Ilusi

Perihal pertama yang dilakukan Owne ketika kembali dari masa lalu adalah ingin bertemu ibunya karena tepat dia kembali tiga jam sebelum ibunya meninggal. Owne terbangun di tempat tidur kamarnya dengan tubuh yang lebih muda sepuluh tahun. Kepalanya pusing, kamar serasa berputar saat Owne terjaga. Membuat perut mual seperti mabuk kendaraan. Setelah dirasa membaik dan pandangan kabur menyilaukan kembali normal, mata Owne terhenti pada kalender menunjukan tanggal 23 November 2015. Owne menyadari bahwa pukul 16.05 WIB pada waktu itu ibunya akan mengalami hal tragis, kecelakaan ketika mengantar pesanan catering.

Owne keluar dari kamar, mencari keberadaan ibunya tetapi nihil. Hanya beberapa pegawai sedang sibuk bekerja pada perusahaan katering milik keluarga Owne. Salah satu pegawai yang sedang mengemas pesanan memberitahukan Owne bahwa ibunya sedang mengantar pesanan katering tidak jauh dari rumah.

Tahun itu, usaha katering keluarga Owne sedang berkembang. Owne menikmati masa muda dengan penuh kecukupan, dimanjakan dengan fasilitas yang diberikan orang tuanya. Owne adalah anak tunggal dan apa yang diinginkan selalu terpenuhi. Semua berubah seratus delapan puluh derajat ketika ibu Owne meninggal. Usahanya bangkrut, ayah kandung Owne menikah lagi. Komunikasi ayah dan anak tidak harmonis karena Owne lebih dekat dengan ibunya.

“Ibu tadi baru saja pergi mas,”
“Kemana Mbak?”
“Jalan pengkolan Gang II. Rumahnya ibu Asri yang anaknya mau sunat. Tahu kan mas? Nanti depan Gang ada janur. Nah itu nanti masuk.”

Tanpa banyak bertanya Owne bergegas. Ditungganginya sepeda motor miliknya. Ia tahu betul di mana letak kunci motor disimpan dan di mana motor itu terparkir karena tahun itu adalah hobi Owne memodif sepeda motor.

Sebelum sepeda motor menyala, Owne mengirim pesan pada ibunya karena beberapa kali menelpon, tidak terjawab. Ia sempat mengambil ponsel yang tergeletak berdekatan dengan kunci kontak sepeda motor miliknya. Owne mengirim pesan agar ibunya jangan melakukan apa-apa. Jika sedang di dalam mobilnya, Owne menyuruh memarkirkan kendaraannya dan jangan sampai mobil itu berjalan.

Tolong ibu jangan kemana-mana atau hal buruk akan menimpa ibu. Tunggu Owne datang. Cuma sampai lewat jam 16.05 saja. Kalau sampai lewat jam itu Owne belum datang, ibu boleh menyalakan mobil.

Owne tancap gas, dia percaya akan merubah takdir buruk ibunya. Waktu masih menunjukan pukul dua, secara matematis Owne akan tiba di lokasi ibunya sebelum waktu sial itu.

Terlintas di lamunan Owne kembali melihat dengan mata kepalanya sendiri, ibunya tersambar sepeda motor ketika menyeberang jalan. Saat itu Owne berada dalam mobil, mengantar ibunya untuk mengirim pesanan catering. Ia sedang asik bermain game di ponsel, duduk di kursi kemudi. Lalu terdengar bunyi klakson panjang diikuti suara benturan keras. Owne mematung, pandangannya langsung menuju ke sumber suara, ponsel yang dipegang terjatuh, Ia melihat ibunya tergeletak di bahu jalan.

‘Tinnnnn.’ Suara klakson mobil mengagetkan Owne, memaksanya untuk melajukan kendaraan karena lampu hijau sudah cukup lama menyala.

Ibunya Owne tidak menaruh banyak curiga pada pesan yang baru saya dikirim Owne. Ketika akan membalas pesan, ponsel ibunya Owne berdering. Ada panggilan masuk dari ibu Asri.

“Bu. Tas ibu ketinggalan. Biar nanti anak saya antar ke rumah ibu ya.”
“Tidak usah bu, biar saya ambil saja. Saya masih di jalan depan rumah ibu. Untung saja, belum jalan. Tunggu ya bu, saya jalan ke sana.”
“Oh iya bu, hati hati.”

Mobil terparkir di jalan raya depan kompleks ibu Asri. Gang akses menuju rumah ibu Asri ditutup karena jalan gang dipakai untuk tenda acara sunatan, mengharuskan Ibu Owne memarkirkan mobilnya di seberang jalan Gang.

