Merti Bumi di Lereng Gunung Slamet: Menjaga Alam Lewat Tradisi

Masyarakat di kaki Gunung Slamet bagian selatan, khususnya di wilayah Kecamatan Baturraden masih sangat memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di sekitar mereka secara bijaksana. Sebagian besar dari mereka menggantungkan kehidupan sehari-hari  pada hasil alam seperti pertanian, perikanan, perkebunan, dan pengelolaan hutan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pemanfaatan tersebut dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan agar sumber daya alam tersebut dapat terus dinikmati oleh generasi selanjutnya. 

Masyarakat sendiri memiliki cara khusus untuk menjaga kelestarian lingkungan agar sumber daya alam bisa terjaga dengan baik. Melalui tradisi kebudayaan yang dipertahankan secara turun-temurun oleh para leluhur, masyarakat masih melaksanakan tradisi Merti Bumi sebagai kegiatan yang dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada alam. Tradisi ini menjadi bentuk ungkapan rasa syukur sekaligus upaya menjaga keseimbangan alam melalui serangkaian ritual dan kegiatan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Merti Bumi bukan sekadar ritual adat biasa, melainkan juga sebagai bentuk pelestarian alam di tengah perkembangan teknologi yang semakin modern. Masyarakat di kaki Gunung Slamet menyatukan rasa syukur, harapan, serta tanggung jawab  dalam tradisi Merti Bumi sebagai wujud nyata masyarakat menjaga lingkungan dan ekosistem yang menopang kehidupan mereka. 

Merti Bumi berasal dari kata ‘metri’ atau ‘memetri’ dalam bahasa Jawa yang berarti memelihara.  Merti Bumi merupakan upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada bulan Muharam dalam kalender Hijriah atau bagi orang Jawa disebut bulan Suro antara hari Jumat Manis, Sabtu Manis, atau Minggu Manis. Tradisi Merti Bumi dilaksanakan oleh kelompok Kewargian Lemah Wangi dan masyarakat Desa Ketenger.

Selain masyarakat setempat, tradisi ini turut menghadirkan berbagai pemuka agama, pegiat budaya, pemerintah setempat, dinas sosial, dan peneliti budaya. Pada pelaksanaannya, masyarakat menyediakan persembahan berupa hasil bumi, makanan tradisional, serta berbagai macam sesaji sebagai simbol kehormatan kepada alam dan leluhur sekitar kaki Gunung Slamet. Perangkat utama dalam kegiatan ini adalah sesaji, terdapat kurang lebih 200 jenis sesaji yang dihasilkan dari alam dan masing-masing mempunyai makna filosofis maupun ajaran kehidupan.

Bentuk kegiatan Merti Bumi antara lain kirab hasil bumi yang berisi padi, palawija, dan buah-buahan. Selanjutnya kegiatan seremonial memperkenalkan kegiatan Merti Bumi dan situs-situs Lemah Wangi kepada para tamu undangan dan peserta kegiatan. Kegiatan dilanjutkan dengan asung sesaji merupakan prosesi menyiapkan dan meletakkan sesaji yang sudah disiapkan ke tempat berdoa dan meditasi sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur setempat. Masuk ke kegiatan inti yaitu ritual, doa bersama, dan meditasi di Situs Lemah Wangi, meditasi dilaksanakan sesuai dengan kepercayaan masing-masing dengan menghormati adat istiadat setempat, turut hadir juga berbagai pemuka agama yang tersebar di wilayah Banyumas. Kegiatan dilanjut dengan pelepasan burung dan ikan di curug dan ditutup dengan syukuran bersama serta pertunjukkan seni Lengger Banyumasan. 

Selain sebagai bentuk rasa syukur, upacara ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan. Secara budaya, tradisi ini turut memperkuat identitas lokal dan menjaga kesinambungan warisan leluhur. Bagi masyarakat di sekitar Gunung Slamet, alam bukan hanya tempat hidup, melainkan juga bagian dari identitas budaya yang harus dipelihara. Salah satu aspek paling menonjol dari Merti Bumi adalah kesadaran terhadap lingkungan yang tumbuh di masyarakat. Tradisi ini menjadi momen untuk menjaga kelestarian alam, mendorong masyarakat agar lebih waspada terhadap kerusakan lingkungan yang ditempati. Melalui Merti Bumi masyarakat diajak melakukan kegiatan pelepasan burung dan ikan sebagai simbol perbaruan ekosistem dan upaya konservasi alam. Upacara ini juga mengandung ajaran untuk tidak merusak dan memanfaatkan alam secara berlebihan sehingga keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Selain berfungsi sebagai ritual adat, Merti Bumi juga menjadi media literasi budaya dan lingkungan. Pada masa modern seperti sekarang, tradisi ini mendorong generasi muda untuk memahami dan mengapresiasi nilai-nilai kearifan lokal yang mendukung pelestarian alam. Tradisi ini juga memiliki tujuan sebagai penyampaian pesan terkait pentingnya manjaga alam terutama alam yang menjadi tempat tinggal kita baik secara lisan maupun melalui simbol-simbol yang ada dalam ritual. Tradisi ini juga mempererat hubungan sosial antarwarga, membangun solidaritas dan rasa memiliki atas alam yang menjadi sumber kehidupannya. Dengan demikian, pelestarian alam bukan sekadar tugas individu, melainkan komitmen bersama yang diwariskan turun-temurun melalui Merti Bumi.

Upacara adat Merti Bumi di kaki Gunung Slamet adalah contoh nyata tradisi budaya dapat berperan penting dalam pelestarian alam. Melalui ritual ini, masyarakat tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga melestarikan ekosistem yang menopang kehidupan mereka sehari-hari. Merti Bumi mengajarkan bahwa alam dan budaya adalah satu kesatuan yang saling mendukung. Pelestarian lingkungan bisa dilakukan dengan cara yang bermakna dan memiliki akar budaya yang kuat. Dengan menjaga tradisi ini, masyarakat di sekitar Gunung Slamet menunjukkan komitmen mereka menjaga alam sebagai sumber kehidupan tanpa melepaskan jati diri budaya. 

Berbagai lembaga pemerintah dan organisasi budaya pun berupaya mendukung keberlangsungan tradisi ini. Pendokumentasian, penyuluhan, dan pelibatan komunitas dalam pengelolaan lingkungan sekitar Gunung Slamet menjadi strategi penting untuk menjaga agar Merti Bumi tetap hidup dan relevan. Kegiatan ini mengundang berbagai elemen masyarakat luar, termasuk komunitas budaya, birokrasi, paguyuban, dan tokoh agama. Semua agama diundang untuk hadir, menunjukkan nilai Pancasila. Selain itu, pengenalan tradisi kepada wisatawan sebagai bagian dari promosi pariwisata budaya juga menjadi peluang menarik untuk meningkatkan kesadaran luas akan pentingnya pelestarian alam dan budaya. Ini memberi harapan bahwa masyarakat di kaki Gunung Slamet mampu menjaga harmoni dengan alam sambil melestarikan identitas budaya yang kaya dan unik.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top