka dengan semua hal yang sudah dijelaskan di atas dapat dilaksanakan dan terjadwal dengan baik, insyaAllah saya dan yang membaca tulisan ini pada aspek produktivitas akan bertambah, serta menghambat dan memutus faktor-faktor yang menyebabkan rasa malas. Karena jika dalam hikayat lama banyak mengatakan “hal yang paling sulit ditaklukan adalah menantang rasa malas yang bersarang pada diri kita sendiri”, serta meniatkan, percaya akan kalimat yang menyatakan saya menyadari bahwa tantangan terbesar di awal kuliah bukan pada sistemnya, tetapi pada kemampuan kita mengelola diri sendiri, yakni salah satunya kita bisa mengontrol dan mengalihkan rasa malas tersebut.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top