Kendaraan cukup ramai, banyak sepeda motor dari kedua arah saling melaju. Saat itu hujan baru reda. Sepeda motor yang berteduh serentak turun ke jalan, berhamburan melanjutkan perjalanan. Bulan November dengan musim penghujannya membuat jalanan aspal tampak basah dan licin. Jalanan licin tidak menciutkan nyali para pengendara motor. Melaju cepat, jalanan berubah layaknya sirkuit dengan banyak yang tidak menghiraukan keselamatan.

Ibu Owne kesulitan menyeberang jalan. Para pengendara tidak ada yang mau mengalah. Suara klakson saling bergantian, berbunyi ketika ibu Owne mencoba melangkah masuk ke badan jalan. Tidak ada celah untuk menyebrang. Sebagai pejalan kaki di kota harus mempunyai keberanian ekstra, jika tidak mereka akan terampas haknya di jalan.

Ibu Owne sebenarnya sudah mematuhi aturan, menyebrang pada zebra cross tetapi pengendara yang melintas sedikit pun tidak menghirau, melaju tanpa mengurangi kecepatannya. Dari arah kanan ibu Owne melintas sepeda motor, melaju mendekat dengan kecepatan penuh seperti tidak melihat ada orang menyeberang.

Sepeda motor itu sama sekali tidak mengurangi kecepatannya, hingga jarak tujuh meter, pengendara itu terlihat panik baru menyadari bahwa di depannya ada penyebrang jalan, ialah ibu Owne. Pengendara itu mulai menarik tuas rem, tetapi dengan jarak yang terlalu dekat membuatnya tidak stabil menyebabkan sepeda motor melaju zig-zag mendekati ibu Owne. Kejadian yang begitu cepat itu hanya membuat respon pejaman mata ibu Owne, seperti pasrah menerima takdir yang akan diterimanya. Sepeda motor itu terjatuh karena licinnya jalan setelah hujan. Meluncur layaknya papan sky dan berhenti menabrak trotoar jalan diikuti benturan yang cukup keras.

Masih dua persimpangan lagi untuk menuju lokasi ibu Owne. Perasaan Owne sudah buruk setelah lamunannya kembali pada kejadian yang sudah dialami Owne. Perasaan sakit menerima kenyataan melihat ibunya meninggal tepat di depan matanya. Lamunan itu menorehkan luka yang sama, membangkitkan kesedihan Owne. Kesedihan yang merubah seluruh kehidupan Owne setelahnya.

Terlihat kerumunan dari arah depan Owne yang tidak begitu jauh. Owne melihat jam di pergelangan tangan kirinya lalu menambah kecepatan kendaraan.

“Masih jam tiga, mana mungkin!” Batin Owne.

Semakin dekat, dia melihat mobil ibunya terparkir, dan tidak jauh dari situ, sejumlah orang bergumul. Pada sekitarnya, pecahan plastik dari badan motor berhamburan di jalan. Orang-orang itu mengelilingi korban kecelakaan. Darah segar tercecer, orang-orang di sana semakin penasaran dengan korban yang seharusnya membutuhkan oksigen lebih banyak tetapi para penonton tidak mengerti dan lebih merapatkan badan, berlomba melihat apa yang terjadi dengan korban kecelakaan. Ada dari mereka malah merekamnya dengan kamera ponsel, layaknya seorang reporter berita.

Tibalah Owne, segera menyimpan sepeda motornya pada pinggiran jalan. Owne menerobos masuk kerumunan.

“Tidak mungkin bu. Owne datang untuk menemui ibu.” Batin Owne sambil berusaha menyingkirkan orang-orang yang bergerombol dengan tangannya.

Setelah hampir di barisan depan. Owne melihat korban kecelakaan berbaring tidak berdaya. Korban kecelakaan yang menghantam trotoar bukan ibu Owne melainkan pengendara sepeda motor yang hendak menabrak ibunya.

Owne sedikit reda, walaupun masih ada kekhawatiran karena belum bertemu dengan ibunya. Tak lama, Owne terkejut karena ada yang menarik pundaknya. Setelah menoleh dilihatnya Ibu kandung yang selama ini sangat dirindukannya.

