Jarak yang Berbisik dan Puisi Lainnya

Tidak Pernah Selesai

Terdiam aku di antara kenangan yang masih terasa,
Ingatan tentangmu datang tanpa diminta, meninggalkan luka yang tak biasa,
Di persimpangan hati aku kehilangan arah, tapi kau pergi tanpa sepatah kata,
Aku bertanya, namun jawaban tak pernah ada,
Kini yang tersisa hanyalah hampa meski hati belum rela.

Pernah kupikir kita akan sampai bersama,
Episodemu singkat, tapi menyisakan ruang yang tak bisa siapapun jaga,
Rinduku tertahan tak sanggup kurasa,
Nyatanya cinta tak selalu berakhir bahagia, meski awalnya penuh bunga,
Aku belajar menerima walau masih ada tanya,
Hilangmu jadi tanda bahwa cinta bisa selesai yang hanya meninggalkan luka.

Sejauh apapun kujalani waktu, rasamu tetap diam di sudut kalbu,
Entah sampai kapan, aku masih mencari jawaban yang tak kunjung kutemu,
Luka ini mungkin takkan pernah benar-benar sirna di relung jiwa,
Engkau adalah kisah yang tak bisa kuulang, meski terhapus oleh lara,
Sekali lagi, kuucap doa agar bahagiamu nyata meski tanpaku dalam genggam,
Aku ikhlaskan, walau cinta ini masih menggantung dengan kelam,
Ingatanku padamu hanyalah sisa, jejak cinta yang pergi dengan kejam.

***

Sulung Tanpa Nama

Di pundak terpikul harapan dari sang buaian jiwa,
Setiap langkahnya diawasi dalam sunyi penuh tanya,
Sang penuntun dengan bebanan raga sangat terasa,
Harus cemerlang bagai gugus cahaya di angkasa.

Dari bangku kecil hingga remaja belia,
Benteng ilmu menjadi tuntutan tak terapalkan,
Harus bersaing, harus mampu buktikan daya,
Dalam tatap mata sarat makna dan harapan.

Angan melipat harapan terus datang menggerogoti raga,
Langkah demi langkah terus terlewati dengan luka,
Namun damba dalam relung jiwa takkan pernah sirna,
Satu jalan lagi akan ditempuh dengan penuh percaya.

Takdir akhirnya membuka gerbang yang lega,
Sulung yang mampu membuktikan diri untuk melangkah,
Bukan sempurna tanpa goresan luka,
Namun gigih dan utuh walau dunia mengeluh.

***

Laras Jiwa

Luruh cahaya menari dari tatap matanya,
Ada sepi yang tumbuh lembut di balik rasa,
Rahasia yang tersimpan dalam nada tanpa suara,
Alam hatinya berdenyut lembut seperti senja,
Sunyi pun tunduk pada hangat jiwanya.

Jemari waktu memetik gema yang terus bernada,
Ia menulis rasa dengan denting harmoni kala kata tak bermakna,
Walau dunia hanya diam, hatinya hangat menyapa,
Ada kasih yang bernaung di balik sepi yang sama.

***

Jarak yang Berbisik

Langkahku tertatih di pagi yang sepi,
Masih setia berdiri, tapi tak pernah rela untuk pergi,
Ingin rasanya menahan waktu yang terus berlari,
Agar rumah tetap bisa kupeluk lagi.

Di ambang pintu kutitipkan rindu,
Pada senyum ibu yang menyimpan sendu,
Pada tatap bapak yang diam berdoa,
Meski bibirnya tak kuasa berkata.

Kota menyambut dengan gemerlap diri, namun cahayanya tersimpan sunyi,
Tanpa sadar jalan asing kususuri, walau hanya terlihat tawa asing tanpa henti,
Dan aku, masih menyimpan rindu yang tak pernah terbagi.

Hari-hari terasa seperti jam yang berdetak tanpa henti,
Di sela letih, keramaian telak menelanku,
Sementara aku,
Belajar bertahan dengan mi instan dan peluk yang kurindu.

Namun, dari segala letih dan sepi aku tahu,
Bahwa jarak bukanlah penghalang kasih sayangmu,
Bahwa perjalanan menuntunku kembali bersamamu,
Menempa diriku agar senantiasa siap melindungimu.

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top