“Ibu.” Owne berucap dengan langsung memeluk penuh haru.
“Kenapa kamu di sini?” Tanya ibu Owne.
“Owne rindu ibu.” Jawab Owne yang masih memeluk erat ibunya.
“Sudah-sudah ibu tidak apa-apa. Ibu selamat, sepeda motor itu sama sekali tidak mengenai ibu. Lalu, maksud pesan kamu apa anakku?”
“Ayo bu kita pulang, nanti Owne jelaskan sambil jalan pulang.”
“Sebentar Owne, ibu mau ambil tas dulu. Tas ibu ketinggalan di rumahnya bu Asri.”
“Sudah bu, tinggal saja. Atau besok biar Owne yang ambil. Sekarang pulang dulu saja.” Owne memaksa.
“Kenapa sih kamu. Itu loh rumah bu Asri dekat situ. Tinggal nyebrang sudah sampai.”

Owne mengalah pada ibunya. Dia pun mengikuti, mengantar untuk mengambil tas milik ibunya. Pada kesempatan itu, Owne bercerita sembari berjalan. Dia menceritakan dirinya kembali dari masa lalu. Owne merangkum semua pengalaman hidupnya selama sepuluh tahun ke depan termasuk kecelakaan tragis yang akan menimpa ibunya dan kebangkrutan usaha katering keluarganya.

Hal yang tidak masuk akal bagi ibu Owne. Ibu Owne hanya mendengarkan saja semua cerita anaknya walaupun dengan sangat penasaran karena begitu detail Owne menceritakannya. Seolah semua itu memang telah terjadi di masa depan.

“Gimana ibu ini, tas mahal ditinggal-tinggal.” Bu Asri memecah penasaran Ibu Owne.
“Iya bu. Terlalu asik menggosip tadi kita.”
“Hahaha. Eh, ada Owne. Tambah ganteng aja bujang ibu. Eh, Maure ada di dalam, mau ketemu?”

Owne hanya tersenyum. Mendengar ajakan ibu Asri.

“Kenapa jadi pendiam sekali si ganteng ini?” Ibu Asri tertawa ramah. Mereka kembali berbincang, sementara Owne diam dan selalu melihat jam tangannya.
“Ibu ayo kita pulang, sudah mau jam empat.” Owne sedikit memaksa ibunya untuk pulang.
“Masih siang. Hmm, atau biar ibu tinggal dulu di sini.” Ibu Asri membujuk.
“Sepertinya bujang saya sudah bosan Bu Asri, lagi pula sudah banyak tamu di sini. Saya pamit dulu ya bu.”
“Saya tidak bisa memaksa kalau sudah seperti itu. Maure, Owne mau pulang sini salam dulu.” Ibu Asri memaksa anak gadisnya yang kebetulan melalui mereka.

Kekhawatiran Owne tergambar jelas pada raut wajahnya, tidak bisa disembunyikan. Mereka berjalan menuju mobil yang terparkir di seberang jalan. Suasana jalan saat itu sudah sedikit lenggang. Bekas kecelakaan beberapa menit lalu pun hanya menyisakan serpihan plastik yang pecah dan goresan aspal. Orang-orang mungkin sudah melupakannya, kembali sibuk dengan urusannya masing-masing.

Owne menarik napas panjang, mereka sudah berada di dalam mobil. Owne sengaja meninggalkan motornya, prioritas dia adalah mengantar ibunya untuk pulang. Dilihatnya kembali jam tangan Owne, tepat pukul 16:10 WIB. Dia menoleh ke arah ibunya yang duduk di samping kemudi sambil tersenyum penuh lega, lalu menyalakan mobil.

Lampu lalu lintas di arah depan menunjukan perintah untuk jalan, ketika mobil mereka mulai melaju. Owne langsung memotong jalan masuk ke ruas kanan untuk menyebrangi persimpangan, dia hanya memperhatikan lampu lalu lintas yang ada di depannya tanpa melihat kaca spion belakang sedang melaju truk yang sama-sama berharap mendapatkan lampu hijau.

Rem truk besar itu tidak bisa langsung menghentikan lajunya walaupun sopir sudah menginjak penuh pedal rem. Benturan tidak bisa dihindarkan, truk besar itu menabrak mobil yang dikemudikan Owne dari arah belakang kemudian mendorongnya, dan menabrak kendaraan lain yang sedang mengantri melintasi perempatan sore itu.

Kedua kendaraan itu ringsek dan beberapa kendaraan lain yang terlibat benturan. Sopir truk masih tersadar dengan kaki terjepit dashboard. Dia meringis kesakitan, suara musik pada pemutar musik dashboardnya masih menyala dengan lagu hits tahun itu. Pemutar musik di dashboard menunjukan pukul 16:10.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top